Senyum untuk Khansa

Malam itu, Faris tidak bisa tidur. Ia menunggu telpon dari Papanya dari Jakarta. Sambil menunggu, Faris membaca buku sekolahnya dengan cemilan di hadapannya. Tiba-tiba… Kring…Kring…kring… suara telpon rumah mendadak membuat Faris kaget, ia dengan cepat mengangkat gagang telpon yang tak jauh dari tempatnya membaca.

“Assalamu’alaikum,” sapa Faris.

“Wa’alaikum salam,” balas Papa Faris. Bibir Faris sudah terasa gatal, ingin secepatnya ia berkata pada Papanya untuk dibelikan mobil-mobilan baru hingga buku ensiklopedia hewan dan tumbuhan kesenangannya. Namun, sebelum Faris mengutarakan keinginannya, Arifin Papanya itu segera berkata dengan nada yang cukup serius. “Faris, Papa hari ini mau bawa pulang Khansa dari rumah sakit,” ucap Papanya. Faris tiba-tiba terhenyak, “Khansa itu siapa Pa?”

***

Sekitar jam sepuluh malam, suara mobil Pak Arifin sudah terdengar di telinga Faris. Dengan cepat dan tanpa berpikir panjang, Faris segera memburu suara deru mobil yang ditunggunya. Malam ini, Papanya baru pulang dari Jakarta, sudah dua minggu lamanya Papanya tidak pulang karena urusan kantor.

“Papa…..”

Faris memeluk Papanya dengan erat. Pak Arifin lalu mengelus rambut putra tunggalnya itu dengan lembut. “ Ris kangen banget sama Papa… soalnya dirumah hanya ada Bi Uti sama Oma,” ucap Faris. Papanya lalu tersenyum. Ia membuka pintu belakang mobil dan berkata pada Faris: “Sekarang Faris punya teman bermain, namanya Khansa, putrinya adik almarhumah Mama.” Diturunkannya tubuh kecil agak kurus dari kursi belakang mobil. Sebuah kursi roda pun dikeluarkan oleh Papa, tak jauh dari mobil, Bi Uti dan Oma mulai membantu, mereka menurunkan koper hingga oleh-oleh. “Apa kabar Khansa?” sapa Faris dengan senyum yang mengembang. Namun, Khansa hanya bisa diam. Bahkan, ia tidak melirik sedikitpun pada Faris, Khansa hanya mampu tertunduk dengan lemas. Pak Arifin dengan cepat membawa Khansa kedalam rumah karena suhu malam sudah mendingin.

***

Sekitar jam setengah tujuh pagi, Faris sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Sebelum Faris pergi, ia tidak lupa sarapan. Pagi ini, ia sarapan dengan nasi goreng sosis buatan Bi Uti yang lezat sekali. Sayangnya, hanya Khansa yang tidak ikut sarapan. Khansa yang masih duduk di kelas empat SD itu hanya mengurung diri di kamar. “Khansa tadi sudah sarapan dengan bubur. Karena masih lemas, jadi Khansa tidak ikut makan dengan kita,” kata Pak Arifin berusaha menghibur ketika Faris bertanya perihal Khansa yang tidak ikut sarapan bersama.

Diperjalanan menuju SDN Bahagia Sentosa, Faris banyak bertanya tentang Khansa. Dengan lembut dan tenang, Papanya menjawab pertanyaan putranya satu-persatu. “Pa, Khansa itu kenapa diam saja? Faris nyapa kok gak dibalas sapa lagi?” tanya Faris. “ Jangan sedih ya sayang, Khansa sedang sakit. Mungkin, karena masih lemah Khansa belum bisa membalas sapaan Faris. Selain itu, mungkin Khansa juga masih berduka dengan meninggalnya kedua orang tuanya karena kecelakaan,” jawab Pak Arifin. “Memang Khansa sakit apa Pa?” tanya Faris lagi. Papanya tersenyum pada Faris dan mengusap rambut putranya yang masih duduk dikelas lima itu dengan penuh kasih sayang. “Khansa sedang kurang darah. Darah merahnya sedikit, tidak banyak seperti Faris,” balas Pak Arifin berusaha menjelaskan dengan mudah. Faris lalu manggut-manggut. Sambil melihat pemandangan luar lewat kaca mobil, ia menyiapkan beberapa rencana untuk menyenangkan hati Khansa yang tengah sakit. “Setidaknya, Khansa bisa tersenyum,” kata Faris di dalam hatinya.

***

Sepulang dari sekolah, Faris segera memburu gudang dirumahnya. Dicarinya sebuah benda yang sudah lama tidak dimainkannya. GRASAK….GRUSUK…. begitulah suara Faris yang tengah mencari barang di dalam gudang. Akhirnya, Faris menemukan barang yang dicarinya. Sebuah layang-layang berbentuk kupu-kupu kini sudah ada di tangan kanannya. Warna layang-layang itu berwarna merah muda yang cantik. Selain itu, ada juntai ekor berwarna coklat keemasan yang mempercantik layang-layang kertas itu. “Khansa pasti senang dengan layang-layang ini,” ucap Faris girang. Setelah shalat dzuhur dan makan siang, Faris segera berlari kehalaman belakang rumahnya. Ia berusaha menerbangkan layang-layang kertasnya ke udara. Tak jauh dari halaman belakang, Khansa tengah duduk di kursi rodanya. “Khansa… lihat ini!” seru Faris bersemangat. Tetapi, Khansa hanya diam membisu. Ia tidak menoleh sedikitpun pada layang-layang yang telah terbang ke udara. Dilihatnya Khansa oleh Faris hanya memandang deretan bunga mawar yang mulai bermekaran. Faris terdiam sejenak. “Mungkin Khansa lebih suka bunga daripada layang-layang,” ucap Faris dalam hati.

Keesokan paginya, sebelum Faris pergi kesekolah, dipetiknya beberapa tangkai bunga mawar yang cantik nan harum baunya. Disimpannya empat tangkai mawar itu kedalam sebuah gelas panjang berwarna bening. Faris mengetuk pintu kamar Khansa, sambil mengendap-endap Faris menyimpan gelas berisi bunga mawar itu diatas meja yang tak jauh dari ranjang. Sebelum Faris pergi, ia melihat Khansa yang tengah memandang pemandangan langit lewat jendela kamar. “Khansa… Faris bawakan bunga mawar kesukaan Khansa,” kata Faris. Namun, lagi-lagi Khansa hanya diam. Faris agak sedih. Dengan perlahan ia menutup pintu kamar Khansa dan berlari menuju mobil menuju sekolah.

***

Sudah hampir satu minggu Khansa ada dirumah Faris. Tetapi, Khansa tidak berkata sedikitpun pada Faris bahkan mendiamkan Faris. Faris sungguh heran. Barang-barang yang telah diberikannya pada Khansa pun tidak membuat Khansa tersenyum. “Apa yang terjadi pada Khansa? Apa gara-gara sakitnya itu…Khansa jadi tidak bisa tersenyum lagi?” tanya Faris pada dirinya sendiri. Tapi, Faris tidak pernah menyerah. Untuk membuat Khansa sedikit bahagia, ia pun membuat banyak sekali origami kertas berbentuk burung-burungan dari kertas lipat yang berwarna-warni. Faris dibantu oleh Bi Uti dan Oma dalam membuat burung-burungan dan dibantu mengikatkan seluruh burung-burungan kertas itu dalam satu benang yang cukup panjang. “Terimakasih ya Bi Uti…Oma,” kata Faris setelah origami burung-burungan kertas itu selesai dibuat. Dengan rasa yang tak sabar, Faris berlari kecil menuju kamar Khansa sambil menjinjing hasil karyanya. Bi Uti dan Oma lalu tersenyum melihat tingkah Faris. Bi Uti dan Oma merasa bangga atas kebaik hatian Faris yang tulus pada sepupunya itu.

“Assalamu’alaikum Khansa…” ucap Faris sambil membuka pintu kamar. Khansa hanya menoleh sebentar, lalu ia kembali menatap pemandangan langit lewat jendela kamar. “Khansa, Faris…Bi Uti juga Oma buatkan burung-burungan ini buat Khansa,” ucap Faris lagi. Ia mengangkat tinggi-tinggi burung-burungan kertas itu dan menunjukkannya pada Khansa. Tapi, lagi-lagi Khansa hanya diam. Ia malah asyik menekuri pemandangan langit yang biru. Faris tidak menyerah membuat Khansa tersenyum. Ia lalu naik keatas meja dan berusaha mengikatkan ujung benang origami burung-burungan kertas itu ke ujung gorden. Namun sayang, karena tubuh Faris yang tidak tinggi, ia terjatuh dan memecahkan gelas air minum Khansa serta menjatuhkan obat-obatan Khansa. Tanpa sengaja, Faris membaca sebuah kata yang tertera dilabel obat-obat milik Khansa. “Leu-ke-mia,” ucap Faris sambil mengeja. “Apa itu?” tanya Faris dalam hati. Sebelum bangkit dari lantai, Bi Uti dan Oma sudah ada di hadapan Faris. Oma lalu membawa Faris keluar kamar Khansa, sementara Bi Uti langsung membersihkan pecahan kaca dan air. Ada lebam biru di kaki Faris.

***

“Bu guru…Leukemia itu apa?” tanya Faris pada gurunya. “Leukemia itu suatu penyakit dimana sel darah merah jumlahnya kurang dari normal dan sel darah putih jumlahnya lebih banyak dari normal. Leukemia itu bisa dikatakan kanker darah,” balas gurunya. “Kanker darah? Khansa itu…ternyata terkena kanker darah!” Faris terhenyak bercampur kaget. Ia sedih ketika mengetahui penyakit yang diderita sepupu perempuannya itu. Ketika hendak pulang sekolah, Faris melihat pedagang balon gas menjual berbagai macam balon. Faris sangat tertarik dengan balon berbentuk hati berwarna merah. Tanpa pikir panjang, ia membeli tiga buah balon berbentuk hati berwarna merah itu menuju rumah. Ada rencana untuk Khansa.

Ketika sampai dirumah, untunglah Khansa sedang tidak ada. Bi Uti berkata bahwa Khansa sedang cek kesehatan di rumah sakit bersama Papa. Setelah shalat dzuhur, Faris segera membawa ketiga balonnya beserta kertas lipat, gunting dan spidol menuju kamar Khansa. Faris membuat gambar senyum diketiga balon gasnya itu. Lalu, ia pun membuat gambar senyum di kertas lipatnya. Ia menempelkan banyak kertas lipat bergambar senyum di dinding-dinding kamar Khansa. Sekitar pukul setengah tiga sore, terdengar suara deru mobil Pak Arifin dari halaman depan rumah. Faris segera berlari menuju halaman depan. Pak Arifin membantu menurunkan Khansa dari jok belakang mobil dan mendudukannya di kursi roda. Dengan bersemangat, Faris segera mendorong kursi roda Khansa. “Khansa…aku punya kejutan lho,” ucap Faris. Khansa masih diam.

Setelah sampai di depan pintu kamar, Khansa diminta Faris untuk menutup mata. “Tutup matanya ya,” kata Faris. Lalu, Khansa pun menurut. Ia menutup kedua matanya yang agak mencekung karena sakit. Kreekk…Faris mulai membuka pintu kamar. Ia membawa Khansa ke dalam kamar. “Buka matanya..”pinta Faris. Lalu, mata Khansa pun terbuka. Betapa terkejutnya Khansa saat melihat banyak gambar senyum di dinding-dinding kamarnya. “Bagaimana?” tanya Faris bersemangat. “Oia…ada satu kejutan lagi..” lanjut Faris. Ia segera mendorong kursi roda Khansa ke dekat jendela. Dibukanya jendela dan angin lembut pun masuk ke dalam kamar. Faris kemudian membawa tiga balon berbentuk hati yang terdapat gambar senyum lebar di permukaan balonnya. Lalu, Faris menyimpan tiga balon itu di jemari tangan Khansa. “Senyum-senyum ini adalah kepunyaan Khansa,” kata Faris. “Senyum-senyum ini harus tersenyum di udara,” lanjut Faris menerangkan. Khansa tampak memegang erat balon itu. Lalu Faris berkata lagi: “Mari kita terbangkan balon-balonnya…agar semua bisa tahu kalau Khansa ikut tersenyum untuk dunia.” Tiba-tiba, ketiga balon itu terbang ke udara. Khansa terlihat begitu terkesima. Matanya terlihat cerah. Dan, akhirnya Khansa tersenyum. Ia tersenyum dengan sangat manis. Cantik sekali. Papa, Bi Uti dan Oma pun ikut tersenyum. Semua tersenyum bersamaan dengan ketiga balon yang terbang ke udara.

TAMAT

(Ditulis dan dikenang oleh: Tetsuko Eika-2010)

One thought on “Senyum untuk Khansa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s