Hibah Penyakit Untuk Perokok Pasif


Sering sekali, saya mendapati banyak kepulan asap rokok “bergentayangan” di sarana -sarana umum milik negara, bahkan di tempat – tempat publik yang memang telah dialokasikan pemerintah sebagai media bersama dan bertujuan mensejahterakan masyarakat.

Di kereta ataupun bis, misalnya, saya menemukan banyak para pria dengan acuh dan santainya merokok di tengah padatnya para penumpang. Dan tragisnya, para perokok aktif itu merokok di tengah anak-anak kecil, bayi dan lansia. Padahal, rokok sendiri adalah benda komersial berbahaya yang memiliki dampak buruk bagi kesehatan.

Dan karena kurang jelasnya hukum ataupun sanksi yang berlaku di Indonesia, para perokok pasiflah yang selalu menjadi korban. Mereka mendapat hibah penyakit yang jauh lebih dahsyat bahayanya dibanding sang pengepul asap rokok sendiri.

Bahkan, yang lebih mirisnya, di area pendidikan pun saya sering melihat banyak para pengajar juga siswa-siswanya dengan enteng menyalakan rokok, mengepulkan asap, lalu “berbagi” penyakit pada orang-orang disekitarnya. Sebuah pemandangan yang begitu mengkhawatirkan, area pendidikan yang wajarnya dipergunakan untuk mendidik para penuntut ilmu, kini bermetamorfosis menjadi dunia pendidikan sebagai ajang penghancuran moral. Bagaimana tidak menghancurkan moral, jika para pengajar dengan acuhnya merokok dilingkungan pendidikan, pasti para pembelajarnya pun akan meniru dan menjadikan para pengajarnya yang merokok sembarangan tersebut sebagai teladan. Seperti peribahasa yang mengatakan bahwa buah apel tak akan jauh dari pohonnya, dan begitulah potret para pelajar di ranah dunia pendidikan Indonesia. Sangat nanar.

Lalu, mengapa asap rokok itu sangat berbahaya? Kita lantas mengatakan bahwa rokok itu dapat menyebabkan banyak penyakit. Mulai dari sesak napas, batuk-batuk, kanker paru-paru hingga berujung pada kematian.

Asap rokok itu sendiri mengandung sekitar 4000 bahan kimia, dan 43 diantaranya merupakan bahan kimia yang bersifat karsinogen (zat kimia yang menimbulkan kanker). Dari begitu banyaknya bahan kimia yang dihirup perokok aktif, hanya 15 persen yang menimbulkan penyakit bagi perokok aktif. Sementara, sisanya 85 persen lain dilepaskan dan dihirup oleh para perokok pasif. Dan, itulah bahayanya. Suatu hibah penyakit dari pengepul asap rokok yang tidak disangka-sangka bagi para perokok pasif.

Sebagai pembunuh yang menyebabkan kematian sebanyak 427.948 jiwa per tahun, rokok pun menjadi pembunuh nomor wahid di Indonesia. Tercatat dalam data konsumen rokok sedunia, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai negara berpenduduk perokok aktif.

Kasihan sekali nasib para perokok pasif, mereka beresiko terserang berbagai penyakit. Misalnya infeksi paru dan telinga, gangguan pertumbuhan paru, atau bahkan dapat menyebabkan kanker paru. Paparan asap rokok juga memberi pengaruh buruk pada pankreas, sebagai regulator insulin gula. Sehingga perokok pasif juga terancam terserang penyakit diabetes.
Selain itu, jika para perokok pasif sering menghirup asap rokok, mereka akan rawan terkena infeksi. Karena setiap hembusan asap rokok mengandung zat yang dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Oleh karena itulah, untuk mengamankan kesehatan dari pengaruh asap rokok, kita bisa memisahkan diri kurang lebih sekitar 180 cm dari perokok aktif. Dan jika kita berada pada lingkungan perokok, maka disarankan menambah asupan vitamin C kita. Yang paling penting, kita juga harus menghindar dari arah terpaan kepulan asap si perokok.

Namun, sayangnya banyak pihak yang tak sadar dengan status danger bagi para perokok pasif. Dan, mirisnya, para perokok pasif pun tak sadar dengan bahaya yang tengah mengintai mereka. Lalu, siapa yang bersalah?

Yang bersalah adalah orang – orang yang tidak ikut berkontribusi dalam perubahan menuju perbaikan. Jangan sampai tindakan sanksi dan hukum yang lemah di Indonesia dalam menangani kasus – kasus ini, menambah parah kondisi iklim kesehatan di Indonesia. Dan, hal itu akan berdampak bagi dinamika sosial juga kebudayaan bangsa. Masyarakat Indonesia akan dikenal sebagai masyarakat perokok di tempat umum dan berbudaya tidak sehat. Sebuah predikat yang kini mulai menjadi title bangsa Indonesia.
Meskipun melakukan perubahan bagi para perokok aktif agar tidak merokok di sembarang tempat sangatlah susah, namun, kita dapat berusaha dengan memulai perubahan dari lingkungan rumah kita sendiri, mulai keluarga, tetangga, lingkungan RT, RW, hingga akhirnya berlabuh pada perubahan di sebuah institusi negara.

Sebuah cita-cita kita bersama untuk memiliki bangsa yang sadar kesehatan dan cinta kesehatan.
(Ditulis oleh Eka Purwitasari-Komunikasi Jurnalistik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s