Dalam Proficiat

 

Proficiat!

Selamat!

Awan-awan menggiring halus

Menyemai senyum-senyum wangi

Di bawahnya berdiri sepasang kaki

Pernah terjungkal

Terjatuh

Terjerat

Lalu tumbuh mekar

Dalam proficiat!

 

Saya hanyalah seorang wanita. Titik! Itu fitrah, dan selamanya akan menjadi fitrah. Dan sudah genap dua puluh tahun usia saya hidup di dunia penuh ketamakan dan kefanaan ini. Pernah suatu ketika saya termenung. Menatap bintang gemintang yang bertengger di langit-langit malam. “Sebenarnya untuk apa saya hidup di dunia ini?” Pertanyaan nakal itu kerap bahkan rajin menyapa saya ketika kesendirian mendekap saya. “Hidup? Sebenarnya untuk apa?”

Saya akui, kehidupan memang bagai roda yang berputar. Terkadang kita berada di posisi prima. Berada di posisi yang cemerlang. Bahkan hingga sinar-sinarnya menusuk mata, saking gemerlapnya. Namun, terkadang kita tersungkur dan terjerembap. Lumpur-lumpur kepedihan menyapa dalam bingkai kegagalan. Semua berputar-putar. Menjadi simfoni yang penuh misteri. Dan, begitulah hidup menjelma. Ia selalu menggelinding! Membawa pengendalinya pada takdir-takdir kehidupan. Itulah hidup! Selalu dalam kuasa Allah Swt.

Maka, saya akhirnya bergumam kembali. “Sebenarnya untuk apa hidup? Jika kehidupan kita seakan dikutuk roda kehidupan yang kadang di bawah dengan air mata atau kadang bergulir ke atas dengan derai tawa?” Ahh.. rasanya saya terlalu picik jika menganggap hidup sesempit itu. Entah bagaimana prosesnya. Saya yakin semua berproses karena “tangan-tangan” Allah Swt yang menggiring saya. Pelan-pelan saya mulai memaknai kehidupan ini. Memaknai setiap senyum, delik mata, ringis air mata dan nyerinya hidup. Semua gemerincing dalam sebuah titik bernama prestasi kehidupan. Mungkin, ini prestasi yang sederhana. Tapi bagi saya, ini sungguh melegenda. Menyejarah!

***

“Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku.”(Adz Dzariyat : 56).

Ayat Al-Qur’an itu entah mengapa begitu menyesap dalam relung jiwa saya ketika saya duduk di kelas sepuluh SMA. Berawal dari kajian keislaman pekanan yang saya ikuti di ROHIS sekolah, banyak hal yang saya temui dan pelajari tentang Islam. Termasuk ayat itu! Hanya satu ayat, yang entah mengapa membuat saya gundah gulana. Gelisah bak dicekam macan. Ada rasa takut, cemas yang muncul mengintai. Rasa takut akan esensi diri yang kerap terlupa. Terlupa oleh setiap manusia. Ya, beribadah!

Hal yang membuat saya girang dan merasakan manisnya prestasi terbesar dalam hidup ini adalah ketika saya menemukan mata air. Mata air yang mampu menyusut air mata. Mata air yang beningnya memukau relung-relung sukma. Mata air yang ringkih mengembun halus dalam jiwa-jiwa yang gersang. Ialah tarbiyah. Ya, tarbiyah!

Tarbiyah? Apakah itu?

Tarbiyah bagi saya adalah simfoni. Ia menentramkan dengan syahdunya lagu-lagu cinta. Cinta kepada-Nya. Tarbiyah mengajarkan saya bagaimana memanusiakan manusia. Tarbiyah mendidik saya menjadi sosok yang tak hanya memburu dunia, namun berusaha menggenggam jannah-Nya. Tarbiyah adalah kebahagiaan bagi hati-hati yang rindu cahaya. Tarbiyah adalah proses menuju kesempurnaan ruh. Yang semuanya bergelombang dalam aktivitas sehari-hari. Ya, mengenal jalan tarbiyah adalah prestasi terbesar saya. Proficiat!

***

 

“Sebenarnya untuk apa hidup? Jika kehidupan kita seakan dikutuk roda kehidupan yang kadang di bawah dengan air mata atau kadang bergulir ke atas dengan derai tawa?”

 Dalam tarbiyah, pertanyaan sentiment dan nakal itu akhirnya bisa terjawab. Semua terurai manis dan rapi. Terjawab dengan satu hentakan keras namun mampu merenungkan. Adz Dzariyat : 56. Ya! Itulah jawabannya!

Akhirnya, kembali saya katakan, mungkin ini adalah prestasi yang bisa saja sangat sederhana. Tapi bagi saya, mengenal esensi kehidupan dalam bingkai tarbiyah adalah prestasi terbesar dalam hidup. Memahami hirup-hirup napas. Memahami diri sebagai seorang wanita. Memahami rintik-rintik air hujan yang menyiram bumi. Memahami siapakah diri ini, semuanya adalah sebuah esensi yang penuh proses. Dan, tarbiyah mampu menjawabnya dengan jelas. Dalam cinta-Nya.

***

Proficiat!

Selamat!

Pelan-pelan cinta dari-Nya menyusup

Mesra!

Dalam senyum

Dalam tawa

Dalam lingkaran kasih

Dalam tali persaudaraan

Proficiat!

Langit-langit merunduk

Girang!

Terkesima tak merana

Dalam tarbiyah!

Dalam proficiat!

 

 

 

Catatan hati di awal 2012

 

Tetsuko Eika

4 thoughts on “Dalam Proficiat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s