Aurangzeb, sang pemilik dua hati

Oleh: Tetsuko Eika

Aurangzeb adalah seorang pemikir Islam abad ke-17. Aurangzeb yang terkenal dengan sebutan Alamgir itu lahir pada 4 November 1618 saat kerajaan Dahood Mughal. Lalu, wafat pada 3 Maret 1707 pada saat kerajaan Ahmednagar dengan usia 88 tahun.(1618-11-04)
Ia merupakan salah seorang putra dari pasangan Shah Jahan dan Mumtaz Mahal  yang terkenal pada masa raja Shah Jahan dibangun mausoleum Taj Mahal. Saudara kandungnya yang lain adalah Murad, Shuja dan Dara Syikoh. Setelah wafatnya Shah Jahan akibat sakit dan penderitaan, Aurangzeb yang memiliki nama lengkap Abul Muzaffar Muhiuddin Muhammad Aurangzeb Bahadur Alamgir akhirnya menggantikan posisi ayahnya itu pada tahun 1653. Karena berbagai kebijakan baru di masa pemerintahan tegasnya yang memang dipenuhi berbagai tanggapan pro serta kontra, akhirnya Aurangzeb dikenal dunia sebagai raja Mughal terbesar yang bahkan malebihi kekuasaan raja Akbar Khan.

Banyak yang mengenal Aurangzeb kerena kesederhanaanya. Dari berbagai literatur, diceritakan bahwa raja ke-6 Mughal ini taat beragama dan kerap menolak menggunakan uang negara dalam kehidupan pribadi serta bekerja sebagai penganyam topi untuk memenuhi kebutuhan sehari – harinya. Bahkan, ia pun membeli kain kafan untuk pemakamanya sendiri. Tetapi, dibalik sisi kesederhanaannya, Aurangzeb dikenal pula sebagai sosok yang jahat, licik dan haus akan kekuasaan. Semua sikap itu banyak pula dibahas dalam berbagai buku hingga melahirkan banyak argumen dari para peneliti dan pemikir Islam di abad modern. Sebelum Aurangzeb menduduki tahta kerajaan, ia terlibat persekongkolan dengan saudara kandungnya, Murad. Ia melancarkan aksi itu untuk merebut tahta kerajaan dari ayahnya sendiri, Shah Jahan. Aurangzeb dan Murad berusaha untuk mengalahkan saudara-saudara kandungnya yang lain. Ia khawatir jika tidak disingkirkan, saudara-saudaranya itu bisa menduduki kursi tahta sebagai raja.

Aksi Aurangzeb dan Murab adalah perang pertama melawan Dara Syikoh. Karena kelihaian strategi perang, Aurangzeb dan Murad berhasil mengalahkan saudarinya itu. Bahkan, Aurangzeb dan Murad berhasil memenjarakan Dara dan ayahnya sendiri, Shah Jahan. Selanjutnya, Aurangzeb dan Murad berencana mengalahkan Shuja. Perang saudara kedua akhirnya terjadi pada tahun 1659. Di Khajwah dekat Allahabad, akhirnya Aurangzeb dan Murad berhasil melumpuhkan Shuja.

Karena merasa iri dengan kemenangan Aurangzeb, Murad selanjutnya memutuskan perjanjian persekongkolan dalam merebut tahta kerajaan. Sehingga, terjadilah perang saudara ketiga antara Murad dan Aurangzeb. Tetapi, Aurangzeb kembali berjaya. Ia berhasil mengalahkan Murad. Murad pun dipenjarakan dan pada akhirnya di hukum mati oleh Aurangzeb sendiri. Semenjak itu, tidak ada lagi persaingan antar saudara di kerajaan Mughal. Walhasil, Aurangzeb pun naik tahta menjadi seorang raja dan mendapat gelar Sultan Aurangzeb Alamghir yang jika diartikan menjadi yang menaklukan dunia.

Dari peristiwa kejahatan Aurangzeb diatas, banyak sekali yang bisa dipelajari dan dikritisi. Sebagai seorang muslim, Aurangzeb tidaklah pantas membunuh dan menganiaya saudara kandungnya sendiri. Itu jelas-jelalas dilarang oleh agama dan termaktub dalam kitabullah. ”Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Qs An-Nisa’ 93). Dan, dibahas pula di ayat Al-Qur’an yang lain: ”…Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi” (Qs. Al-Ma’idah 32).

Mengkaji dari dua ayat diatas, sudah sangat jelas bahwa perbuatan Aurangzeb sudah diluar konteks perilaku Islam yang sangat mencintai perdamaian, berukhuwah Islamiyah dan bahkan yang diajarkan oleh Rasulullah sendiri. Apa yang telah diperbuat Aurangzeb ternyata sudah sangat keliru dari nilai-nilai keislaman. Meskipun ia memiliki sikap taat beragama, peduli pada kesejahteraan rakyatnya dan pandai mengelola stabilitas perekonomian kerajaan, tetap saja membunuh adalah dosa besar. Ketaatannya pada Allah SWT dan sisi positif akhlaknya sangat tidak pantas disandingkan dengan perbuatan jahat pada saudaranya sendiri.

Kerajaan Islam Mughal yang dipimpin oleh Aurangzeb pun ternyata memiliki sisi “suram” dari hal kehidupan beragama. Karena ingin memperbaiki kondisi keislaman yang ditinggalkan raja Akbar yang memposisikan Islam sebagai simbol formal tanpa makna, bahkan pada masa raja Akbar Khan Islam seakan melebur dengan kepercayaan lain termasuk Hindu, akhirnya Aurangzeb berusaha membuat revolusi kebijakan baru. Kondisi keislaman yang  “buruk” pada masa Akbar yang mengundang banyak ketegangan para penganut Ahlusunah wal jamaah pada masa itu, berubah drastis pada masa Aurangzeb. Aurangzeb melakukan banyak kekerasan dan menegakkan syariat Islam pada masanya. Tentu saja hal tersebut sangat bertentangan dengan cara dakwah Rasulullah yang halus. Bahkan, Rasul pun senantiasa sabar meskipun banyak orang yang menghardik hingga memerangi agama Allah. Tetapi, di masa Aurangzeb, ia memurnikan ajaran Islam dengan merusak tempat ibadah agama lain seperti Hindu. Apa yang dilakukan Aurangzeb bukanlah pesan Islam. Kebijakan Aurangzeb untuk menghancurkan kuil-kuil Hindu, meletakkan arca di jalan-jalan agar selalu diinjak tampaknya menjadi sebuah kekeliruan. Hal ini menyebabkan terjadinya pemberontakan hebat dari kalangan Hindu.

Padahal, Rasulullah sudah mengajarkan tentang etika berdakwah. Dalam ayat Al-Qur’an dijelaskan bahwa: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. An-Nahl [16]: 125). Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa dalam berdakwah, seorang muslim harus dengan cara yang baik. Tidak dengan kekerasan apalagi yang berujung pada pembunuhan. Gaya berdakwah Rasulullah patut dicontoh karena Rasulullah berdakwah dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Jika harus berdebat, Rasulullah akan berdebat dengan cara yang elegan. Bahkan, Rasulullah selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. Seperti yang terjadi pada kisah kakek tua buta yang selalu menghardik Rasulullah, namun Rasulullah selalu menyuapi kakek tua itu tanpa pamrih setiap harinya.

Dibalik sisi gelap perilaku Aurangzeb, tentu ada hal yang bisa dijadikan contoh yang baik. Seperti kebijakan penggunaan kalender komariah Islam peninggalan Akbar dan menghentikan pemahaman raja Akbar yang terlalu menyepelekan agama Islam di masyarakat. Aurangzeb pun menghapuskan pajak-pajak yang bisa memberatkan rakyatnya. Ia juga seorang cendekiawan terpelajar dan bertanggung jawab dalam penyusunan buku risalah Islam yang di buat oleh India. Ia pun banyak memberikan fatwa Alamghir untuk mengatur peradilan Islam kala itu. Bahkan, Aurangzeb mendirikan pusat pendidikan di Lucknow. Ia menyebarkan Islam di setiap masjid dengan mempunyai lembaga tingkat dasar yang dipimpin oleh seorang guru. Sehingga, Sejak berdirinya pusat pendidikan itu, banyak ilmuan yang belajar di India.

Usia Aurangzeb yang semakin menua sudah sangat sulit untuk menyelesaikan berbagai pemberontakan yang terjadi di masyarakat. Sehingga, akhir masa pemerintahan Aurangzeb adalah pada tahun 1707 M. Apalagi ditambah dengan hadirnya bangsa Inggris yang hadir ke India untuk menancapkan kolonialismenya, Aurangzeb semakin sulit mempertahankan kerajaan Islamnya. Dan akhirnya, di masa raja selanjutnya setelah Aurangzeb, Mughal dikalahkan oleh pasukan dari Persia dipimpin oleh Nadir Shah . Pada 1756 M. pasukan Ahmad Shah merampok Delhi. Aurangzeb yang wafat pada tahun 1707 meninggalkan kejayaan Islam yang mampu memperluas daerah kekuasaan hingga ke seluruh daratan Asia Selatan.

Jika dicermati lagi, tetap saja perilaku buruk yang dilakukan oleh Aurangzeb sangat tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh dien Islam. Aurangzeb tidak mengaplikasikan seutuhnya ajaran Islam dalam dirinya. Dilain sisi, ia sungguh berakhlak baik namun disisi yang lain ia bisa sangat kejam dan tidak berhati nurani.

Hal itu terjadi karena pengamalan nilai-nilai keislaman Aurangzeb sangat kurang. Bahkan, bisa diakibatkan karena minimnya pemahaman Islamnya. Mengingat, pada masa itu agama Islam adalah agama minoritas yang hidup di lingkungan agama Hindu yang mayoritas. Jadi, seakan-akan agama Islam serta lingkungan yang islami sangat sulit ditemukan pada abad ke-17 masa Aurangzeb kala itu. Perilaku Aurangzeb yang kerap berselisih dengan saudara-saudaranya hingga masyarakatnya sendiri disebabkan pula oleh pandangan Aurangzeb yang memandang Islam sebagai  lahan berpolitik kotor. Nampaknya, dengan statusnya yang memegang Islam politik itu, ia bisa menghilangkan seluruh penghalang dengan menghalalkan berbagai cara hanya demi memegang kursi kerajaan. Padahal, dalam Al-Qur’an sudah sangat terang dijelaskan tentang yang haq dan yang bathil.

“Dan (Rasul) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. (QS. Al-A’raf:157). Dari ayat diatas telah dinyatakan perbedaan antara yang baik (haq) dan yang buruk (bathil). Perilaku kekerasan dan pembunuhan Aurangzeb jelas-jelas bathil. Dan dalam Islam tak ada niat yang disatukan. Tak ada niat baik dengan jalan melakukan perbuatan buruk. Jika salah maka salah dan jika benar maka benar. Tak ada yang abu-abu dalam Islam.

Perilaku tidak baik dalam dakwah Aurangzeb pada akhirnya bisa menjadi bentuk pengingkaran kepada Allah SWT jika tidak disertakan taubatan nasuha didalamnya. Perilaku yang tidak harmonis antara yang baik dan yang buruk bisa dikatakan sebagai tanda-tanda jahiliyah akhlak. Seperti sabda Nabi saw kepada Abu Dzar ra, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang pada dirimu terdapat unsur jahiliyah.” (HR. Bukhari). Dari sisi kehidupan Aurangzeb ada sebuah unsur jahiliyah yang patut kita hindari, yaitu jahiliyah akhlak. Dimana seorang muslim masih taat beragama namun perilaku maksiat masih dijalankan. Cara yang bisa ditempuh untuk menjauhi sifat jahiliyah akhlak ini adalah dengan memperbaiki kualitas shalat setiap harinya. Dalam Al Quran surat Al ‘Ankabuut ayat 45 Allah berfirman:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Seseorang yang senantiasa menjaga kualitas shalatnya tentu akan bisa menjaga akhlaknya. Sehingga, akan benar-benar mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Wallohu’alam bishawab.

3 thoughts on “Aurangzeb, sang pemilik dua hati

  1. Meluruskan Sejarah Kaisar Sultan Aurangzeb Alamgir
    By Dr. Habib Siddiqui
    Posted: 9 Jamad-ul-awwal 1427, 5 June 2006

    Dari penguasa muslim yang memerintah India dari 712-1857, mungkin tidak satupun yang menerima kutukan/cacian dari penulis barat dan hindu sebagaimana Aurangzeb. Ia digambarkan sebagai seorang Muslim yang anti hindu, yang memungut pajak atas mereka dan berusaha mengislamkan mereka yang membuat diskriminasi terhadap mereka melalui jabatan-jabatan administratif, dan mengganggu benda-benda keagamaan mereka. Pandangan ini dipromosikan oleh pemerintah melalui buku-buku teks sekolah dan kampus pasca pembagian India (setelah tahun 1947). Hal ini diproduksi untuk melawan salah satu penguasa india terbaik yang saleh, ilmiah, suci, un-bias, liberal, dermawan, toleran, kompeten, dan berpandangan jauh.

    Untunglah, beberapa tahun terakhir ini beberapa sejarawan hindu mulai memperdebatkan pandangan ini. Sebagai contoh, sejarawan Babu Nagendranath Banerjee menolak tuduhan pemaksaan kaum Hindu agar berkonversi ke Islam oleh penguasa muslim dengan menyatakan bahwa jika itu tujuan mereka maka di India hari ini tidak akan jumlah penduduk Hindu hampir empat kali lebih banyak dibandingkan dengan Muslim, meskipun faktanya Kamu Muslim memerintah disana selama sekitar 1000 tahun.
    Banerjee menantang hipotesis Hindu yang menyatakan Aurangzeb anti-Hindu dengan alasan bahwa jika yang terakhir benar-benar bersalah atas kefanatikan seperti itu, bagaimana ia bisa menunjuk seorang Hindu sebagai Pangglima militer?

    Tentunya, dia bisa saja diberikan untuk menunjuk seorang jenderal Muslim yang kompeten di posisi itu. Banerjee lebih lanjut menyatakan: “Tak seorang pun harus menuduh Aurangzeb berpikiran komunal. Dalam pemerintahannya, kebijakan negara dirumuskan oleh orang-orang Hindu. Dua Hindu memegang posisi tertinggi di Kas Negara. Beberapa Muslim berprasangka bahkan mempertanyakan kebaikan keputusannya untuk menunjuk non-Muslim untuk kantor tinggi tersebut. Kaisar membantah dengan menyatakan bahwa dia telah mengikuti kaidah-kaidah Syari’ah (Hukum Islam) yang menuntut menunjuk orang yang tepat di posisi yang tepat. ”
    Selama pemerintahan Aurangzeb yang lima puluh tahun itu, banyak umat hindu seperti Jaswant Singh, Raja Rajrup, Kabir Singh, Arghanath Singh, Prem Dev Singh, Dilip Roy, dan Rasik Lal Crory, memegang jabatan administratif yang sangat tinggi. Dua jenderal peringkat tertinggi dalam pemerintahan Aurangzeb, Jaswant Jaya Singh dan Singh, adalah Hindu. Sementara jendral hindu lainnya yang mengepalai garnisun yang terdiri dua sampai lima ribu prajurit adalah Raja Vim Singh dari Udaypur, Indra Singh, Achalaji dan Arjuji. Bayangkan, jika Aurangzeb anti orang Hindu, mengapa ia menempatkan orang-orang hindu ke posisi tinggi, khususnya dalam bidang militer, yang mana posisi tersebut bisa melakukan pemberontakan melawannya dan mengkudetanya dari tahta?

    Kebanyakan umat Hindu lebih menyukai Akbar ketimbang Aurangzeb dengan alasan pejabat diistananya multi-etnis yang mana kaum Hindu turut serta. Sejarawan Shri Sharma menyatakan bahwa Ketika Sultan Akbar berkuasa, ada empat belas Hindu Mansabdars (pejabat tinggi) di istananya, sedangkan Aurangzeb menempatkan 148 Hindu untuk posisi yang tinggi di istananya. (Ref: Pemerintahan Mughal) Tapi fakta ini agaknya kurang diketahui.

    Beberapa sejarawan Hindu menuduh Aurangzeb terhadap penghancuran Candi Hindu. Bagaimana hal ini bisa ditudukan terhadap orang, yang telah dikenal menjadi orang saleh, seorang penganut Islam yang taat? Al-Qur’an melarang setiap muslim untuk memaksakan kehendaknya pada non-Muslim dengan menyatakan bahwa “Tidak ada paksaan dalam agama.” (surah al-Baqarah 2:256). Surah al-Kafirun dengan jelas menyatakan: “Bagimu agamamu dan bagi saya adalah milikku.” Hal ini tidak pantas dilakukan oleh seorang yang faham islam sekaliber Aurangzeb untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ketetapan Al Qur’an.

    Interestingly, the 1946 edition of the history textbook Etihash Parichaya (Introduction to History) used in Bengal for the 5th and 6th graders states: “If Aurangzeb had the intention of demolishing temples to make way for mosques, there would not have been a single temple standing erect in India. On the contrary, Aurangzeb donated huge estates for use as Temple sites and support thereof in Benares, Kashmir and elsewhere. The official documentations for these land grants are still extant.”

    Menariknya, edisi 1946 dari buku teks sejarah Etihash Parichaya (Pengantar Sejarah) yang digunakan di Bengal untuk siswa kelas 5 dan 6 menyatakan : “Jika Aurangzeb berniat menghancurkan kuil hindu untuk diganti menjadi mesjid, maka tidak akan ada satupun kuil hindu berdiri tegak di India. Sebaliknya, Aurangzeb menyumbangkan lahan luas untuk digunakan sebagai situs Kuil dan mendukung pembangunannya di Benares, Kashmir dan tempat lain. dokumentasi resmi untuk hibah tanah ini masih masih ada. ”

    Sebuah prasasti batu di Balaji bersejarah atau Candi Wisnu, terletak di utara Chitrakut Balaghat, masih menunjukkan bahwa pembangunan itu ditugaskan oleh Kaisar sendiri. Bukti hibah tanah Aurangzeb untuk situs agama Hindu yang terkenal terletak di Kasi, Varanasi dan dengan mudah dapat diverifikasi dari catatan perbuatan yang masih ada di situs tersebut. Buku pelajaran yang sama juga menyatakan: “Selama lima puluh tahun pemerintahan Aurangzeb, tidak seorang Hindu pun yang dipaksa untuk memeluk Islam Dia tidak mengganggu kegiatan agama Hindu..” (hal. 138). Alexander Hamilton, seorang sejarawan Inggris, yang mengunjungi India menjelang akhir pemerintahan Aurangzeb, mengamati bahwa setiap orang bebas untuk melayani dan menyembah Tuhan dengan caranya sendiri.

    Sekarang mari kita bahas tentang jizyah yang diterapkan Aurangzeb yang mendapat kritikan keras dari sebagian besar sejarawan Hindu. Memang benar bahwa jizyah dihapus pada masa pemerintahan Akbar dan Jahangir dan Aurangzeb kemudian menerapkannya kembali. Sebelum kita menggali subjek jizya Aurangzeb, atau pajak bagi non-Muslim, akan lebih bermanfaat untuk menunjukkan jizyah yang tidak lebih dari pajak perang yang dikumpulkan dari warga non muslim yang berbadan sehat yang tinggal di Negara muslim yang tidak ingin menjadi sukarelawan untuk pertahanan negara. Artinya, pajak tersebut tidak diberlakukan bagi non-Muslim yang mengajukan diri untuk membela negara. Pajak ini tidak diberlakukan bagi perempuan, anak-anak maupun dari lelaki cacat atau tua. Atas pembayaran pajak seperti itu, pemerintah Muslim berkewajiban melindungi kehidupan, harta dan kekayaan warga non-Muslim. Jika untuk alasan apapun pemerintah gagal melindungi warga negaranya, khususnya selama perang, jumlah kena pajak dikembalikan.

    Perlu ditunjukkan di sini bahwa zakat (2,5% dari kekayaan) dan ‘ushr (10% produk pertanian) dikumpulkan dari semua Muslim, yang memiliki kekayaan (melebihi minimum tertentu, yang disebut nisab). Mereka juga membayar sedekah, fitrah, dan khums. Tak satu pun dari hal ini diberlakukan bagi non-Muslim. Faktanya pendapatan dari umat Islam beberapa kali lebih banyak dari non-Muslim. Sementara itu Auranzeb malah banyak melakukan penghapusan pajak, meskipun fakta ini biasanya tidak disebutkan. Dalam bukunya Mughal Administrasi, Sir Jadunath Sarkar, sejarawan terkemuka pada dinasti Mughal, menyebutkan bahwa selama pemerintahan Aurangzeb berkuasa, hampir enam puluh lima jenis pajak itu dihapuskan, yang mengakibatkan kehilangan pendapatan tahunan sebanyak lima puluh juta rupee dari perbendaharaan negara .

    Sementara beberapa sejarawan Hindu mencabut kebohongan ini, buku pelajaran dan catatan sejerah di negara-negara Barat belum mengakui kesalahan mereka dan meluruskan fakta sejarah ini.

    http://albalagh.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s