Ketika Kata Menjadi Mata

Menjadi penulis adalah sebuah mimpi sekaligus cita-cita. Bukan karena ingin menjadi terkenal. Namun, ingin menorehkan simfoni kebaikan di antara liukan kata yang tergores. Menjadi penulis adalah keniscayaan setiap manusia yang gemar berbagi makna kehidupan. Bahkan, menjadi penulis telah terpatri dari bangku TK hingga kini. Penulis adalah seorang senjata yang mampu membom dunia. Tak hanya daerah kecil seperti Hiroshima dan Nagasaki. Namun, Penulis mampu membom seluruh jagat raya. Bahkan, bisa menghantarkan para indahnya syurga yang abadi.


Jikalau begitu, tak ada yang tak ingin menjadi penulis. Termasuk aku.

Aku adalah makhluk yang ingin terus menulis. Berharap kataku menjadi mata. Dan tulisanku menjadi berkah. Dakwah adalah keniscayaan setiap umat muslim. Dan, dakwah bisa terkokohkan lewat tulisan. Tulisan seorang penulis.

Seorang ulama-ulama Islam terdahulu bahkan mampu menulis berjilid-jilid buku dalam satu hari. Tengoklah Imam Syafi’I hingga Imam Hassan Al-Banna. Mereka menulis untuk cinta. Cinta akan kebenaran dan pengharapan akan ridha Allah SWT. Berawal dari situ, aku berdiri. Menanamkan azzam, menguatkan ikhtiar dan mencari peluang. Ya, untuk menjadi penulis. Ketika kata menjadi mata.

Menebar kebaikan dan hikmah bisa dengan berbagai cara. Termasuk dengan menulis. Ada sebuah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang esensi dakwah terhadap umat muslim.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (TQS. As-Shaff: 10-11).” Begitu pentingnya berdakwah. Dan. Lewat tulisan, merupaan bagian dari aksi nyata seorang muslim meraih perniagaan yang dapat menyelamatkan.

Pena seorang penulis laksana moncong sebuah pistol. Jika salah “menembak”, sebutir peluru atau lebih akan bersarang di tempat yang tak semestinya. Dan, dengan “moncong pistol” itulah, saya berusaha berbagi peluru untuk menumpas kejahatan. Meskipun masih dengan tenaga tembakan yang terlalu pelan, namun aku yakin suatu saat nanti akan tercipta “tembakan” yang dahsyat. Untuk itulah, aku berusaha mencari dan mencari arti sebuah peluang. Dan, bermuaralah sampan kehidupanku pada sebuah organisasi kepenulisan di kawasan Jatinangor-Bandung.

Berharap mampu menjadi bagian perubah peradaban ke arah yang lebih baik, aku bergabung dengan FLP Jatinangor. Aku yakin, ikhtiar ini Insya Allah tidak akan mengecewakan. Dan, menjadi sebuah kebanggaan pribadi ketika setahap targetku bisa tercapai. Ya, bergabung dengan organisasi kepenulisan yang berasaskan nafas-nafas Islami.

Setiap umat Muslim adalah da’i. dan setiap da’i wajiblah untuk berdakwah dan menebar ilmu. Dan, tentunya mungkin dengan pena akan jauh lebih efektif di banding dengan ceramah atau tabligh akbar. Dengan pena, seorang penulis dapat langsung mengenai hati sang pembaca “heart to heart”. Dan, sungguh itulah seni berdakwah.

Dakwah pun tak mengenal waktu dan tempat. Di mana kaki berpijak, disitulah kita sebagai umat Muslim harus berdakwah. Meskipun kita ada di Kutub Utara atau di Kutub Selatan, dakwah adalah keniscayaan. Tidak ada waktu yang terlewat kecuali harus diisi dengan dakwah ke jalan Allah SWT.

Dan, seorang penulis adalah da’i. Kata-kata yang ia keluarkan umpama cahaya yang menerangi kegelapan. Kata-kata itu begitu ber-ruh, mampu menggerakkan hati dan menggugah jiwa. Kata-kata yang sanggup memompa semangat.

Di ujung pena seorang penulis, kebenaran dapat ditegakkan dan kejahilan mampu dimusnahkan. Di ujung pena seorang penulis pula… kebangkitan mampu dikobarkan.

Teringat sebuah nasihat mengenai semangat dakwah dan kebaikan yang harus di jaga oleh setiap umat Muslim:

1.Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

2.baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an, berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedhnya

3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4.Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.

5 Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.

6.Jangan suka bergurau, karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh- sungguh terus menerus.

7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.

8. Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.

9. Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).

10. Pekerjaan rumah (PR) kita sebenarnya lebih bertumpuk daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan. (Wasiat Imam Hasan Al-Banna)

Penulis adalah da’i. Dan, menjadi da’i adalah keniscayaan. Begitu indahnya dakwah dengan menulis.

Ketika Kata Menjadi Mata.

2 thoughts on “Ketika Kata Menjadi Mata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s