Surat untuk calon anakku: “Teruntuk pelita penerang kalbu yang tak kuasa selalu kurindu”

Rancaekek, 6 Oktober 2010

Teruntuk pelita penerang kalbu yang tak kuasa selalu kurindu

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Sayang, tahukah kau bahwa aku kini tengah menguraikan air mata? Malam kian larut ketika aku menulis surat ini untukmu. Dan dengan aroma dinginnya malam yang menusuk liuk-liuk urat syaraf ini, aku berlinang air mata. Mengingatmu. Mengingat pertemuan kita hingga terjatuhlah derai air mata ini.

Duhai sayang, aku seakan tak pantas bila kelak kau sebut Ibu. Dadaku masih begitu banyak peluh buram. Akhlakku masih tertatih-tatih untuk tegakkan kerinduan pada-Nya. Namun, entah mengapa aku begitu merindukan hadirmu hingga jantungku gemeretak.

Oh pelita hidupku, aku takut jika ketika kau membaca surat ini, aku sudah menjadi seonggok tulang yang rapuh di tanah merah. Aku cemas tak sempat mengenalmu, mengeja namamu dan menghapus air matamu ketika engkau terjatuh dalam merangkak. Aku sungguh khawatir jika tak bisa membelai rambutmu, mengecup kening hingga pipimu dan mendekapmu dalam lautan cinta. Aku sungguh benar-benar takut jika napas terakhir membawa ibu mu ini pergi dan meninggalkanmu saat kau terlahir kedunia. Namun, rasa cemas itu, takut hingga khawatir itu pasti akan hilang ketika kau bernapas dan menatap dunia dengan mata indahmu. Aku akan bahagia. Sungguh sangat bahagia. Dan, tak pernah merisaukan jika kita kelak ditakdirkan untuk berperpisah.

Maka sayangku, kini aku tengah membayangkanmu. Kulihat matamu nampak berkilau dengan lautan cahaya semangat yang berkobar. Dan, bibirmu tersenyum penuh kehangatan. Kubayangkan pula kini kau tengah menatapku dengan penuh rindu. Dan, sesegera mungkin kau berhambur kepelukku. Kau kecup pipiku. Dan, air mataku akhirnya berlinang. Aku kian mendekapmu dengan bangga. Dan, sungguh, engkaulah pelita bahagiaku. Pelita bahagia seorang wanita yang sungguh tak pantas kau sebut ibu.

Kasihku, aku ingin sekali berbagi kisah denganmu. Tertawa denganmu. Berbagi canda, makna dan hikmah. Rasanya teduh dan wangi sekali aroma ketenangan bersamamu. Aku setiap saat bisa menggenggam jemari mungilmu yang setiap masa terus berkembang. Aku pun bisa menatap indahnya wajahmu yang kian waktu bertambah dewasa. Duhai anakku, aku sungguh merindukanmu. Bahkan, sebelum engkau lahir dari rahimku.

Kini, malam kian larut sayangku, namun aku tak sanggup untuk tidak mengingatmu. Sayup-sayup cahaya lampu menerangi malam-malam penuh rasa sepi tanpa hadirmu. Dadaku teriris tanpa bahagiamu. Duhai anakku, lagi-lagi aku sangat merindukanmu. Begitu merindukanmu.

Sayang, maafkanlah aku jika raga ini mungkin pergi selamanya sebelum kau dewasa. Maafkanlah tubuh ini yang mungkin lebih sering mencerca dari pada memuji. Sayangku, maafkanlah Ibu mu ini yang begitu tak berdaya jika membuatmu kerap terluka. Maafkanlah diri ini sayangku. Yang, mungkin lupa megajarimu mengaji Al-Qur’an, mengajarkanmu berjilbab hingga mengajarkan makna-makna kehidupan. Tapi, aku sungguh menyayangimu. Dan, aku akan selalu menyayangimu. Meskipun habis darahku untuk melindungi senyum bahagiamu.

Anakku, aku yakin kau akan tumbuh menjadi sosok yang tegar, setegar batu karang. Dan, aku sangat yakin kau akan mewarnai dunia ini dengan pesona ketegaranmu yang menyejukkan hati. Kau pasti akan menjadi seseorang yang senantiasa berbahagia dan sabar. Hingga, kesabaranmu memancarkan aura kebaikan yang mendalam. Duhai anakku, ibu sangat yakin kau akan menjadi sosok yang begitu cinta pada titah Tuhan-Mu, Tuhan kita. Kau akan memberi lentera kebaikan bagi kemajuan bangsa. Dan, aku pun yakin kau akan menjadi bagian terindah dalam perjuangan dakwah Islam. Maka, teguhlah wahai pelita hidupku. Tetaplah tegar meski kau tertatih-tatih. Meskipun kau sakit hati. Janganlah bersedih kasihku!, karena aku akan berada disampingmu. Aku akan menentramkan hatimu dan menggenggam jemarimu kemudian mengokohkan langkahmu. Aku disini sayangku…aku disini yang tengah merindukanmu.

Cintaku, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Menjadi seorang insan bermanfaat yang terbalut oleh cahaya Islami. Dan, maafkanlah aku jika kelak aku tak mampu menjadi contoh yang baik bagimu. Namun, sungguh aku akan berusaha merubah diri ini sehingga kita bisa saling menguatkan dan menyemangati dalam cinta. Bukankah begitu indahnya anakku?

Kasihku yang akhlaknya indah melebihi permata, gapailah mimpimu dengan dzikir. Janganlah kau lupakan Dzat yang menciptamu. Sujudlah dengan penuh takzim kepada-Nya. Dan, berdo’alah agar kita bisa bersatu dalam surga firdaus-Nya. Berdo’alah agar kita bisa saling melelehkan air mata dalam lautan cinta kasih. Kasihku kepada Allah Swt.

Oh sayang, kini Ibumu ini tengah melamunkamu. Rasanya, pikiranku hanya terisi dengan napasmu. Dengan rona semangatmu, sosok yang begitu kucinta. Maka, aku akan sangat menantikan saat-saat dimana kita mengaji Al-Qur’an bersama, mengajarkanmu do’a-do’a dan berakhlak Islami. Namun, ibu takut sayang…ibu cemas tak bisa melakukan hal indah itu bersamamu karena perpisahan kita. Tapi, aku tak bersedih, karena mungkin do’a-do’a syahdu nan indahmu akan mewarnai pertemuan kita nanti, ditempat yang sangat indah itu.

Maka, kumohon tersenyumlah padaku. Pada seorang makhluk yang kini begitu menanti-nanti kehadiranmu dengan tabah. Sosok wanita yang berusaha mendidik diri agar mampu mendidikmu menjadi pribadi yang lebih baik dariku. Oh…dan lagi-lagi sayang, Ibu sungguh merindukanmu. Rindu pertemuan kita nanti. Rindu menyentuh hidungmu, bibirmu dan memeluk mesra tubuhmu dengan hangat. Apakah kau juga merindukan Ibu, sayang?

Biarkanlah aku mengenangmu. Mengenang indah nian sorot matamu, mengenang halusnya tutur bahasamu, dan mengenang cintamu pada sang khalik. Ketahuilah bahwa aku selalu ingin mengenangmu. Selamanya.

Maka, tetaplah tersenyum pada dunia, sayangku. Kuatkanlah batinmu ketika terluka. Ingatlah ayat-ayat-Nya yang kau hapal stiap waktu. Dan, do’aku akan selalu menyertaimu. Menyertai jejak langkahmu.

Oh kasih, kini Ibumu tengah mengelus rahim ini. Kuelus sambil berlinang air mata penuh cinta. Aku hanya berharap satu hal saja. Kuberharap kubisa melahirkan dan membesarkan sosok tangguh seperti dirimu, sayang.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Kutulis untuk seseorang yang kelak akan menambah cintaku pada-Nya

Dekap sayang penuh rindu,

Ibumu, Eka Purwitasari

2 thoughts on “Surat untuk calon anakku: “Teruntuk pelita penerang kalbu yang tak kuasa selalu kurindu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s