Kekhasan Dakwah Seorang Yusuf Al-Qaradhawi

Oleh: Tetsuko Eika

 

 

 

Keterangan Buku:

Penulis                : Syaikh Akram Kassab

Penerjemah      : Muhyidin Mas Rida, Lc

Penerbit           : Pustaka AL-kautsar

Tahun  Terbit   : Juni 2010

Jenis Buku       : Pemikiran Islam

Dalam sinopsis yang dapat dilihat di kaver belakang buku tersebut tertulis:

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi -hafizhahullah- adalah ulama abad ini yang dalam dirinya menyatu berbagai keistimewaan dalam berbagai disiplin ilmu; sebagai ulama fikih dan ahli hadits, seorang murabbi, intelektual dan akademisi, ulama dan penyebar ilmu, penyair dan sastrawan, kritikus dan ahli dalam berargumentasi, guru dan aktivis pergerakan, ahli sejarah dan politik, dan berbagai keistimewaan lainnya yang terekam dalam jejak hidupnya selama mengabdi di jalan dakwah.

Sebagai seorang dai, Syaikh Al-Qaradhawi dikenal memiliki seni berdakwah yang khas, bahasa yang lugas, argumentasi yang bernas. Ia mampu memahami realitas kekinian, serta memiliki visi ke depan dalam membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin, peradaban yang bersendikan nilai-nilai Islam yang bisa membawa pada kemaslahatan umat manusia. Kesejukan dakwahnya terasa ke berbagai penjuru dunia, dari Asia sampai Eropa, dari Afrika sampai Amerika.

Sebagai seorang aktivis pergerakan dan murabbi, Syaikh Al-Qaradhawi dikenal ahli dalam bersiasat, mengerti kapan harus berdiplomasi dan kapan harus berkonfrontasi. Kapan harus bersikap tegas dan kapan harus melunak. Semuanya didasarkan pada pertimbangan keilmuannya yang luas, pemahamannya yang mendetil, dan keimanannya yang kokoh. Meski begitu, ia juga manusia yang tak lepas dari dosa, tak kebal dari kritik dan teguran.
Realitas kekinian dengan beragamnya kelompok-kelompok Islam, Syaikh Al-Qaradhawi menyikapinya dengan landasan ukhuwah, berpegang pada kaidah yang diserukan sang guru, Hassan Al-Banna, “Bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dan saling memberikan toleransi atas apa yang kita berbeda pendapat tentangnya.”….

***

Dalam buku yang memiliki tebal 551 halaman ini menceritakan banyak hal dari kehidupan Yusuf Al-Qaradhawi, terutama dalam hal manhaj dakwahnya. Buku ini membahas tentang riwayat hidup dan aktivitas dakwah ulama Islam yang lahir Mesir ini. Selain itu, dibahas pula tentang bakat dan perangkat dakwah Syaikh Al-Qaradhawi, metode dalam manhaj dakwah Al-Qaradhawi, karakteristik umum dakwahnya hingga pengaruh manhaj Al-Qaradhawi dalam dakwah kepada Allah SWT.

Secara umum, dijelaskan bahwa Yusuf Al-Qaradhawi memiliki pemikiran moderat terhadap Islam. Ia menjelaskan bahwa maksud sikap moderat dalam manhaj dakwahnya itu adalah sikap seimbang antara dua hal yang bertentangan, yang mana salah satu dari keduanya tidak cenderung mempengaruhinya dan menolak keberpihakan. Yusuf Al-Qaradhawi pun menilai bahwa mengamalkan agama Islam haruslah moderat atau tawasuth. Manhaj dakwahnya selalu dihiasi dengan kemudahan dengan menggunakan berbagai media dakwah. Bahkan, Yusuf Al-Qaradhawi pun menggunakan media syair, teatrikal, televesi, media cetak dan berbagai piranti massa untuk menyebarkan agama Islam. Tentunya, jika hal-hal yang menyangkut keteknisan dalam berdakwah, seperti ikhtilat atau percampuran aktivitas yang berlebihan antara wanita dan pria dalam berdakwah (khususnya teaktrikal) sangat dilarang oleh Yusuf Al-Qaradhawi. Syaikh membuat manhaj sendiri yang hasil ijtihadnya bersifat memudahkan. Alasan mengapa sang ulama melakukan rukhsah atau kemudahan dalam berfatwa hingga mengaplikasikan ajaran keislamannya karena umat Islam memang ditetapkan sebagai umat moderat. Dalam nash Al-Qur’an dijelaskan bahwa: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan.” (Q.S Al-Baqarah: 143). Selain itu, karena sikap moderat adalah karakteristik asli bagi peradaban Islam sepanjang sejarah. Yusuf Al-Qaradhawi pun memandang bahwa Rasulullah bersifat moderat. Yang artinya, bahwa Rasulullah pun tidak meninggalkan keduniaan hanya untuk mengambil kejayaan akhirat. Buktinya, Rasulullah pun menjadi pengusaha hingga sukses. Itu bukti bahwa Rasulullah pun bersikap moderat dalam mengaplikasikan ajaran Islam dari Allah SWT.

Memang, sungguh banyak sekali orang yang mencela dan menghardik ajaran khas Yusuf Al-Qaradhawi. Terutama dari pihak yang sangat memegang aliran ke-mahdzaban. Bahkan, banyak pula dari golongan para jamaah tertentu yang menilai bahwa sang Yusuf bersikap bid’ah dalam beragama, alasan para golongan tersebut berkata demikian dilihat dari sepak terjang YusuF Al-Qaradhawi yang sangat supel memanfaatkan berbagai media dalam berdakwah. Padahal, bagi golongan-golongan tertentu, memanfaatkan media (seperti teatrikal, syair atau hingga film) masih sangat tabu dan berlandaskan haram hukumnya. Namun, Yusuf A-Qaradhawi berpikiran lain, ia berijtihad bahwa berdakwah dengan berbagai media merupakan kemudahan dan diperbolehkan, asalkan tidak keluar dari nash-nash Al-Qur’an, Al-Hadist dan berakhir pada kemaksiatan.

Kekhasan lain dari manhaj dakwah Yusuf Al-Qaradhawi adalah melepaskan diri dari fanatisme dan berorientasi madzhab. Ia menilai bahwa sifat fanatik (Ashabiyah) merupakan penyakit terbesar yang Allah uji kepada umat Islam. Hal itu didasarkan pada kata-kata Rasulullah yang berbunyi: “Tidak termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada fanatisme, berperang karena fanatisme dan mati karena fanatisme.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Al-Adab). Tapi, benar-benar sungguh disayangkan sekali. Penulis berpendapat bahwa apa yang disebut kefanatikan terhadap madzhab selalu saja ada. Seperti yang terjadi pada jamaah Biz Jaz. Ketika fatwa dari Biz Jaz hadir, jamaah mengelu-ngelukan hingga mengagung-agungkan, tetapi jika fatwa dari ulama lain yang hadir, jamaah ada yang menghardik atau bahkan menganggapnya angin lalu. Penulis sangat menyayangkan sikap tersebut. Dari buku yang penulis baca itu, murid-murid Al-Qaradhawi pun masih demikian. Ketika fatwa datang dari Al-Qaradhawi, mereka bersuka cita, bangga dan meninggikan. Namun, jika fatwa itu hadir dari ulama lain, mereka sama saja dengan jamaah-jamaah fanatik madzhab lainnya, menganggap angin lalu. Maka, itulah bukti nyata di lapangan yang sangat  penulis khawatirkan akan menjadi bahan olokan dan pelecehan orang-orang non Islam ataupun Barat. Dikhawatirkan mereka menganggap bahwa Islam adalah agama yang tidak sejalan dari teori dan prakteknya. Padahal, penulis menganggap bahwa apa yang dikemukakan Yusuf Al-Qaradhawi tentang larangan kefanatikan itu ada benarnya. Hanya saja, pemahaman jamaah belum bisa tembus kesana.

Pemikiran Islam Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi tentang kefanatikan madzhab diaplikasikannya dalam kehidupan berorganisasi. Yusuf Al-Qaradhawi tidak takut dalam mengemukakan pendapat bahkan mengkritisi dengan santun terhadap suatu jamaah yang fanatic sekali terhadap ulama-ulamanya. Yusuf Al-Qaradhawi pun pernah berpendapat dan mengoreksi tentang organisasi Ikhwanul Muslimin yang diikutinya sendiri di Mesir. Ia berpendapat bahwa organisasi tersebut masih terdapat kejumudan dalam sebagian metode, media dan sistem yang dibuat oleh Hasan Al-Banna. Dengan pemikiran moderatnya, Yusuf Al-Qaradhawi mengemukakan perihal inovasi-inovasi terbaru dalam berdakwah sesuai syariah. Bahkan, sang Al-Qaradhawi pun mengemukakan perihal partai Islam di Mesir.

Penulis menilai bahwa Yusuf Al-Qaradhawi merupakan ulama Islam yang besar dan memiliki pemikiran keislaman yang baik, rapi dan solutif. Hanya saja, perlu ada hal yang perlu diperbaiki dan di sempurnakan lagi tentang sistem dakwahnya yang moderat. SManhaj dakwah yang diberlakukan oleh Yusuf Al-Qaradhawi terkesan terlalu memudahkan. Contohnya saja perihal menggunakan media dalam berdakwah. Seperti teatrikal hingga bermain film. Hadist yang menyatakan hukum bermain film, bersyair dan berteatrikal dinilai masih pro dan kontra. Sementara, sang ulama Mesir ini dengan tegas membolehkan berdakwah dengan media itu. Maka, pasti akan hadir berbagai spekulasi antar ulama dan antar jamaah. Bahkan, Yusuf Al-Qaradhawi pun agak kurang sejalan pemikiran Islamnya pada jamaah harokiyah Ikhwanul Muslimin. Hal-hal itulah yang perlu di kritisi dari pemikiran seorang Yusuf Al-Qaradhawi. Tentang ke moderatannya, ke “netral” annya terhadap madzhab serta dalam manhaj dakwah yang “beda” dibanding Islam puritan lainnya.

Perlu ada pengawasan khusus, peraturan yang jelas serta batasan-batasan yang pasti terhadap kemoderatan tersebut. Sehingga masyarakat yang mengamalkan fatwa Yusuf Al-Qaradhawi masih bisa berdakwah dengan jalan yang syar’i dan tidak terkesan menghalalkan berbagai cara hanya untuk menyebarkan ajaran Al-Islam.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s