Ketika Air Mataku Jatuh……

Petang itu, gerimis kecil membasahi jilbab ungu mudaku. Papa megeluarkan motornya, jas hujan hijaunya tak lupa terpasang ditubuh tinggi setengah kekarnya. Dan, aku hanya menunggunya mempersiapkan motor keluar dari pekarangan rumah.

Kupandang langit sekilas, ternyata hujan. Segera kupasang jas hujan hitam di tubuhku yang masih gemetar. Tak lupa kupakai juga penutup dada yang terbuat dari kulit yang dijahit rapi agar aku tak masuk angin. Mama datang, ia mengantongiku sebungkus ubi rebus dan panganan kecil serta beberapa butir permen. “Untukmu diperjalanan,” ucap mama. Aku terhanyut, terharu.

Pukul 17.30 telah bergeming. Rentetan gerimis membasahi helm dan jas hujanku. Kugenggam erat bungkusan dari mama. Motorpun melaju. Melewati jalan-jalan rusak di Rancaekek, lalu melaju di jalan Cileunyi dan merangkak gesit di by pass. Dan, air mataku terkulai juga. Menetes terus berbarengan dengan menetesnya air langit.

Aku terharu. Betapa tidak aku terharu jika orang tuaku mengantarku pergi kursus dan dengan sengaja menungguku satu setengah jam di tengah hujan yang kian deras.oh Tuhan, kala itu aku sedang lemah. Tubuhku digerogoti hipotensi. Jika tak mengembalikan tekanan darah pada tempatnya, aku bisa oleng dan buta beberapa detik. Bahkan, aku bisa tergeletak tak sadarkan diri. Maka, bagaimana aku tak terharu melihat sang papa yang rela mengantarkanku, menemaniku dalam kondisi seperti ini. Yaa Rabb, air mata itu tak berhenti menetes. Air mata itu ikut larut dengan cairan langit.

Dan, ketika air mataku jatuh…. Aku merasa sangat tidak tega. Tak tega jika suatu saat nanti aku pergi jauh dari dua orang terkasihku itu. Pergi jauh ke negeri sakura untuk melanjutkan S2 rencanaku. Bahkan, hanya untuk tinggal mandiripun, aku jadi merasa tak sanggup. Lagi-lagi…air mataku berjatuhan. Berlinang mengingat ketulusan hati orang tua yang sering kulupakan.

Oh, duhai…

Betapa seringnya aku lupa atas kebaikan mereka. Yang kuingat hanya tuntutan, tekanan dan keinginan pribadi yang terkadang menyesakkan. Kembali kuucap syukur dalam hati. Betapa bersyukurnya aku memiliki dua insan laksana malaikat seperti papa dan mama. Kini, azzam tertancap kuat dalam jiwa bahwa aku akan membuat mereka bangga atas prestasi-prestasiku kelak. Maka, aku sangat mencintai mereka….


(Memoar seorang pejuang cita-cita-Rancaekek, 21 Oktober 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s