“Ingat Pak Iban, ingat tidak buang sampah sembarangan!”

Sinar matahari sudah terasa cukup terik memanggang tubuh. Nampak orang-orang sudah kelelahan sambil mengusap peluhnya. Bahkan, tak sedikit pula para pejalan kaki yang duduk sejenak di bawah teduhnya pohon di areal Car Free Day Dago Bandung pada Minggu (15/01). Meski matahari sudah mulai memancarkan aura panasnya, ada senyum yang masih mengembang di sana. Ada semangat yang masih membara. Dengan pakaian khasnya yang berwarna kuning dan sepeda ontelnya yang unik, lelaki tua berperawakan kecil itu masih bergairah untuk bersua lewat TOA-nya. Menyuarakan kata-kata penuh motivasi untuk menjaga kebersihan. “Kalau kita sudah cinta pada lingkungan bersih, marilah kita sadar dapat menahan diri tidak membuang sampah sembarangan!” serunya sambil menebar senyum. Senyum yang renyah, riang, dan juga ramah dari seorang pria kelahiran 7 Agustus 1943 bernama Sariban.

Lalu, siapakah Sariban itu? Mungkin, jika Anda melintas di jalan Pahlawan Bandung dan melihat seorang bapak berbaju kuning dengan sepeda ontel berstang menyerupai stir mobil, pasti Anda tengah berjumpa dengan seorang pria asli Magetan Jawa Timur yang akrab di sapa Pak Iban. Sariban setiap harinya bekerja sebagai petugas kebersihan secara sukarela di kawasan Jalan Pahlawan, Bandung. “Setiap jam delapan pagi saya pergi bekerja secara sukarela, setelah itu jam dua belas siang saya pulang dulu untuk shalat dzuhur, lalu dilanjut bekerja setelah ashar hingga pukul setengah enam sore, selepas itu lalu pulang ke rumah. Saya tidak meminta bayaran dari siapapun, hanya meminta kepada Allah Swt saja,” ungkap Pak Iban yang juga selalu datang menyuarakan peduli kebersihan di Car Free Day Dago Bandung setiap Minggunya.

Meskipun lahir dari keluarga yang tidak berada, Sariban sudah memiliki semangat juang yang tinggi dan rasa cinta akan kebersihan sejak kanak-kanak. “Allah yang telah membuat saya cinta pada lingkungan. Saya belajar dari teman-teman dan mulai belajar memelihara lingkungan,” terang Pak Iban yang sempat mengecap SR (Sekolah Rakyat setingkat SD pada waktu itu). Semenjak usianya 5 setengah tahun, anak bungsu dari 5 bersaudara ini sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, semenjak itu Sariban kecil diasuh dan dibesarkan oleh kakak pertamanya. Akibat peristiwa itulah, Sariban terbiasa hidup mandiri dengan berjualan ronde jahe di pasar  Madiun untuk membiayai sekolahnya di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) pada tahun 1956.

Dan akibat semboyan “Bandung Kota Kembang” yang sering diingat Sariban dalam pelajaran Ilmu Bumi, akhirnya pada tahun 1963 Sariban memutuskan untuk hijrah ke Bandung meski pada mulanya bekerja sebagai kuli aduk bangunan di IPTN.

Sebelum menjadi penyuluh kebersihan sukarela yang mendapat restu dari walikota Bandung, Sariban sempat bekerja di Rumah Sakit Mata Cicendo sebagai tukang bersih rumah sakit pada tahun 1972. Meskipun Sariban sempat ditawari bekerja di posisi pegawai administrasi Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung, ia tetap menolak posisi itu karena kecintaannya yang tinggi terhadap kebersihan di rumah sakit tersebut hingga pensiun di tahun 2000. Namun kiprahnya sebagai tenaga relawan penyuluh kebersihan kota Bandung sudah dimulainya sejak tahun 1983 dan masih berlangsung aktif hingga kini. “Sudah dua puluh delapan tahun saya mengabdikan diri di Bandung sebagai penyuluh kebersihan sukarela,” tutur pria yang memiliki empat orang anak dan tiga cucu itu.

Ketika ditanya bagaimana tanggapan awal masyarakat saat mengetahui Sariban memilih menjadi tenaga relawan penyuluh kebersihan sukarela, Pak Iban menjawab, “Saya sempat dikira orang gila, orang sinting oleh orang-orang. Tapi saya tetap legowo. Saya jadikan pembelajaran untuk perubahan yang lebih baik.”

Dan akibat keseriusan, kegigihan serta keistiqamahannya dalam menyuarakan sikap peduli pada kebersihan, Sariban banyak mendapat penghargaan baik dari pihak akademisi, pemerintah ataupun stasiun televisi swasta. Bahkan, sempat diundang keluar negeri untuk mengisi acara dan memberikan contoh keteladanan bagi masyarakat asing. “Saya merasa bangga dengan penghargaan-penghargaan itu. Tapi, dibalik itu semua saya sangat prihatin dengan kondisi sekeliling kita yang masih banyak yang kotor,” tutur Pak Iban yang bisa mendapat kesempatan beribadah haji dari penghargaan walikota Bandung.

Ketika disinggung tentang harapannya bagi pemerintah, Sariban sambil tersenyum menjawab ingin disediakan lebih banyak tempat sampah di tempat umum agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. “Dan kalau untuk masyarakat Indonesia, saya berharap masyarakat mampu menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Ingat Pak Iban, ingat tidak buang sampah sembarangan!” pungkasnya pada tim MaPI.[] (Eika)

(Dimuat di Majalah Percikan Iman edisi Februari 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s