Kita dan Madrasah Ujian

ujian hidup

Oleh: Eika Vio

Manusia memang sejatinya dilahirkan dengan seabreg tugas yang harus ia selesaikan. Semenjak manusia itu mulai menghirup oksigen pertama kali hingga ia menghembuskan napas terakhir, maka saat itulah ia memiliki banyak ujian yang harus ia selesaikan. Bahkan, manusia yang penuh ujian ini telah ditegaskan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi.

“Cobaan tidak henti-hentinya menimpa orang mukmin dan muknimah di dirinya, anak, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah tanpa punya dosa.”

Variasi ujian baik yang menyenangkan dan menyedihkan, sengaja Allah berikan agar manusia yang mengalaminya menjadi lebih kuat dan kokoh. Kita sudah paham betul bahwa menempa emas menjadi perhiasan indah adalah dengan cara letupan api yang sungguh panas. Atau, kita pun sudah mengetahui bahwa memasak sayur bayam agar terasa nikmat rasanya harus direbus dahulu dalam air yang  mendidih. Ya, begitulah rencana Allah. Allah memang inginkan setiap manusia menjadi lebih tahan banting, lebih kuat dari baja dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Dan tentunya semua itu ditempa di madrasah ujian.

Dalam menjalani madrasah ujian, rupanya tak sedikit manusia yang “buta” dalam mengetahui kenyataan ini. Banyak manusia yang menganggap ujian yang bertubi-tubi adalah cercaan, hinaan dan cemoohan yang menjatuhkan harga diri dan kehormatan. Bahkan, tak sedikit pula yang “mengutuk” Tuhan atas semua ujian yang dihadiahi-Nya. Padahal, ujian yang dideritanya tak seujung jari pun dengan ujian para Nabi dan sahabat Rasul yang mesti dibayar dengan harta yang tak sedikit dan bahkan nyawa.

Contoh ujian para Nabi dan sahabat terdahulu memang sangat jelas. Ya! Jika ada pikiran dangkal dalam memahami sebuah ujian, mana mungkin keluarga Yasir bisa meraih surga. Jika menjalani madrasah ujian dengan keluh kesah, benar-benar hal yang tak mungkin Anas bin An-Nadhr memperoleh kehormatan saat di perang Uhud, padahal tubuhnya terpotong-potong dan terkoyak. Bila Bilal tidak mengetahui esensi madrasah ujian yang begitu indah, maka tak akan pernah mungkin ia meraih tingkatan keimanan, padahal tubuhnya ditindih batu di gurun yang begitu panas dan gersang. Dan jika Nabi Yusuf tidak sabar dalam menjalani ujiannya berupa rayuan permaisuri Mesir, maka tak akan pernah bisa ia raih gelar “hai orang yang jujur.”

Sekali lagi, jika manusia-manusia yang luar biasa itu tidak menyadari bahwa ujian sebenarnya adalah kado terindah dari Tuhan. yang sejatinya ujian itu untuk mendewasakan dan membuatnya bertambah cinta kepada Sang Rabb, maka ujian itu akan berbuah laksana api neraka. Namun, jika manusia-manusia itu sadar akan indahnya ujian, maka ia akan peroleh buah yang nikmat laksana buah dari syurga.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.” (Q.S Al-Baqarah: 207).

Ketahuilah banyak sekali tokoh hebat yang lulus dari madasah ujian. Ada Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah, Shuhaib Ar-Rumi, Salman Al-Farisi, Khabab bin Al-Arat. Juga ada tokoh-tokoh lain yang bisa “bersinar” melalui tahapan-tahapan ujian yang telah mereka lalui, seperti Malik bin Anas, Abu Hanifah, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah dan tokoh-tokoh besar lainnya. Ujian-ujian yang mendera orang-orang tersebut tentu saja menyita banyak waktu, pikiran dan bahkan air mata. Namun, mereka yakin tempaan ujian yang “membara” dari Tuhan kepada mereka kelak akan membuatnya seperti emas yang berharga. Mereka pun sangat yakin deretan ujian yang hadir akan menjadikannya “orang” dikemudian hari. Lantas, mengapa kita masih mengeluh dan menyudutkan Tuhan ketika kita berada dalam madrasah ujian?

[Terinspirasi dari buku “Tushiyah untuk Aktivis Islam” Dr. Najih Ibrahim]

—–

Gambar di ambil di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s