Kesalahan Bahasa Media Karena Ulah Wartawan?

Oleh: Tetsuko Eika

Bahasa bagi para jurnalis adalah senjata. Maka, pelurunya adalah kata-kata. Tanpa menulis, jurnalis tak akan pernah bisa menginformasikan peristiwa ataupun merubah pandangan masyarakat kearah yang lebih baik. Kehidupan jurnalispun haruslah terampil berbahasa. Bahasa jurnalistik harus padat, singkat, sederhana, jelas, lugas namun menarik untuk dibaca.

Tentunya, perlu ada keahlian khusus tentang kebahasaan yang harus dikuasai wartawan agar tercipta tulisan yang bermanfaat, komunikatif dan informatif. Para jurnalis dituntut pula untuk memahami kaidah bahasa Indonesia yang sesuai dengan tata bahasa yang telah ditetapkan. Namun, sayangnya banyak para jurnalis yang masih melakukan banyak kesalahan dalam menggunakan bahasa dalam tulisannya. Kesalahan-kesalahan itu pada akhirnya membuat kerancuan dan salah tafsir para pembaca.

Contoh kesalahan yang terlihat adalah dalam penulisan berita. Tak sedikit wartawan yang salah menempatkan pemakaian bahasa jurnalistik terhadap jenis tulisannya. Wartawan kerap pula menggunakan bahasa jurnalistik yang tidak sesuai dengan karakter atau gaya tulisannya sendiri. Misalnya saja dalam penulisan berita di dalam media massa, seharusnya wartawan menggunakan bahasa jurnalistik reportase dalam berita utama, tapi menggunakan bahasa jurnalistik feature yang memang digunakan untuk penulisan artikel tokoh atau tulisan ringan.

Kesalahan yang kerap terjadi bisa dilihat pula di berita olahraga. Rata-rata wartawan menggunakan bahasa daerah yang tidak populis dalam memberikan judul hingga penjelasan beritanya. Walhasil, banyak pembaca yang geleng-geleng kepala karena tidak mengerti. Wartawanpun sering salah menempatkan bahasa asing yang tidak dikenal masyarakat ataupun bahasa-bahasa teknis yang rata-rata hanya dimengerti oleh pihak-pihak tertentu saja. Jika diperhatikan, kesalahan-kesalahan tersebut akan menyebabkan efek negatif terhadap media massa yang notabene menjadi alat pencerdas bangsa.

Tentunya, dalam menyikapi masalah tersebut para wartawan yang “bermasalah” haruslah mendapat pelatihan bahasa yang khusus dan mendalam. Pendidikan kejurnalistikan harus dipupuk sejak dini dari bangku sekolah, bukan hanya saat persiapan menjadi wartawan saja. Selain itu, perlu ada redaktur bahasa dalam media massa. Redaktur yang menyeleksi dan memperbaiki ketatabahasaan dalam suatu media massa sangatlah bermanfaat untuk mengurangi kesalahan-kesalahan bahasa dalam tulisan para jurnalis. Jadi, jika kemampuan berbahasa para wartawan telah baik dan mumpuni, tentulah media yang menjadi ujung tombak pemberitaan massal akan menciptakan kecerdasan bangsa yang lebih signifikan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s