Bocah di Ujung Dapur

Wajahnya tirus. Pipinya mengembung, mungkin kesal. Ia bersandar di tembok lusuh bak sapu lidi yang patah berurai-urai, kusam. Rambutnya keriting keriwil-keriwil. Kulitnya coklat kepanasan seperti ikan asin yang terpanggang di laut selatan.

“Mana bisa Bu?”

Lagi, ia bersandar kembali sekejap-sekejap. Senyumnya hilang. Entah malas tersenyum atau tak punya duit.

“Aku hanya ingin benar saja.”

Ia meracau lagi. Bibirnya manyun tiga senti. Gigi-gigi gingsulnya gemericik gemeletuk bagai hak sepatu wanita yang menyambar meja.

“Tak boleh lah! Kau bocah kutil. Dunia sibuk mengurus uang, kau sibuk mengurus nilai. Bagaimana pula kau ini Dar?”

Ah, tak kuasa bocah delapan tahun dengan bodi kurang gizi itu meloroh. Nangis matanya. Ada sembap yang mengilu-ngilu. Membuat siapapun yang menatap rasanya tersihir dan ingin berlari merangkulnya.

“Bu, guruku pernah bilang ini salah. Ya, kalau salah mesti dibetulkan. Kok ibu tak mendukung Dar?”

Dar memagut bibirnya. Ingusnya berderai-derai. Menetes ke lantai butut yang sudah lebih dari tiga puluh tahun tak diganti.

“Terus, Ibu harus datang ke sekolah. Lantas memaki gurumu karena kau dapat nilai sembilan?”

Bocah bernama Dar itu membeku seketika. Dipeluknya kedua kakinya ke dada. Iringan tangisnya masih tetap sama. Lantang dan mendayu.

“Sudahlah, itu rezekimu Dar. Terima saja, itu berkah dari Gusti Illahi.”

Ibunya menahan keringat. Dodol-dodol yang dibuatnya mengembang, dan tangan sang ibu berurat-urat, menyembul dan seperti akan pecah dua menit lagi.

“Dar tak mau Bu. Nilai ini harus diganti!”

Si bocah kurang gizi itu kembali meraung-raung. Buku rapotnya ia lempar ke ujung dapur yang lain. Dan ia masih tetap berkukuh bersimbah air mata di sana. Di ujung dapur lainnya.

“Tidak, Dar! Ibu malas ke sekolah lagi. Gurumu galak. Lagipula ini sudah libur. Seharusnya kau bersyukur dapat nilai sembilan dan bisa naik kelas. Kalau kurang dari sembilan, kau bisa diam kelas, Dar.”

Dar terdiam lagi. Masih tetap sama, membeku lantas berhenti meraung.

Tak lama saat Dar berhenti, Ayah masuk ke dapur. Disimpannya cangkul dan topi tani di atas meja butut nan reot. Ia tatap rona Dar dengan dua biji matanya yang hampir katarak.

“Ada apa Dar?” Ayah menghampiri, lantas merangkul pundak Dar.

Dar memelas. Ronanya siap untuk meraung lagi.

“Ayah, temani aku ke rumah Bu Sum, ingin kuganti nilai ini.”

Dar menyodorkan buku rapot merah yang angka-angkanya hampir luntur terciprat air mata.

“Hoy, sembilan? Kau hebat, Dar! Janganlah kau ganti! Sayang sekali!”

Ayahnya terperangah. Mungkin, baru kali ini ia dapati putra satu-satunya mendapat nilai menawan.

“Ayah!! Tak malukah??”

Dar berteriak, lantas menangis lagi.

“Malu apa Dar?”

Kerut di wajah Ayah nampak nyata. Makin dalam dan jelas. Wajah ayah seperti anak ayam kecil yang kehilangan induknya.

“Yah, Dar malu. Ini pelajaran agama. Tak pantas Dar dapatkan nilai sembilan. Seharusnya Dar mendapat nilai lima karena Dar menyontek saat ujian.”

Wajah Dar tertunduk. Ia seperti tengah menelan dilema. Wajahnya acak-acakan. Ada rasa malu, takut atau semburat rasa-rasa lain yang mencuat-cuat ingin unjuk gigi. Ia hanya ingin bisa benar. Hanya itu

“Dar…”

Ayah melembut.

“Baiklah, ayah kan antar dirimu menemui Bu Sum. Kau benar Dar, hidup harus jujur. Tapi, mintalah pada Bu Sum untuk mengurangi nilaimu satu angka saja ya, jadi delapan. Ayah tak kuasa kau nanti tinggal kelas.”

Dan Dar sontak terdiam. Melengos lantas berlari kabur dari dapur. Auranya merah padam. Tangannya mengepal keras seperti hendak menangkis tinju lelaki besar. Dar menggerutu…

“Tak adakah yang mau mengaku kejujuranku?”

 

TAMAT

Tetsuko Eika 2012

2 thoughts on “Bocah di Ujung Dapur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s