Realitas Pemuda dan Semangat Kebaikan

Dinamika kehidupan pemuda Indonesia memang penuh warna dan sensasi. Rupanya, “keberanian” pemuda masa kini sudah over. Tak sedikit pemuda yang ikut  mengedarkan narkoba, terjerat kasus pelecehan seksual, bahkan tak segan juga mereka umbar video mesum mereka ke youtube atau disebar via bluetooth ke teman-temannya. Dan, tak hanya itu, masih banyak sederet “catatan hitam” kisah pemuda Indonesia yang katanya menjadi generasi harapan bangsa.

Tak hanya koban mode, imej para pemuda pun terkenal dengan sifatnya yang hedonis, matrealistis dan bersikap acuh terhadap kondisi sosial.  Tak hanya itu, kebanyakan pemuda bangsa ini seperti hilang identitas. Mereka lebih asyik menggemari budaya luar tanpa mengimbangi dengan mencintai budaya sendiri. Buktinya, tak sedikit yang lebih enjoy berbahasa asing lantas lupa dan menganggap kampungan bahasa daerahnya sendiri.

Dan masih menyoal tentang warna-warni kehidupan pemuda Indonesia, barangkali ingatan kita masih fresh dengan peristiwa yang tak mengenakan beberapa waktu yang lalu, ya tawuran! Tawuran yang digawangi para pelajar SMA 6 Jakarta dan SMA 70 Jakarta berlangsung ricuh. Tak hanya masyarakat sekitar yang ikut resah, pihak sekolah, keluarga hingga bangsa Indonesia pun turut “geleng-geleng kepala” menyaksikan aksi premanisme pemuda berseragam putih abu itu. Bahkan, para mahasiswa pun rasanya “gerah” juga jika tidak ikut “hura-hura” dengan melakukan keributan dan brutalisme di jalanan.

Memang, malu rasanya jika mengetahui kondisi pemuda negeri kita yang begitu identik dengan imej negatif dan bobrok akhlaknya. Mereka yang seharusnya belajar dengan giat, berbakti pada masyarakat dan mengamalkan ilmu untuk kepentingan ummat, malah sik asyik memikul kayu lantas memukul “rival”nya tanpa welas asih bahkan ada yang sampai mati terbunuh. Apakah ini namanya pelajar? Sebenarnya, ini pelajar ataukah preman?

Pasti kita bertanya-tanya tentang siapa dalang dari semua fenomena bobroknya moral pemuda Indonesia. Lantas, buru-buru kita menghakimi pemuda bermasalah itu sendiri atau menuding pihak sekolah yang tidak bisa mendidik muridnya lebih alim meski sedikit. Atau, banyak juga diantara kita yang melirik pihak kepolisian yang  gerakannya lambat mengurai permasalahan pemuda. Tapi, apakah kita sempat memikirkan bahwa kejadian tersebut pun rupanya ada pengaruh dari kita juga?

Lha? Apa hubungannya dengan kita? Toh kita tidak menjadi pribadi yang buruk. Ya, memang benar! Barangkali kita tidak ikut serta dalam aktifitas negatif di atas. Dan, barangkali juga anak, saudara dan murid-murid kita pun bukan termasuk kategori pemuda yang telah dipaparkan di atas. Dan, akhirnya kita merasa lega. Beruntung anak kita tidak ikut terlibat dan terjerat kasus hukum. Tapi, lupakah kita bahwa kita pun memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebaikan di manapun?

Islam mengajarkan kita untuk berdakwah. Ya, menyeru umat manusia untuk kembali pada jalan-Nya. Perintah berdakwah dan berseru-seru dalam kebaikan sudah banyak dibahas dalam Hadits dan Al-Qur’an. Tapi, kerap kita melalaikan perintah tersebut. Kita lebih menikmati urusan pribadi daripada kebaikan sosial. Kita selalu saja berjibaku dengan urusan perut tanpa memikirkan kepentingan ummat. Padahal, jika kita memiliki kesadaran menuai kebaikan, pasti kejahatan dalam bentuk apapun akan mudah diredam atau bahkan diminimalisir seminimal-minimalnya.

Jadi, sembari mendakwahi diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik,  mulailah juga kita tatap keluarga kita. Didiklah mereka agar berakhlak baik dan dekat dengan Sang Illahi. Meski sulit dan butuh proses, setidaknya itu jadi pahala kebaikan bagi kita. Lalu cobalah lihat juga tetangga-tetangga kita. Jadilah inspirasi kebaikan bagi mereka. Pedulilah pada mereka. Bimbinglah mereka pelan-pelan pada akhlak yang baik. Mudah-mudahan dengan dakwah yang kita perbuat, meski sedikit demi sedikit, pemuda kita pun bisa terselamatkan dan bahkan bisa menjadi pemuda gemilang yang dirindukan Tanah Air. Ingatkanlah hati kita dengan surat cinta-Nya berikut ini;

“(Dan) orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (At-Taubah 71).  [Eika]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s