Kisah dibalik Cincau

“Kejujuran adalah berlian yang begitu mahal…”

Oleh: Eika Vio

Gambar

Di suatu siang hari yang terik, terjadilah perbincangan antara dua pedagang es cincau yang tak sengaja bertemu di sebuah masjid kecil. Kedua pedagang es cincau itu biasa berkeliling dari pagi hingga sore hari demi mengais lembar-lembar rupiah. Dan mulailah keduanya berbincang ringan sambil selonjoran di lantai masjid, menunggu adzan ashar.

“Yanto, bagaimana daganganmu? Laris?” tanya Rudi.

Alhamdulillah, masih banyak cincau yang belum terjual, lantas bagaimana dengan daganganmu?” balas Yanto sambil sibuk mengusap titik-titik peluh yang mengucur dari dahinya. “Masih banyak juga Yan. Tapi, tenanglah meski tak habis terjual hari ini, aku tetap untung besar.” Rudi tertawa lebar, menimbulkan tanda tanya bagi kawan dagang disampingnya.

“Untung besar? Wah enak sekali. Memang untung besar bagaimana?”

Yanto semakin merapatkan posisi duduknya pada Rudi, ia sangat penasaran ingin mengetahui rahasia kawannya yang bisa mendapat untung besar berdagang cincau.

“Yanto, kita ini memang hidup susah. Makan dan minum pun sulit. Belum harus membayar sekolah anak-anak kita. Kalau kita tidak memutar otak, kita bisa mati kering!” Yanto semakin penasaran dengan jawaban Rudi, lantas ia memburu lagi dengan pertanyaan baru.

“Memang, caramu memutar otak bagaimana?”

Rudi berjalan menuju gerobak cincaunya. Ia melambaikan tangan kanannya pada Yanto, isyarat agar kawannya itu menghampiri. “Yanto, coba lihat! Apa perbedaan cincauku dan cincaumu?” Sebagai pedagang cincau, Yanto langsung mengetahui rupa cincau buatan kawannya itu meski hanya dengan sekilas pandangan saja.

Astaghfirullah! Kau gunakan boraks dan pewarna teksil?” Yanto benar-benar kaget. Namun Rudi hanya tertawa melihat reaksi kawannya itu. “Yanto, kalau kita tak lakukan ini, kita akan hidup susah terus. Jadi, cobalah juga caraku ini ya. Kau pasti akan untung besar.”

Yanto lantas berjalan gontai menuju lantai masjid. Ia terduduk lunglai. “Rudi, aku kasihan padamu. Meskipun kau untung besar, aku tetap kasihan padamu.” Kini giliran Rudi yang dipenuhi tanda Tanya besar. “Maksudmu apa?”

“Rudi, kamu tahu jika perbuatan curangmu salah?”

“Ya, aku tahu. Tapi, jika tak kulakukan ini, hidupku semakin melarat! Lagipula para pembeli tidak akan mengetahuinya. Toh mereka tidak akan tahu mana yang alami dan yang aku buat seperti ini.”

Yanto mengehela napas panjang. Ditatapnya lekat-lekat kawan dari kecilnya itu dalam-dalam. “Kau benar Rudi, orang lain memang tidak akan tahu dan barangkali tidak bisa membedakannya. Lantas bagaimana dengan Dia?”

Rudi mengernyitkan kedua alisnya, tanda bingung.

“Dia? Dia siapa?”

Yanto lagi-lagi menghela napas panjang. “Dia.. ya tentu saja Tuhan kita… Allah… Kau tahu kalau Dia pasti melihat semua perbuatan kita? Dan apa kau tahu kalau Allah membenci orang-orang yang curang?”

DEG!

Bagai disambar petir, Rudi tiba-tiba tertunduk. Ia lunglai. Tak lama adzan ashar pun berkumandang dengan nyaring dan merdu. Keduanya masih terduduk bersama di lantai masjid. Mendengar seruan adzan itu, Yanto mulai bangkit dari duduknya. Ditepuknya bahu kawan disampingnya.

“Mari kita shalat, Rudi… lekaslah bertaubat pada Tuhan kita. Dan mulailah jujur dari sekarang.”[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s