Hukum Berboncengan Motor dengan Bukan Muhrim

Waktu saya SMA dulu (hehe..jadi ingat masa muda nih..), setiap Jum’at pasti ada agenda rutinan bernama “Keputrian”. Agenda yang rutin digelar oleh anak-anak ROHIS Forum Islamic Students ini tak hanya membincangkan tata-cara membuat suatu kerajinan buat para akhwat-akhwatnya aja, tapi membahas dan mendiskusikan pula kejadian-kejadian yang lagi “in” dimasyarakat. Nah… sambil memorian kenangan manis waktu SMA dulu, saya share materi keputrian tentang hukum boncengan dengan yang bukan muhrim untuk sobat semua nih. Semoga terinspirasi untuk berubah pada kebaikan ya…yuuu check it out!

———————————————————————————

Dilarang Boncengan yang Bukan Muhrim

Hukum berduaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa kehadiran mahram dari pihak wanita adalah hal yang diharamkan oleh syariat Islam. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan. (Riwayat Ahmad)

Sepeda motor untuk daerah tertentu memang menjadi alat transportasi yang amat vital. Seringkali di suatu desa seseorang yang punya sepeda motor menawarkan bantuan untuk memboncengkan teman atau tetangganya. Atau memboncengkan teman kantor wanita, karena barangkali kasihan kalau harus jalan kaki. Pada dasarnya niat menolong ini sangat baik karena daripada harus jalan kaki yang jaraknya lumayan jauh, atau berjejelan di bus, maka membonceng teman atau tetangga memang sebuah solusi kepekaan sosial yang baik.

Masalahnya, bagaimana hukum seorang laki-laki memboncengkan wanita teman atau tetangganya dengan niat semata-mata hanya menolong? Tidak ada tujuan atau itikad aneh-aneh misalnya untuk selingkuh dan sebagainya.

Jawabnya adalah bahwa….

antara niat dengan cara harus sepadan.

Niat yang baik tidak mungkin dilaksanakan dengan cara yang tidak dibenarkan dalam Islam, meski mungkin seringkali dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat. Tanpa mengurangi rasa percaya kepada niat baik orang yang menawarkan bantuan untuk memboncengkan, namun dari posisi duduknya di sepeda motor sudah termasuk hal yang tidak mungkin dibenarkan.

Sebab umumnya sepeda motor itu hanya punya satu tempat duduk yang bila ada orang yang membonceng, maka pastilah keduanya berada dalam posisi berduaan, bahkan tubuh mereka pun bisa saling bersentuhan, baik dengan sengaja atau tidak. Akan sulit mengatakan bahwa posisi demikian bukan berduaan/khalwat.

Kalau kendaraannya taksi, bajaj atau becak, mungkin masih bisa dikatakan terpisah, sebab posisi sopir dan penumpang memang dipisahkan. Tetapi sulit untuk mengatakan bahwa dua orang berlainan jenis yang bukan mahram naik naik sepeda motor berboncengan itu bukan khalwat. Bagaimana bukan khalwat, padahal tubuh mereka satu sama lain nempel karena satu tempat duduk?

Cara Mengingatkan

Mengingatkan saudara kita agar tidak terjerumus pada larangan Allah SWT adalah sebuah kewajiban. Tinggal bagaimana cara menyampaikannya. Tentunya juga harus dengan cara yang baik. Bukan dengan cara menggunjingkannya, atau melakukna ghibah atau malah menyebar-nyebarkan berita yang kurang enak didengar itu.

ο»ΏAdaο»Ώ banyak teknik yang bisa diambil. Salah satunya dengan menyampaikannya secara pribadi dan rahasia kepada yang bersangkutan. Tentu saja bukan dengan bahasa seorang hakim, melainkan dengan bahasa seorang sahabat sejati. Dan penting untuk dicermati, bahwa tidak ada seorang pun yang akan merasa nyaman kalau diingatkan atau dinasehati dengan cara yang kurang tepat.

Mulailah dengan pembicaraan santai, mungkin sambil mentraktir makan, atau sambil jalan-jalan, pendeknya carilah suasana santai. Lalu mulai masuk ke pembicaraan tentang calon pasangan hidup masing-masing. Kalau yang bersangkutan merasa nyaman dengan tema tersebut, masuklah lebih dalam lagi. Mungkin anda bisa bicara tentang berbagai model manusia dan cara-cara mereka bergaul dengan calon pasangannya. Kemudian bila dia masih tetap merasa nyaman atau malah tambah asyik dengan tema tersebut, bersabarlah dulu untuk tidak melakukan tembak di tempat.

Carilah waktu lain lagi untuk kembali saling berbicara tema tersebut. Barangkali kali ini dia sudah mulai agak terbuka dan siap bercurhat-ria dengan anda. Bahkan bisa jadi hal-hal yang selama ini disembunyikan, mulai dibuka dan disampaikan. Sementara anda masih tetap harus bersabar dulu, sebab boleh jadi dia pun masih menebak-nebak kemana arah pembicaraan anda.

Sampai waktunya dia merasa aman dan nyaman bicara dengan anda, masuklah ke tema utama, tapi jangan terlalu dalam dulu. Mulailah dari kulit-kulit terluarnya. Dan bila tidak ada masalah, mungkin bisa sedikit ditambah dengan inti yang lebih berbobot lagi, hingga benar-benar pesannya tersampaikan, tapi tanpa rasa tersinggung darinya.

Metode seperti ini memang gampang-gampang susah, tapi tetap perlu dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Selamat berjuang dan berdakwah, semoga niat baik dan upaya anda dimudahkan Allah SWT, Amien.

Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.

 

9 thoughts on “Hukum Berboncengan Motor dengan Bukan Muhrim

  1. Assalamualaikum wr.wb.
    saya mau tanya mbak..
    saya sering berboncengan dengan teman laki2 saya, tapi kami tidak ada maksud apa2, kami juga tau ttg dalil diatas dan insyaAllah kami juga menjaga untuk ttp mengingat dan ttp berada di jalan Allah swt. saat berboncenganpun saya juga menjaga posisi agar tidak sampai menempel antar tubuh. bagaimana hukumnya jika seperti itu ? apakah yang saya lakukakn sudah termasuk dosa besar dan melanggar aturan ?

    • wa’alaikumsalam…
      Sahabat Tika, Insya Allah sy mengerti maksudnya.
      Tapi, menurut hemat sy, selama masih bisa menggunakan kendaraan lain atau berjalan kaki, itu pasti yang terbaik. Berusahalah dgn keras utk tdk dibonceng dgn yg bukan mahram apapun yg terjadi. Salam hangat ^_^

  2. Aslm,bagaimana jika ada yang berpendapat karena alasan darurat. misalnya jalannya sangat jelek, dan dalam keadaan terpaksa. mohon penjelasannya..

    • wa’alaikumsalam…..
      mnurut saya, dikembalikan saja kpd niatnya…
      Insya Allah, jika mmg sangat darurat dan mmg tdk ada yg bisa mnggantikan, tdk mngapa…. asal tetap mnjaga interaksi dgn sang pengendara. Tapi, mnurut saya… sebisa mngkin untuk dihindari agar tdk mnimbulkan fitnah. wallohu’alam

  3. Assalamualaikum..
    syukron atas note ini, jika boleh saya bertanya…istri saya pernah saya larang untuk berboncengan dengan rekan kerjanya dalam hal menjalankan tugas kerjanya..tapi Wallahualambishawab apakah dia masih berboncengan atau tidak…
    nah pertanyaan saya jika istri saya masih berboncengan dengan rekan kerja laki-laki yg bukan muhrimnya ..bagaimana jatuh hukumnya…?

    • wa’alaikumsalam…..
      mnurut saya, agar lebih menjaga… istri bapak lbih baik mnggunakan transportasi umum jika dibanding dgn dibonceng oleh rekan kerja yang laki-laki…
      hal itu agar lebih mnjaga hati dan mnjauhkan fitnah dari rekan2 kerja atau orang lain yg melihat….
      wallohu’alambishawab…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s