Dolores

Oleh: Tetsuko Eika

Tahun 1945. Saat di Valencia, kau masih menggigiti kukumu. Sesekali kau menyeringai, lalu duduk sambil membulatkan mata hitammu. Terkadang kau pun tertawa kecil, lalu memukul-mukul tortilla de patatas[1] dengan ujung kaki kurusmu. Kau pun akhirnya terbahak, berteriak-teriak. Kencang sekali. “Isabel…Isabel… aku kini seorang pegulat!!”

Malam kian gelap saat kau terduduk tenang di kursi kayu. Kau tak henti menatap kapal-kapal pesiar di Bonifacio. Kau senang berlama-lama melamun disana. Bahagia disapa angin Corsica, kota kita. Pemukiman padat di Spanyol.  Seperti biasa, kau lalu terkekeh sambil melempari burung-burung camar dengan batu gamping putih. Lalu, aku disampingmu. Selalu menjagamu. “Dolores, aku rindu kau yang dulu!”

Suatu hari, kau tak ada dirumah. Aku cemas. Kucari kau di halaman belakang, di semak-semak, di anjungan pantai hingga ke kolong meja. Aku resah Dolores! Sungguh, tak ada manusia lagi yang menjadi bagian hidupku selain kau. Jadi jangan kau kabur dari hidupku!

“Isabelaaaaa!! Kemarilah…! Aku bisa memasak potaje de lentejas[2].” Aku terkejut! Ternyata kau duduk tergugu di belakang rumah tua kita. Memukul-mukul tanah dengan sikat gigi. Lalu mengaduknya dengan air sumur. “Kau tahu, Antonio paling suka makan ini. Dia bisa makan tiga piring dalam waktu sepuluh menit.” Kau masih berkata sambil terkekeh-kekeh. Kurapikan rambut setengah coklatmu yang masai. Aku bergumam dalam hati, “Duhai Dolores, rupanya ingatanmu masih kuat pada penjara-penjara dingin di ujung kota ini.”

Tahun 1946. Akhirnya sudah tujuh tahun berlalu Antonio tewas. Aku masih ingat, kau hampir mati berdiri melihat suamimu digantung di belakang pelabuhan. Suatu hari, aku pernah berkata padamu. “Dolores, perang saudara memang kejam. Kau tak bisa menghentikan konflik. Kita hanya orang kecil. Sadarlah! Bahwa ini kenyataannya. Kau dan aku adalah sisa penerus dari keluarga kita. Jadi, sadarlah!” Aku mengguncang-guncangkan tubuhmu. Sesekali aku mencubit hidungmu. Tapi, masih saja kau tertawa-tawa. Seperti anak kecil. Padahal usiamu menginjak empat puluh. “Isabel… Isabel…. Matilah kaum nasionalis… musnahlah kaum loyalis! Aku adalah pendekar… pendekar masa depan!” Dan aku, hanya bisa mengucurkan air mata. Di sini, di Bonifacio. Tempat kelahiran kita. Dan mungkin, tempat kematian kita.

Sore itu, dua kapal pesiar mengaum di pelabuhan. Di ujung pula Corsica kau nampak tersipu-sipu, kemudian bersembunyi di belakang tubuh gemukku. “Isabel kakakku, Antonio akan pulang! Aku lupa memakai minyak wangi!” Aku tertawa kecil. Kucubit lengan kirinya. “Lupakanlah Antonio. Dia tak akan pulang lagi dari berlayar.” Dan, raut wajahmu berubah seketika. Kau tarik selendangku. Menyobeknya engan kasar.  “Aku akan menunggu Antonio. Di sini! Di Bonifacio!” Dan, semenjak itupula. Setiap sore hingga malam, kau akan duduk berlama-lama di kursi kayu. Melamun dengan serius. Sambil sesekali melempari burung merpati dengan sisa remah rotimu.

 Perang saudara di Spanyol, hanya berlangsung tiga tahun. Dari tahun 1936 hingga 1939. Tapi, rupanya perang itu telah merontokkan hatimu, Dolores. Aku, hanya bisa menemanimu. Dan tak bisa memahamimu. Sungguh, aku ingin kita kembali seperti dulu. Dimana kita saling bertukar ikat kepala, bersahabat dengan kucing-kucing desa. Lalu bercerita tentang para pahlawan di pulau Corsica, pulau kita. Ah, tapi kini kau sudah berubah Dolores. Kau tak bisa ditebak. Sesekali kau tertawa, lalu kau menangis meraung-raung. Menyebut nama Antonio. “Antonio… Antonio…. Kapan kau pulang? Kapan?”

Tahun 1947. Aku hampir gila sepertimu, Dolores. Kau hampir mati tenggelam! Kau berkata, kau akan berenang menyebrangi lautan untuk menjemput Antonio. Aku hanya menghela napas. Kepalaku sudah mau pecah. “Dolores, kapan kau sadar? Ayo! Sadarlah…. Bangunlah dari dunia khayalanmu!” Lagi-lagi kau hanya terkekeh-kekeh. Lalu berkata. “Isabela, aku pandai berenang ya?”

Tahun 1955. Usiaku tak muda lagi. Tulangku sudah linu-linu. Tapi, rupanya kau masih bisa melompat-lompat seperti kelinci. Padahal, usiamu hanya beda lima menit dariku. “Ah, Dolores… aku sulit menjagamu lagi!” Aku berkata ketika kau duduk manis memakan sup pasta buatanku. Lalu kau akan berkata lagi. “Antonio kapan pulang ya? Dia suka sup pasta!”

Tahun 1960. Aku kena hipertensi akut. Dokter di Bonifacio berkata bahwa aku harus beristirahat di ranjang empuk. Tapi, jika aku nyaman tertidur di kasur lembut, bagaimana dengan adikku, Dolores? Aku tak bisa meninggalkannya barang sedetik. Ia seperti bayi tuaku. Kesayanganku. Kami memiliki wajah yang sama, bola mata yang sama, bahkan senyuman yang sama. Yang membedakan hanya satu, aku tak bisa bergerak riang, sementara kau masih nampak bugar. Seperti bocah sepuluh tahun.

Tahun 1965. Sepertinya usiaku sejengkal lagi. Tapi, aku tetap harus membersamaimu, Dolores sayang. “Lihatlah ini keriputku! Kita sudah jadi nenek-nenek!” Kau terkekeh-kekeh. Sama, seperti dulu.

Tahun 1967. Aku sulit bernapas! Dadaku sesak. Sepertinya aku akan mati. Sudah ada bayang-bayang kematian yang mengintai. “Dolores!” Kupanggil namanya dengan parau, nyaris tanpa suara. Tapi, syukurlah kau mampu mendengar suaraku. “Aku sepertinya akan mati…” Aneh, kau meneteskan air mata. Mengusap-gusap pipi keriputku. “Kembalilah seperti dirimu yang dulu…” Aneh, kau mengangguk-angguk, sepertinya kau sudah sadar! “Aku…a..a..aku..uu” kata-Suaraku mulai tercekat! Rasanya tubuhku tak bisa bergerak lagi! Dan, kau… terisak kian menjadi. “A..a..aku menyayangimu Dolores,” ungkapku sangat lemah. Dan, kau masih terisak-isak. Mataku mulai tertutup pelan-pelan. Rasanya darahku sudah membeku. Jantungku sudah tak berdenyut lagi. Tapi, suaramu masih terdengar. Meski sangat kecil, Dolores. Di detik terakhirku, kau membisiki telingaku. “Isabel… selamat tinggal! Tolong tanyakan pada Antonio, kapan dia pulang menemuiku ya!”

***

 (November 2011 – di kamar Adenium)

Terbit di buletin FLP Jatinangor  2011


[1] Tortilla de patatas yang artinya tortilla dari kentang, Pembuatannya adalah dari telur dan kentang.

[2] Potaje de lentejas adalah makanan spanyol yang cara pembuatannya paling murah tetapi rasanya sangat nikmat dan unik, Biasanya makanan ini banyak di sediakan di penjara-penjara spanyol karena harganya yang cenderung sangat murah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s