Hanya Satu. Hanya Iman

Hanya sebuah,

Namun membekas.

Berjaya dan menghujam dengan kekar.

                Hanya segenggam,

                Namun mengangkasa.

                Mekar, segar penuh ketentraman.

Ia hanya sekepal,

Namun mampu merubah dunia.

                Ia hanya abstraksi yang tak nampak

                Namun, buahnya mewangi, mewarnai

Ia iman.

Yang duduk dilangit-langit hati.

Bersemayam dalam relung-relung hari.

                Tapi, apakah kini aku beriman?

                Ataukah sudah menjadi sampah?

                Lalu masuk tempat sampah. Membusuk.

Atau mungkin, iman ini diculik?

Oleh lintah-lintah dunia?

Dihisap auranya pelan-pelan.

Dimatikan cahayanya.

                Iman.

                Masihkah ia ada dihatiku?

                Menemani hariku?

                Dalam ibadah pada-Nya?

Ataukah, ia sudah berpisah?

Lalu menukarnya dengan fana semata?

Atau, dengan foya palsu raja-raja dunia?

Iman,

Kembalilah ke sini.

Hidup-hiduplah di sini

Di hati ini.

Satu iman,

Pada Tuhan.

Hanya pada Allah.

                Yang menyemai peradaban.

[Tetsuko Eika – November 2011 – dalam drama tetarikal “Permata Iman” FLP Jatinangor]

2 thoughts on “Hanya Satu. Hanya Iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s