Jejak Sang Pengembara #Sekuel 1: Jejak 2 –> Mimpi Seorang Petualang

Apa kabarnya sobat? masih stay tune di kisah autobiografiku ini? Hehehe….

Jejak 2 kali ini menceritakan tentang latarbelakang pemberian namaku: Eka Purwitasari. Nama yang sederhana, tapi… dalem banget artinya.Mmm… selain itu alasan pemberian nama kakak cowokku juga lho. Oia, biar nyambung, bagi yang belum membaca jejak 1 ” Mengintip Cinta dibalik Layar” silakan klik link ini: https://eikavio.wordpress.com/2011/04/26/jejak-sang-pengembara-sekuel-1-jejak-1-mengintip-cinta-di-balik-layar/

Okey deh… kita lanjut ke jejak 2 “Mimpi Seorang Petualang” ya….

Bismillah…

Di bulan September 1986, kakakku lahir. Sebuah nama yang unik pernah terucap oleh papaku untuk kakakku. “Federick Thompson,” ujar papa semangat. Aku mengernyitkan alis mata. “Federick Thompson?” tanyaku heran. Papa lalu tersenyum. Memperlihatkan dereta gigi putih nan rapinya. Ya, sebuah nama yang entah benar atau tidak aku menuliskannya itu pernah masuk kedalam nominasi calon nama kakak laki-lakiku. Namun, aku tak pernah mengetahui bagaimana ceritanya papa dan mamaku terinspirasi untuk memberi nama anak pertamanya dengan nama “asing” seperti itu. Mamaku pernah berkata bahwa nama itu terinspirasi dari tokoh film bule. Dan, mungkin karena papaku sangat mengidolankannya, nama Federick Thompson sempat masuk kedalam daftar nominasi nama anak pertamanya. Selain nama Federick Thompson yang masuk daftar nominasi, ada sebuah nama unik yang ketika aku mendengarnya aku terkekeh kecil. Andi Jago Tutugan. Ya, Andi Jago Tutugan. Aku tertawa. “Masa?” tanyaku tak percaya. “Kok bisa?” lanjutku. Tak habis pikir, kedua orang tuaku sempat akan memberi nama “garihal” itu untuk kakakku. “Ya Allah.. terinspirasi dari mana Ma?” tanyaku lagi. Tampak mama menahan tawa. “Dulu, waktu mama hamil si aa, papa suka dongeng silat yang tokohnya itu ada yang namanya Jago Tutugan,” jawab mama. Aku terbengong sambil tersenyum. “Hebat juga ya…!”

Tapi, entah bagaimana pula, papa dan mamaku memberi nama Andi Lasa bagi kakak laki-lakiku itu. Dan, bagiku nama itu tetap saja “asing” (seperti nama Federick Thompson dan Andi Jago Tutugan). Lasa… ya, sebuah nama yang aneh di dengar di tatar Sunda. Bahkan, saking anehnya nama itu, banyak yang mengira bahwa kakak tertuaku itu berasal dari Sulawesi. Bahkan juga, ada yang mengira kalau kakakku lahir di pegunungan Lhasa Tibet. Aku tersenyum. Geli rasanya.

Mamaku selalu bercerita bahwa di masa kehamilan pertamanya, ia selalu hadir dalam berbagai pengajian dan ta’lim-ta’lim keislaman. Mengaji pun tak pernah luput dalam kesehariannya. Mungkin, karena itulah kakakku terlahir sebagai anak yang baik. Entah baik dalam tanda kutip atau tidak, namun aku merasakan seorang Andi Lasa hadir sebagai kakak pertamaku yang selalu menjadi teladan. Tak lama berselang, ketika usia kakakku lima tahun, lahirlah aku. Sebagai seorang anak perempuan pertama dalam keluarga, papa dan mamaku memberi nama Eka Purwitasari kepadaku. Dan, karena nama Eka itulah, banyak kawan-kawanku menyangka bahwa aku adalah anak pertama!. Sungguh, mereka telah terkecoh! “Padahal, aku kan anak kedua,” terangku suatu hari pada kawan-kawan.

 Aku, dengan segala ulah masa bayiku pernah akan diberi nama Rinrin Rohmantin oleh kedua orang tua. Padahal, aku lebih memilih nama Rinrin dibanding nama Eka. Entah mengapa.. namun, bagiku, nama Rinrin sungguh unik dan jarang terdengar. Apalagi, aku penggemar kartun-kartun Jepang, yang dulu, sewaktu aku masih kecil pernah menemukan nama Rinrin dalam sebuah kartun bernama “Dr. Rin”. Jadilah aku mengidolakan nama Rinrin. Meskipun, terkadang aku selalu membayangkan seorang anak cadel yang akan mengataiku “Linlin…linlin…” yang berakhir dengan sebutan “lilin..lilin.”

Meskipun aku tak meraih nama Rinrin, aku tetap kagum dengan nama Eka Purwitasari. Sebuah nama sederhana yang bermakna dalam. Mamaku pernah berkata sewaktu aku duduk di bangku SMP, bahwa nama Eka Purwitasari berarti anak pertama yang manis. Semanis sari madu. Mama dan papaku berharap, aku mampu menjadi anak yang “ada”. “Ada” sebagai wanita yang mampu peduli pada sesama. Selain itu, mama pernah berujar: “Sari itu…’nyari’…jadi, biar Eka itu banyak yang ‘nyari’…gitu…” aku tersenyum. “Mama ada-ada aja..”

Peace ahh ^__^

Peace ahh ^__^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s