Dari Padang Adenium…

 

Sahabat, adalah seikat kehangatan.

Ia menari-nari dalam dekap-dekap hari.

Lalu, mewarnai dengan cahaya pelangi.

Sahabat, adalah mentari.

Merasuk ke dalam lubuk-lubuk hati.

Mendekap semangat dan menaburkan kebahagiaan.

Memberikan semuanya nampak berbinar.

Seperti di padang Adenium.

Antara Vim dan Zabarjad.

 

***

“Kita main perahu kertas yuk!” Dua bola matamu mengedip riang. Aku mengangguk. “Di kolam ikan ya!” Sejumput senyum mentari muncul di balik hangatnya pribadimu. Aku mengangguk lagi. Lalu, kau angkat tinggi-tinggi perahu-perahu kertas itu di udara. Di 1996. Dan kau semakin riang tersenyum lepas. Senyum Adenium. Bersamaku. Senyum cinta!

***

            2010 di kereta Jatinegara – Bandung. Vim. Kupanggil ia Vim. Sebongkah semangat. Ia hadir saat semua orang memaksaku terjun ke dalam jurang kesunyian. Ia mengulurkan tangannya padaku ketika semua orang mencibirku. Vim. Adalah anugerah Tuhan, untukku. “Kau duduk saja, biarlah aku berdiri di sini.” Nadamu kekar, Vim. Aku terperanjat saat kau katakan itu. Kau biarkan aku terduduk di jok busa yang empuk, sementara kau berdiri. Bersandar pada besi-besi yang bergoyang-goyang. “Terimakasih…” Lirih kuucapkan pelan. Dan kau, Vim, sesekali kulirik kau membaca bukuku. Malam kian menggila, Vim. Tapi, kau tetap tersenyum pelan-pelan. Senyum Adenium!

***

            Ini kisah antara aku dan Vim. Vim. Vim. Dan Vim. Manusia berhati lembut namun pemilik mata tegas yang berkilau. Vim. Manusia berprinsip namun penuh canda. Hidupnya teratur. Ia tenang. Seperti oase Sahara. Dia Vim. Sahabatku. Sahabat terlamaku. Bahkan, akhirnya kuketahui, ia sudah bersahabat denganku saat aku masih berenang-renang dalam air ketuban Mama. Vim. Ia sahabat paling menyenangkan. Vim. Ia sahabat dari padang Adenium.

***

Aku masih ingat sebuah kenangan dulu. Mengapa kau rela berpanas-panasan Vim? Mengepalkan tangan ke udara. Lalu mengapa kau berteriak penuh semangat? Mengibaskan takbir dengan penuh gelora. Vim? Aku kepanasan di sini. Kau paksa aku berkerudung serapi ini. Memintaku hadir bersamamu di lapangan Tegalega. Lalu, ini tujuanmu? Kau paksa aku melihat lautan manusia bergolak di sini? Bertakbir-takbir riang? Begitukah Vim? Kutatap peluhmu yang mengucur. Sementara aku sengaja bersembunyi di balik payung. 2 SMP. Vim membuka jalan cahaya yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Vim. Manusia paling dekat yang kumiliki. Dari padang Adenium.

***

            Aku mengetahuinya! Vim lah yang menangis tersedu-sedu untukku. Bukan! Tetapi karena rasa syukurnya pada Tuhan, aku bisa lolos masuk SMA pilihannya. Vim, masih kuingat kau bersujud syukur. Lalu, kau begitu bersemangat mengatur keperluanku masuk SMA. Vim, apa yang kau rencanakan untukku? Kau begitu bahagia bisa mengantarkanku sekolah. Lalu, setelah itu, kuketahui lagi kau membantuku mendapat “hadiah” istimewa. Kau, menginginkanku menggenggam cahaya dari padang Adenium. Padangmu. Dan kini, padang kita!

***

            “Kau tak boleh membaca ayat-ayat Qur’an seperti itu!” Vim menatapku gemas. Dibacakannya ayat yang kubaca dengan salah. Suaranya jelas, hangat dan damai. Aku tercenung menatapnya. Lekat-lekat. “Vim sahabatku, kau tetap sama. Selalu membantuku mendapatkan cahaya.” Aku bergumam dalam hati. Berharap peristiwa itu terulang, terulang, terulang setiap harinya.

***

            Vim. Hari itu ia mentraktirku roti cane. Dan secangkir teh tarik. Vim. Masih sama. Ia sahabat yang baik hati. Masih memiliki niat menyenangkan hati orang sepertiku. “Enak?” Vim menatapku pelan. Dipandangnya suasana café. “Sering-sering mentraktirku ya.” Aku tersenyum. Vim tertawa kecil. Tawa dari padang Adenium. Padang kita!

***

            Dialah Vim. Yang mengajariku banyak tentang agamaku. Vim. Ia akan riang gembira ketika kutanya tentang zionisme, kondisi Palestina hingga perang pemikiran. Vim. Ia akan bersungut-sungut menceritakan kisah Nabi Muhammad lalu aktifitas keagamaannya. “Hmm… Vim, kau memang sahabat yang berbeda! Kau dekat, dan aku akan semakin mengenalmu.”

***

            2006. Aku akhirnya mengetahui, rupanya kaulah yang menjebloskanku ke lubang cahaya. Ramai-ramai teman-teman aktifis masjid menyalamiku. Membuatku aneh. Ramai-ramai mereka meminta dengan setengah memaksa untukku bergabung dalam aktifitas mereka. Dan, pada akhirnya, berkat kebaikan hatimu pula aku bertemu dengan kain lebar pertamaku. Kain yang dengan ikhlas menutup kepalaku. Menjuntai menutup auratku. “Vim, kau memang sahabat yang luar biasa! Kau dekat, ada di padang kita. Padang Adenium!”

***

            Kucium tanganmu, Vim. Takzim. Ini perpisahan kita. Kau berusaha menjaga agar air matamu tak menetes. Masih tegar. Sungguh kokoh. “Do’akanku agar selamat hingga tujuan,” ucap Vim sambil mencium tangan Mama. Nampak rona wajah Papa mendung. Seperti di langit-langit air mata. “Vim…” Kupanggil namanya pelan. Dan Vim menoleh. Menampakkan dua biji matanya yang menyayu. “Hati-hati di jalan. Bertahanlah di sana….” Dan, kau tersenyum manis, Vim. Untukku. 2011 kita berpisah. Langit Sabtu itu membiru dengan gagah. Segera kau naiki mobil hitam itu. Menuju bandara Soekarno-Hatta.

***

            Vim. Sahabat terbaikku. Ia hadir menjadi obat. Obat keras kepalaku. Vim. Ia kawan sekaligus pendengarku. Pendengar keluh-kesah manjaku. Vim. Ia laki-laki tangguh bagiku. Dan kini, jarak memisahkanku dengan Vim.

***

            “Islam memberikan ketenangan kan?” ucap Vim, padaku. Aku terperangah. Lalu mengangguk. “Islam membawaku lebih indah, Vim.” Ia tersenyum. Vim tersenyum padaku. Masih dengan senyum yang sama. Senyum dari padang Adenium.

***

            Vim. Lagi-lagi ia sahabatku. Ia lebih dari seorang sahabat lelaki bagiku. Ia penunjuk kunci. Kunci cahaya ini. Aku masih mengenang saat-saat indah bersama Vim. Di jalan Merdeka Bandung, di Utan Kayu Jakarta, di toko buku, di masjid hingga di rumah. Kami kerap bersama, berdua. “Vim, mengapa jalanmu cepat-cepat sih?” Vim menoleh padaku. “Takut disangka suami-istri kan gawat!” Aku cengengesan. “Vim… Vim…. Kau memang selalu sama. Seperti cahaya di padang Adenium kita.”

***

Pohon-pohon itu mungkin bisa rapuh

Tapi, bukan untuk pohon-pohon di padang Adenium kami.

Rebak.

Luluh dan tembus pada simfoni hari-hari kami.

Vim.

Gelombang yang tak akan pernah habis.

Sahabat,

Dan…

Kakak kandungku.

Dari padang Adenium.

Padang tegar…

 

(Tetsuko Eika – November 2011. Menanti Vim pulang dari Bali)

3 thoughts on “Dari Padang Adenium…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s