Trio Muslimah Pegiat Jilbab di Istana Sekuler Turki

Oleh: Eika (Penulis, jurnalis dan pegiat Forum Lingkar Pena)

Setelah hancurnya kekhilafahan Turki Utsmani oleh Jenderal Mustafa Kemal Attaturk pada tahun  1924, Turki yang menjadi salah satu basis peradaban Islam kian waktu kian menyusut cahaya keislamannya. Bahkan, kini Turki dikenal sebagai “Bapak Sekulerisme”. Mayoritas penduduk Turki adalah umat muslim, namun dalam kehidupan sehari-hari aplikasi nilai keislamannya sangat minim, dan sekat-sekat agama begitu dibatasi. Bentuk sekularisme itu bisa terlihat dari peraturan pemerintah yang melarang keras penggunaan jilbab digunakan di sekolah-sekolah, instansi pemerintahan, apalagi Istana di Turki.

 Ibarat aib yang memalukan, memakai jilbab dianggap dapat menghilangkan nilai-nilai sekuler yang dibawa oleh Attaturk. Sehingga tak sedikit, para muslimah yang berjilbab terpaksa datang ke kampus menggunakan rambut palsu untuk menutupi jilbabnya. Hal itu terjadi karena mantan Presiden Ahmet Necdet Sezer, seorang tokoh sekuler Turki melarang pemakaian busana muslim di lingkungan istana. Dan pada akhirnya, jilbab kemudian dilarang keras di semua lembaga dan institusi negara, termasuk sekolah-sekolah dan universitas.  

 Memang sungguh ironi! Tapi, lambat laun cahaya Islam mulai benderang di Turki. Bahkan, berawal dari balik istana negara. Tempat yang dikenal sebagai pusat sekulerisme Turki. Akhirnya, seorang muslimah yang merupakan istri presiden Turki periode sekarang, Hayrunnisa Gul adalah first lady yang membawa jilbab ke istana Dolmabache Turki.

Hayrunnisa Gul yang bernama asli Hayrunnisa Oyzurt adalah istri dari presiden Abdullah Gul yang menjabat sebagai presiden Turki ke-11 dari 27 Agustus 2007 hingga sekarang. Wanita kelahiran 1965 ini selain menjabat sebagai ibu negara, ia pun aktif berkiprah dalam proyek-proyek kemanusiaan, seperti masalah pendidikan, kesehatan dan hak-hak perempuan. Di tahun 2010 yang lalu pun Hayrunnisa Gul menjadi ibu negara pertama yang terjun langsung dalam isu-isu yang dihadapi anak dan perempuan dalam Majelis Parlemen Dewan Eropa.

Sebelum suaminya kini menjabat sebagai presiden, perjuangan Hayrunnisa Gul untuk berjilbab sudah nampak dari tahun 1998. Ia mulai disorot setelah bergabung dengan ratusan wanita-wanita berjilbab yang menggugat negara Turki ke Pengadilan Hak Azasi Manusia Eropa (ECHR) karena pendaftaran dirinya untuk masuk Universitas Ankara ditolak. Ditahun 2010 yang lalu pun ketika Hayrunnisa sudah menjadi ibu negara, rasa tidak senang terhadap dirinya yang berjilbab pun muncul dari pemimpin angkatan bersenjata Turki. Saat terjadi perhelatan besar di istana negara Turki, pemimpin angkatan bersenjata Turki memboikot acara karena mengetahui Hayrunnisa yang notabene wanita berjilbab datang juga menghadiri acara. Namun, meskipun banyaknya onak duri yang menghambatnya, Hayrunnisa tetap berjuang untuk hak setiap muslimah, yaitu berjilbab.

Selain Hayrunnisa Gul yang mewarnai istana negara dengan jilbabnya, ada dua muslimah petinggi negara lagi yang giat menggunakan hijab kemanapun ia pergi. Kedua adalah Emine Erdogan. Ia merupakan istri dari Perdana Menteri Turki sekarang, Recep Tayyip Erdogan. Perempuan kelahiran 1955 yang bernama asli Emine Gulbaran ini pun aktif menyuarakan hak-hak muslimah untuk berjilbab. Selain itu, ia pun aktif berkiprah pula dalam bidang-bidang kemanusiaan. Emine yang merupakan keturunan arab itu pun meraih penghargaan di tahun 2010 karena dedikasinya untuk rakyat yang dilanda banjir di Pakistan. Selain itu, Emine pun menjadi istri perdana menteri pertama yang mengunjungi korban penindasan muslim Rohingnya di Myanmar pada 10 Agustus 2012 lalu.

 Dan muslimah yang terakhir yang mewarnai Istana Turki dengan Jilbab  adalah istri dari Menteri Luar Negeri Turki, Sare Davutoglu yang kini berkiprah juga sebagai dokter.

Ketiga muslimah itu tetap istiqamah pada keyakinannya untuk berhijab. Perjuangan muslimah Turki memang sungguh luar biasa, mereka berusaha keras mengembalikan lagi budaya menutup aurat yang termaktub dalam ayat cinta-Nya di Q.S An-Nur: 31 di tengah-tengah masyarakat. Pemerintahan Erdogan pun mengamini niat baik para muslimah Turki. Erdogan terus berikhtiar agar undang-undang Turki yang sekuler bisa dirubah. Ia terus memperjuangkan agar kedepannya para muslimah memiliki hak dengan bebas untuk mengenakan jilbab di seluruh kampus hingga lembaga pemerintahan. Meskipun belakangan muncul konspirasi untuk menjatuhkan pemerintahan Erdogan, tapi cita-cita yang mulia tak akan pernah padam. Wallohu’alam.[]

(Terbit di majalah Percikan Iman edisi September 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s