Wajah Pahit Sebuah Pluralisme

Oleh: Tetsuko Eika/Eka Purwitasari

Didunia ini tak ada sesuatu yang benar-benar spesifik sama, baik dari segi bentuk hingga fungsi. Jika menelisik ruang lingkup yang lebih dekat lagi, dapat ditemukan bahwa perbedaan-perbadaan yang tidak spesifik itupun hadir pula di Indonesia. Indonesia dengan ke bhineka tunggal ika-annya seakan menjadi bukti kongkret bahwa sebuah perbedaan itu hadir lalu kemudian hidup mengakar di Indonesia. Sehingga, meski perbedaan itu hadir dan mengakar di negeri zamrud khatulistiwa ini, kehidupan masyarakat masih bisa dikatakan rukun, sebelum hadirnya paham baru yang dikenal massa sebagai pluralisme.

Dalam ilmu sosial, pluralisme dikenal sebagai kerangka yang didalamnya terdapat interaksi beberapa kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lainnya. Pluralisme pun hidup secara bersama atau koeksistensi serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilisasi.

Dan dalam pengertian umum yang dikutip dalam Wikipedia.com, pluralisme bisa pula dikatakan sebagai salah satu ciri khas masyarakat modern dan kelompok sosial yang paling penting, dan mungkin merupakan pengemudi utama kemajuan dalam ilmu pengetahuan, masyarakat dan perkembangan ekonomi.

Banyak masyarakat dunia yang akhirnya menilai bahwa pluralisme bisa menunjukkan hak-hak individu dalam memutuskan kebenaran universalnya masing-masing. Namun, sayangnya dibalik keeleganan definisi sebuah paham plural, mirisnya banyak orang yang tak paham eksistensi serta intisari paham yang menurut MUI itu haram diikuti.

Sebuah pluralisme akan sangat erat kaitannya dengan postmodernisme. Postmodernisme itu sendiri adalah sebuah awal baru dari berakhirnya era modern yang telah memengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Tak tanggung-tanggung lagi, pluralisme beserta rekannya yang bernama postmodernisme itu hadir dan menjelajah dalam ranah beragama. Tentulah ini masalahnya. Kekhawatiran muncul dari agamawan yang mencemaskan timbulnya paham baru yang bukannya memberikan cakrawala lebih baik, tapi malah akan merugikan banyak pihak dan berakhir pada ketidakharmonisan dalam lingkup beragama.

Memang, sangat kita tidak bisa menghindar dari arus deras globalisasi dan modernisasi yang memberikan dampak luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Dampak itu bisa kita lihat dengan munculnya internet bahkan kecanggihan alat-alat komunikasi serta teknologi. Kondisi yang mendunia itu seakan meluas dan melebar ketika lahir pemikiran baru yang menganggap semua aspek dipukul sama rata dari dasar sebuah perbedaan.

Pluralisme di Indonesia bisa kita lihat dari berbagai macam budaya yang tumbuh dan mendarah daging. Dari Sabang hingga Merauke, pasti akan kita dapatkan kondisi kebudayaan yang berbeda dengan kekhasannya masing-masing. Tentunya, kepluralan itu memang indah jika dikelola dengan baik. Plural yang berarti beda, bisa memberikan intuisi keilmuan yang melahirkan banyak rantai-rantai subilmu, seperti sosiologi hingga antropologi. Memang, sesuatu hal pasti aka ada sisi positif dan negatifnya. Tentulah harus dengan bijak bagaimana mengelola sebuah plural dengan benar dan tidak menjurus pada penyelewengan dan asimilasi aneh yang merugikan.

Ternyata, kita harus memahami bahwa pluralisme yang lahir dari dunia barat ternyata memiliki intisari dan kepentingan yang tidak indah. Kita harus memahami juga bahwa hadirnya sebuah paham pasti akan memiliki kepentingan didalamnya, terlepas apakah kepentingan itu bersifat baik atau buruk. Dalam kajian ini, pluralisme yang sangat diagung-agungkan almarhum Gus Dur ternyata memiliki sisi pahit yang perlu menjadi kajian bersama, terutama bagi umat muslim yang notabene sebagai ajaran tauhid yang bersujud kepada Tuhan semesta alam, Allah SWT.

Sebuah pluralisme bisa kita kenal sebagai paham yang menganggap bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama. Para pencetus paham ini menyatakan bahwa semua agama intinya adalah sama, menyembah Tuhan. Dan, yang membedakannya adalah satu hal saja, yaitu cara penyembahannya itu sendiri. Tentunya, sebagai umat Islam, paham ini jelas-jelas salah dan menyimpang. Bahkan, jika menghadirkan logika dalam pikiran kita, pluralisme itu sendiri telah menjadi bibit agama baru yang mengagungkan persamaan diatas perbedaan-perbedaan. Dalam ramah kajian pluaralisme agama yang lebih spesifik, dikenal pluralisme mazhab John Hick dengan gaungnya yang bernama Global Theology serta aliran pluralisme Transendensi Agama yang diusung oleh Nasr Hamid Abu Zayd.

Dari sejarahnya di dunia barat, sebuah pluralisme agama lahir karena reaksi atas eksklusifisme katolik yang menurut John Hick menjadi asal muasal penyebab konflik antar umat beragama pada masanya. Pemikir itupun menganggap bahwa fanatisme beragama adalah penyebab mendasar timbulnya konflik. Walhasil, ia berupaya untuk menjadikan agama-agama yang berbeda, khususnya pada masa itu adalah agama katolik dan Kristen agar dapat hidup rukun dan damai. Maka, John Hick akhirnya membuat paham baru yang dikenal kini sebagai Global Theology yang intisarinya sangat ganjil jika dicermati.

Paham itupun akhirnya dengan gencar disebarkan ke mancanegara. Sedihnya, yang dulu praktek kekerasan dan konflik beragama itu didominasi oleh pihak gerejawan, kini mata dunia menuduh umat Islam sebagai kaum teroris, fundamentalis bahkan kaum ekstrimis. Jelas-jelas itu salah dan merupakan tuduhan yang merugikan kaum muslimin. Kini, tujuan pluralisme yang pada awalnya berencana untuk merukunkan kehidupan antar beragama, pahitnya berubah muka menjadi sarana untuk menghinakan semua keyakinan seseorang dalam beragama. Parahnya, paham ini sedikit demi sedikit akan menghancrkan keimanan beragama. Mengapa bisa demikian? Ya, karena pluralisme berusaha untuk menyamakan eksistensi dalam semua bidang. Penyamarataan itu berusaha untuk mendatangkan kerukunan, tapi dewasa kini malah menghantarkan pada pertikaian dan menghasilkan agama yang jelas-jelas baru yang tak lain adalah pluralisme itu sendiri.

Itulah salah satu alasan mengapa MUI mengharamkan paham pluralisme di Indonesia. Itu bukan berarti bahwa MUI tak inginkan kehidupan damai dalam beragama, toh tanpa pluralisme pun Indonesia bisa damai dengan prinsip tepo seliro-nya yang kental. MUI berusaha berhati-hati agar kaum muslimin tidak terjerat paham persamaan global itu dan terseret dalam esensi parah yang mengenaskan dengan berujung pada atheisme.

Pluralisme selalu berdalih bahwa konflik dalam beragama adalah penyebab ketidakharmonisnya suatu kehidupan. Padahal, pada jaman Rasulullah saja, tak ada konflik yang terjadi dalam beragama. Kita harus ingat salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang jika diterjemahkan menjadi “agamamu agamamu, agamaku agamanku”. Islam dengan keindahannya lebih indah dari sebuah pluralisme semu itu sendiri. Islam merupakan solusi yang menjungjung tinggi sikap hormat-menghormati antar beragama. Ketidakarifan dan kekerasan yang terjadi dalam kehidupan Islam bukanlah karena ajarannya yang tidak sempurna, namun karena semata-mata penganutnya yang kurang bijak dalam mengaplikasikan ajaran Islam dengan benar.

Konsekuensi logis dari hadirnya paham plural harus kita benahi dan evaluasi. Tujuan awal paham ini yang memang mulia harus diluruskan keberadaannya. Hal-hal yang bersifat sensitif dengan memasuki ranah beragama harus diperbaiki pula. Karena, beragama bukanlah menjadi konflik lahirnya ketidakrukunan. Bahkan, pada awal kepemimpinan Rasulullah dengan piagam Madinahnya, umat beragama yang Islam, yahudi dan nasrani pun dapat hidup dengan baik dan rukun. Yang perlu kita benahi adalah bagaimana pluralisme bukan menjadi awal lahirnya paham ganjil yang akan memojokkan insan-insan yang beragama, khususnya Islam.

Berkaitan dengan perbedaan-perbedaan itu, alangkah bijaknya kita berdakwah dengan cara yang baik dan indah. Bukankah Rasulullah pun berdakwah dengan cara yang baik dan tanpa kekerasan? Tentunya, sikap terbaik kita dalam berhadapan dengan carut-marutnya pluralisme adalah menyiapkan akidah yang terhujam kuat dalam jiwa. Jangan sampai, akidah kita terjual hanya karena ingin mendapatkan keindahan duniawi semata. Wallohu’alam bishawab.

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Wajah Pahit Sebuah Pluralisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s