Kisah Penatap Mega

Suatu hari, seorang gadis menatap indahnya langit. Dipandanginya berbagai bentuk awan, birunya mega hingga berbagai burung yang terbang dengan ceria. Gadis itu termangu sambil tersenyum kecil. Ditopangnya dagu nan lancip miliknya oleh telapak tangan kirinya. Matanya berkaca-kaca bak permata yang kemilau.

“Langit sangat indah…” desahnya dalam hati.

Bis melaju melintasi pepohonan hijau yang berarak teratur. Seorang petani setengah tua ditatapnya tengah mencangkul di sawah. Tak luput pula dari pandangannya, anak-anak kecil yang menyabit rerumputan dengan gembira. Ditatapnya topi lusuh coklat tua dengan mata berkaca-kaca sang petani, ditatapnya gelak tawa yang menyembul diantara kaki yang berlari-lari kecil para pemburu rerumputan. Namun, ia hanya menatap sekilas. Pandangannya ia kembali arahkan pada langit setengah sore yang menawan.

Bis berbelok melewati dua bukit kecil yang hijau dengan perkebunan ilalang. Mobil-mobil beroda empat saling melewati dengan lincah. Roda berputar kian cepat. Gadis itu masih asyik menatap langit nan cantik.

“Indah sekali langit…” desahnya lagi.

Langit biru melambai dengan senyum terang, seterang mentari. Putih awannya tersenyum riang laksana bayi mungil yang lucu. Sejuknya udara langit terasa hemilir melalui rongga hati. Sejuk…sejuk dan mendamaikan. Aura lapang dan luas memancar dari kesyahduan pemandangan langit. Gadis itu semakin asyik menatap langit. Entah keasyikan apa yang ia dapatkan, namun…matanya tampak bercahaya. Ia Nampak jauh lebih bercahaya.

Bis semakin melaju. Jalan yang mulus dan lancar membawanya kian cepat pada tujuan. Gemericik hujan mendera tatapan matanya. Sebutir air hujan menyapanya. Lalu, hadir butir-butir hujan yang lainnya. Diliriknya sekilas dedaunan gemuruh riang gempita menyambut sang butir-butir kehidupan. Tiba-tiba gadis itu tersenyum.

“Begitu indahnya hujan…”

Kelabu menggelayut di langit. Biru indah itu telah sirna. Yang ada hanya warna senada yang menghiasi kornea matanya. Hatinya gusar, namun… hatinya kian terasa sejuk. “Satu…dua…tiga…empat…” dihitungnya air hujan yang menetes pada kaca bis. Bulatan tetes hujan itu turun menuju dasar kaca. Jemarinya yang panjang menelusur jatuhnya biji hujan. Ditatapnya dengan haru yang memuncak. Ditatapnya air mata langit yang menyapa dengan gempita.

Langit kian suram. Namun, sungguh menawan. Bis kian melambat. Dan Para penumpang bersiap untuk turun lalu pergi menuju tujuannya masing-masing. Gadis itu masih duduk menatap langit. Jemarinya nampak asyik menyelusur butir-butir hujan yang turun menuju dasar kaca. Hatinya tersenyum. Sejuk rasanya. Dibisikinya biji air mata langit dengan merdu…

“Aku akan merindukanmu duhai langit…”

Ia lalu beranjak turun, temannya tersenyum menunggunya. Sebait dzikir dibacanya dalam hati…

“Subhanallah…subhanallah…subhanallah…Indah nian langit ciptaanMU..”

TAMAT

(Diilhami dari sebuah perjalanan hati antara Dipatiukur-Jatinangor, Jum’at, 18 Juni 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s