Tidur, Antara Keajaiban Ilmiah dan Miniatur Kematian

Oleh: Tetsuko Eika

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa setiap orang membutuhkan tidur. Bahkan hewan dan tumbuhan pun perlu tidur untuk menjaga stabilitas hidupnya. Kebutuhan akan tidur sama halnya dengan kebutuhan akan makan dan minum. Jika kita tidak tidur, maka kinerja organ-organ di dalam tubuh kita akan terganggu sehingga menimbulkan berbagai penyakit. Tidur, memang aktivitas yang biasa, terjadi setiap hari dan mungkin dianggap suatu aktivitas yang sepele. Namun, tahukah Anda bahwa terdapat keajaiban yang luar biasa dalam fenomena tidur? Bahkan, tidur pun sangat erat kaitannya dengan miniatur kematian. Sebuah kematian kecil yang terus berulang setiap harinya.

Dalam kajian ilmiah, tidur didefinisikan sebagai peristiwa penurunan aktivitas sensoris atau kepekaan dan motoris atau gerak. Ketika tidur, organ dan sistem dalam tubuh kita mereda, otot-otot pun akan mengalami pelonggaran, detak jantung melambat sehingga kita merasakan tubuh kita rileks dengan berbagai bentuk perubahan fisiologis lainnya. Namun, meskipun tubuh dalam kondisi beristirahat, otak tidak berhenti bekerja. Masih terdapat respon terhadap stimulus yang bisa dirasakan. Sehingga ketika kita dalam kondisi terlelap, kita masih bisa mendengar suara dan bergerak.

Ketika tidur, terdapat serangkaian tahapan yang menunjukkan keadaan seseorang sejak masih dalam kondisi terjaga hingga terlelap pulas. Banyak ilmuwan memahami rangkaian proses tidur tersebut dengan menggunakan alat bantu bernama EEG atau electroencephalogram. Yaitu alat yang mampu merekam aktivitas elektrik pada otak dan memproyeksikannya dalam gelombang otak atau brain waves. Sehingga dari hasil proyeksi EEG, dibagilah tahapan tidur menjadi dua bagian, yaitu Rapid Eye Movement (REM) dan Non Rapid Eye Movement (NREM).

Dalam tahap REM, mengisi 20% – 25% dari keseluruhan waktu tidur kita. Sehingga pada tahap REM kita pun bermimpi dengan jelas. Tahap REM dengan gelombang yang tidak beraturan menggambarkan adanya aktivitas elektrik pada otak yang hampir serupa dengan kondisi terjaga. REM dtandai dengan adanya pergerakan mata, hilangnya kekuatan otot dengan pernapasan yang luas. REM pun dikenal juga aktivitas otak yang tinggi dalam kondisi tubuh yang lumpuh atau paradoks.

Sementara tahap kedua yaitu NREM merupakan kondisi tidur yang tenang. Kondisi itu ditandai dengan denyut jantung dan frekuensi pernapasan yang lambat serta stabil, kemudian tekanan darah pun menjadi rendah. Tahap kedua ini berlangsung selama 30-35 menit dalam tidur kita. Dua tahap tersebut, yaitu REM dan NREM berlangsung selama periode tidur. Tidur yang berlangsung selama sepertiga pertama malam sebagian besar adalah NREM, sementara kondisi mimpi itu hadir di sepertiga terakhir yang merupakan tahap REM. Dan biasanya, kita terjaga dari dalam tahap REM. Sehingga terkadang mimpi masih bisa kita ingat dengan jelas.

Tidur adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Sebelum kajian ilmiah diatas ditemukan, fenomena tidur bahkan sudah ada dalam firman Allah Qur’an Surat An-Naml ayat 86. Bahwa sesungguhnya Allah Swt telah menjadikan malam sebagai waktu beristirahat atau tidur. Selaras dengan kondisi tidur, Allah Swt pun menjelaskan pula dalam firman-Nya QS. Az-Zumar ayat 42.

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa rupanya tidur adalah sebuah miniatur kematian. Tidur merupakan kematian kecil. Pada puncak terlelapnya tidur, ruh dan jasad akan kehilangan keterkaitannya secara alamiah, sehingga segala macam aktivitas motorik yang ditimbulkan dikala tidur bukanlah hasil keinginan pribadinya seperti yang dilakukan ketika terjaga, bisa dikatakan itu adalah dimensi alam bawah sadar yang bekerja.

Dalam Q.S Az-Zumar: 42 di atas pun dijelaskan pula bahwa kematian mirip dengan tidur. Saat tidur, Allah mengambil ruh dari diri manusia dan kemudian Allah mengembalikannya lagi kepada raganya. Namun, ada pula yang ruhnya Allah tahan dan tidak mengembalikannya lagi, itulah yang dinamakan kematian.

Sejatinya setiap hari dalam hidup kita, kita mengalami kehidupan dan kematian yang berulang-ulang. Setiap malam kita mati dan esoknya kita dibangunkan kembali. Meskipun bukan sebuah kematian yang sebenar-benarnya, bisa dikatakan tidur adalah miniatur kematian. Sebuah kematian kecil.

Sehingga tak heran jika Rasulullah mengajarkan kita untuk berdo’a setelah terjaga dari tidur. Semua itu karena rasa syukur kita kepada Allah Swt yang telah menghidupkan (membangunkan) kembali kita dimana sebelumnya kita dalam keadaan mati (tidur). Wallohu’alam bishawab.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s