POLITIK PENCITRAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO TERHADAP DEMOKRASI INDONESIA

Oleh: Tetsuko Eika

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat subur dengan berbagai sumber daya alamnya. Indonesia laksana zamrud khatulistiwa yang dapat memberikan kesejahteraan seluruh masyarakatnya jika memang diberdayakan dengan baik. Indonesia adalah negara perjuangan yang didapat dengan tetesan peluh, darah hingga keringat para pejuang-pejuang kemerdekaan dari negara penjajah.

Dan, setiap pemimpin yang menduduki kursi nomor satu di Indonesia memiliki kebijakan dan manuver-manuver yang khas serta berbeda dari pemimpin yang lainnya.

Dalam masa presiden Soekarno, dapat dipelajari bahwa presiden pertama Indonesia itu memiliki karakter yang semangat, tak pernah gentar hingga optimisme hidup dan cita-cita yang hebat. Soekarno akan dengan lantang menyuarakan pendapat hingga kata-katanya dengan frontal sehingga mampu membakar semangat rakyatnya.

Lain hal masa presiden, maka lain hal juga dengan masa presiden Indonesia kini, Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden yang kini menjabat dua kali masa pemerintahan di Indonesia itu sangat terkenal dengan sistem politik pencitraannya yang kental dan penuh simpatik. Hadirnya politik pencitraan tersebut tentunya menimbulkan anggapan positif dan negatif dari rakyat Indonesia.

SBY dengan kata-katanya yang bersahaja, simpatik dan berusaha bijaksana di hadapan publik seakan membuai hati masyarakat yang memang sedang merindukan sosok lembut dan mengayomi pada pemimpinnya. Sayangnya, dibalik keindahan kata-kata dalam pidato hingga aktivitas SBY, masih banyak kekurangan yang kurang berdampak baik dari politik pencitraan yang dikenakan SBY.

Dalam dunia demokrasi ini, sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa politik pencitraan SBY berhasil dalam membentuk jiwa demokrasi para rakyatnya. Hal itu bisa terbukti dari jumlah partisipan pemilu pertama SBY di kepimpinan setelah Megawati. Masyarakat berbondong-bondong untuk memilih ke TPS atau tempat pemungutan suara karena merasa ada calon “berbeda” dari calon yang lainnya. Dengan kharisma SBY yang memiliki pengalaman dan kesuksesan dalam dunia militer Indonesia, memiliki dampak spesial bagi rakyat Indonesia yang sejak dari dulu sangat merindukan ketentraman dari pemimpin yang mampu mengayomi rakyatnya. Maka, hadirnya politik pencitraan SBY pada mulanya cukup berhasil membuat warga Indonesia untuk berjiwa demokrasi saat pemilihan presiden.

Namun, sayangnya politik pencitraan SBY yang seakan diagung-agungkan dan menjadi karakter khas SBY, kini perlahan menjatuhkan popularitas SBY itu sendiri. Masyarakat merasa telah “terjebak” dengan tampilan “tebar pesona” SBY pada waktu awal-awal tampilnya dalam kancah pemilihan presiden pasca Megawati. Ternyata, dari berbagai survei berbagai lembaga, masyarakat Indonesia memilih SBY sebagai presiden karena status jabatan sebelumnya, paras hingga kedudukannya dalam pemerintahan Megawati. Sangat sedikit masyarakat Indonesia yang memilih SBY karena maneuver program-program yang disodorkan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

SBY dulu memang lumayan sukses dalam menumbuhkan jiwa demokrasi warganya. Keloyalan kata-kata manis SBY yang seperti mencari “aman” dan tidak frontal, dulu sempat membuat warga terbuai dengan memberikan dampak “aman”, “nyaman” serta “tentram” bagi masyarakat. Kata-kata SBY yang “cerdas”, membuat masyarakatnya seakan diayomi dan dilindugi, apalagi ditambah dengan status SBY yang mantan berpengalaman di dunia militer Indonesia. Namun, lagi-lagi kini, masyarakat Indonesia merasa “gerah” dengan sikap SBY yang kian waktu kian sulit memberikan perubahan yang lebih baik bagi nasib bangsa. Popularitas SBY yang pada pemerintahan awalnya begitu luar biasa, kini seakan menyusut perlahan-lahan. Kini, masyarakat Indonesia semakin cerdas bahwa bukan hanya citra saja yang digunakan untuk memilih seorang pemimpin negara, namun kemampuannya dalam membuat kebijakan-kebijakan dalam mensejahterakan warganya.

SBY yang terkenal dengan sikap kehati-hatiannya memang dibutuhkan masyarakat Indonesia. Sifat kehati-hatian dan tidak tergesa-gesa mampu menghasilkan kebijakan yang tepat, cerdas hingga efektif. Hanya saja, dilihat dari kinerja dua kali masa SBY, sifat kehati-hatian SBY yang dominan itu malah membuat rakyat Indonesia menyangsikan kemampuannya sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Apalagi, kini Indonesia tengah mengalami banyak sekali permasalahan, baik internal maupun eksternal.

Masyarakat menganggap dan telah mengambil kesimpulan bahwa politik pencitraan SBY yang sangat lekat dengan sosok pria berdarah Jawa itu bukanlah penentu sejahteranya bangsa. Masayarakat kini membutuhkan sikap pengambilan keputusan yang cepat dari sosok SBY. Apalagi, Indonesia terjangkit wabah bencana Merapi hingga Mentawai. Tapi, SBY tetaplah bukan Soekarno. Jika meneliti secara detail, SBY dan Soekarno seperti dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang. Soekarno yang tegas, frontal dan tanpa “cas-cis-cus” sangat berbeda karakternya dengan SBY yang lebih mementingkan citra diri dan pengambilan simpati warganya. Namun, barangkali itulah yang menjadikan pemimpin Indonesia berwarna dan berkarakter.

Kini, masyarakat Indonesia membutuhkan sikap tegas dari sosok SBY. Politik pencitraannya pada masa sekarang malah kurang menimbulkan sikap demokratis warga Indonesia. Bahkan, yang lebih mirisnya, warga Indonesia kini banyak yang lebih apathies terhadap perkembangan Indonesia daripada sebelumnya. Warga Indonesia sudah merasa “bosan” dengan sikap SBY yang “lambat” dalam menuntaskan perkara internal atau eksternal negara. Akibatnya, bangsa Indonesia semakin kurang minatnya terhadap apa itu demokrasi Indonesia beserta aplikasinya.

Seperti yang terjadi pada pemilihan kepala daerah atau PILKADA di daerah kabupaten Bandung. Dari berbagai survey lembaga, minat partisipan masyarakat terhadap PILKADA sangat lemah dan tragis. Jika dihitung-hitung, masyarakat kabupaten Bandung yang ikut serta dalam pemilihan bupati tempo lalu hanya sekitar 60 % saja. Bahkan, yang membuat miris lagi, sangat minim partisipasi anak muda terhadap PILKADA. Jika hal tersebut terjadi, bisa menjadi indikasi global bahwa politik pencitraan SBY kini sudah tidak mempan lagi dalam menumbuhkan sikap demokratis warga Indonesia. Indonesia kini butuh pemimpin yang “gesit”, tegas dan mengerti tentang kondisi masyarakatnya. Bukan pemimpin yang “tebar pesona”, kurang tegas atau bahkan hanya mementingkan koalisi semata.

SBY dengan segala kekahasannya, tentulah memiliki karakter yang tidak bisa disamakan dengan presiden-presiden sebelumnya. SBY yang unik dengan sistem politik pencitraannya tentulah memiliki langkah yang berbeda pula dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya.

One thought on “POLITIK PENCITRAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO TERHADAP DEMOKRASI INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s