SEBUAH RENUNGAN SENJA

Tuhan-ku…alangkah cepatnya waktu bergulir.
Sepuluh tahun yang lalu… aku hanya seonggok tulang yang terbalut daging, urat dan helai napas bocah kencur. Bocah yang dulu sempat menangis karena bertengkar dengan genk sepermainan…yang, dulu paling nakal dan suka dicubit orang tuaku akibat kemalasanku melaksanakan shalat lima waktu juga karena suka keluyuran kemana-mana.

Tuhan-ku…alangkah cepatnya waktu berkenalan denganku.
Kini, usiaku meroket!!!. Dan, entah mengapa…aku merasa sungguh tua!! Tua, karena belum melakukan banyak hal untuk komitmen keislaman ini. Tua, karena terlalu asyik menikmati lezatnya jalan gemerlap ini tanpa mengajak serta memberi buah kelezatan yang kurasakan bagi orang disekitarku. Dan, aku merasa tua, karena banyak kelailaian diatas ayat-ayat titahNya untuk memekikkan urat-urat takbir demi tegaknya Islam.
Oh, waktu cepat sekali bergulir. Seandainya waktu itu bagaikan roda. Yang bisa kembali keposisi semula saat berputar, aku ingin men-delete beberapa kejadian sepuluh tahun yang laluku, juga lima tahun yang laluku…untuk terjun dalam lautan cintaNya lebih dini. Kini, aku merasa betapa lalainya aku ini!!!
Oh, Tuhan alangkah cepatnya waktu meninggalkanku. Anehnya waktu meninggalkanku taanpa kata. Dan, kini aku paham…jikalau waktuMu tak dapat kembali berputar pada masa ingus-ingus bocahku “melirik” atau kembali pada delik mata serta pandangan hampa pada lawan jenis. Yah, tetap waktu tak akan pernah kembali.

Detik itu berlalu melewati lembaran-lembaran kehidupanku
Menyinari variasi kedipan hati setiap bertabur cahaya
Mengangkat semangat dan menurunkan keterlukaan
Detik itu kian menghilang melewati berbagai senyum penuh fana dunia
Menggembalakan kebaikan dan kepedihan
Menyenandungkan asa-asa
yang tak berhenti menyeruak
…………………………………………………………..
Namun, detik itu akan bergulir melewati kotak hitam hatiku
Mengetuk dengan lembut
Dan mengecup keharmonisan kehidupan
Seakan hendak meraih lengan ini menuju tetesan air syurga
……………………………………………………………
Detik itu datang menghampiriku
berusaha tersenyum penuh cinta dengan menggebu
menggeliatkan lara hati yang kian tersaruk meninggalkan sukma
……………………………………………………………
Detik itu menggenggam tanganku
Bersenandung dalam hati penuh rindu
……………………………………………………………
Detik itu adalah detik-detik terdetik dalam hidupku
Itu detik kematianku.
Aku tak tau…mengapa aku kini terbaring lemah di ranjang.
Aku kurus
Susah bicara
Bahkan menelan ludah pun sakiiiit sekali.
Lalu, lagi-lagi aku disuntik. Nyeriiii sekali.
……………………………………………………………….
Oh…detik itu kian mendekat.
Takutkah aku?
Sedihkah aku?
Karena aku akan mati???
Hiks..hiks…hiks….
Kuambil secarik kertas dan sebuah pena di pinggir ranjangku.
Kutulis dengan perlahan serta lemah.
Kutulis untuk orang-orang terkasihku…
…………………………………………………………………
Bu, aku akan mati! Kembali kutulis…kutulis…dengan linangan air mata
Yah, aku akan mati! Kureka kenangan bersama orang tua terkasihku.
Pilu….rasanya…terseret-seret hati ini.
Ibu, Ayah…maafkan aku. Atas kesalahanku. Atas khilafku. Kini, gadismu ini tengah menanti pencabutan nyawa…nyawa satu-satunya..
Aku menangis. Terenyuh dalam nuansa pilu nan senja.
Hiks…hiks….hiks….
Kembali kutulis dengan pedih.
Kini…kutulis untuk sahabat-sahabatku…
Guru ngajiku…teman satu pengajianku…
Guru-guruku…juga…pada orang-orang yang telah kusakiti.
Kutulis wasiat satu persatu dengan mata nanar.
Dan….
Ha..ha…ha…..(seperti sakit jantung)…
a…aku….tak bisa bernapas!!!!!!!!!!
Aww…..sakiiiit….
Aku….aku….akan sekarat…!
Tak kuasa lagi kutulis surat ini…
Bernapaspun sungguh pedih…pediiiiihhh…
Hiks…hiks….

Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terjelas langkah-langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang
sendiri menunggu keputusan

Menyesal sudah tak mungkin,
tobat tak lagi dianggap,
dan maafpun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri

Tuhanku,
Jika kau beri akau satu lagi kesempatan,
Jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu
beberapa hari saja…
aku harus berkeliling memohon maaf pada mereka
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku,
yang selama ini telah kusakiti hatinya,
yang selama ini telah aku bohongi

begitu sesal diri ini
karena hari-hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan

Aku dimakamkan hari ini
dan semua menjadi tak termaafkan,
dan semua menjadi tak terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan

Waktu sangat Singkat
Jarak semakin dekat

Dia Datang tanpa di minta
Dia Tandang tanpa di undang

Siapkah kita kala saat itu mendekat.
Saat Izrail datang menyapa..

Sebaik Hidup adalah menghisab diri dari hari kehari
Sebaik Nafas adalah merenungi setiap detik yang telah terlalui..

Saatnya bertanya pada diri ; Sudah Cukupkah bekal kita kembali ke Kampung halaman sesungguhnya??

Allohumma sholli ala Muhammaddin wa Aali Muhammad..
Allohuma Ya Karim..

Dengan Keagungan NamaMu yang memenuhi Alam
Dengan Keindahan AsmaMu yang tiada memperdayakan
Disini kami bersimpuh mengetuk PintuMu Ya Illahi Robbi..
Disini kami mengadukan kehinaan kami sebagai hamba yang meng ibakan kasih sayangMu..

Ya Illahi Robbi
Ya Karimmu Ya Mujiba Sailin,
Betapa banyak hari kami yang terlalu sia-sia..
Betapa Panjang perjalanan yang kami habiskan tuk hanya memikirkan dunia hina

Betapa Nista Diri kami di Hadapan Mu ya Illahi Robbi..

HambaMu yang tak Layak ini meng iba dengan penuh pengharapan..
Mengetuk PintuMu dengan penuh ratapan..
Ridhoi sisa perjalanan Hidup kami..
Mohon Bimbinglah kami ke jalan yang Engkau Ridhoi kami melaluinya..

Ya Aziz Ya Rohman Ya Ghofar…
Bila Engkau tidak berkenan mengabulkan ratapan kami..
Maka kemana lagi wajah penuh hina ini kami palingkan..

Bila Engkau tidak berkenan membimbing kami mencari Ridho Mu
Maka kemana lagi kami memohon petunjuk saat di sesatkan..

Ya Awwalin Ya Akhirin..
Bila kami tak pantas menjadi HambaMu..
Maka kemana lagi kami harus berharap belas kasihMu..

Ya ALLAH.. andai air mata ini mampu menghapus dosa-dosa kami
maka akan kami habiskan hari-hari kami meratap di PintuMU..

Ya Illahi Robbi..
Anugrahkan dan Mohon arahkan kami jalan-jalan yang tiada menipu kami diatas semua jalan serupa di hadapan kami…

Allohumma Bi Haqqi Muhammad wa Aali Muhammad..
Dengan segenap keutamaan yang Kau Curahkan kepada Rasul Mu Muhammad Sholallahu Alaihi Wa Aalihi Wa Salam
Dengan segala kehormatan dan keutamaan yang telah kau curahkan kepada Ahlul Bayt Rasul Mu diatas kami

Kami Mohon Ya Illahi Hakim…
Janganlah Kau timpakan kami cobaan yang tak sanggup kami memikulnya..

Janganlah Kau curahkan kami fitnah yang tak mampu kami membendungnya..

Allohumma Sholi ala Muhammadin Wa Aali Muhammad…

Ya Robbana Ya Nur Ya Illahi Alamin
Mohon matikan kami dalam Khusnul Khotimah..
Mohon lapangkan dada kami..
Mohon mudahkan Lidah kami dalam melafadzkan LAA ILLAHHA ILALLAH MUHAMMADDURROSULULLAH..

Subhanaka Ya Allah Ta layta Ya Rohman Talayta Ya Rohim, ajirna minna nar Ya Mujir..

Subhanaka Ya La Illaha Ila Ant Al Ghauts Al Ghauts sholi ala Muhammaddin Wa Aali Muhammad Khalisna Minna nar Ya Rob..

Astaghfirullahurobbi Wa Atubu Illaihi.
Astaghfirullahurobbi Wa Atubu Illaihi.
Astaghfirullahurobbi Wa Atubu Illaihi.

Sholli ala Muhammadin wa Aali Muhammad At Thohirin..

Namun….aku yakin….
“..Panas api neraka mampu dipadamkan dengan tulusnya air mata munajat doa Tulus..” (Imam Jaf’ar As ShodiQ)

(Ditulis dan terisnpirasi menjelang TMB “Training Menulis Bareng” muslimah KAMMI UIN Bandung, 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s