Problematika Nikah Siri

cincin nikahDalam buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah” karya Cahyadi Takariawan, dijelaskan bahwa pernikahan adalah suatu peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. Ya, pernikahan memang bukan persoalan sederhana. Pernikahan pun merupakan satu-satunya cara untuk menyatukan dua insan berlainan jenis dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena begitu “sakral” dan agungnya ibadah pernikahan, Allah Swt bahkan menyebut perjanjian dalam pernikahan sebagai mitsaqhon ghalidzaa yang menggetarkan ‘arsy-Nya.

Dalam aplikasinya, tentu sajaproses pernikahan mesti dilakukan secara benar. Tak hanya sah secara agama, namun sah pula secara negara.  Hal itu dilakukan agar hakikat pernikahan yang sejatinya untuk membawa kebahagiaan dan kemaslahatan bisa tercapai. Namun, rupanya problematika seputar pernikahan tak kunjung redup. Baru-baru ini kegemparan terjadi saat media massa kita membicarakan soal fenomena nikah siri seorang pejabat daerah yang menikahi banyak wanita dengan rentang waktu pernikahan yang sangat singkat. Salah satunya bahkan hanya bertahan hanya empat hari saja!

Memang, dilematika nikah siri bukanlah soal baru. Kasus demi kasus mengenai pernikahan “tersembunyi” ini rupanya tak hanya banyak dijumpai di desa, namun kini menjamur pula di perkotaan. Tak hanya menimpa kaum yang kurang mengerti saja, tapi kini sudah menjadi tren kaum terdidik. Lantas, bagaimana kita menyikapi fenomena nikah siri? Terlebih nikah siri pun rupanya memberikan dampak kerugian bagi kaum wanita dan anak yang dilahirkan. Berikut obrolan MaPi dengan seorang da’i muda yang berprofesi sebagai pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di Yayasan Al Mubarokah Cianjur, Ustadz Jejen Zaenal Muttaqin.

 Assalamualaikum Ustadz, apa yang dimaksud dengan nikah siri itu?

Wa’alaikumsalam. Nikah siri biasa juga diistilahkan dengan perkawinan siri, yang berasal dari kata “nikah” dan “siri”. Kata “siri” berasal dari bahasa Arab “sirrun” yang berarti rahasia, atau sesuatu yang disembunyikan. Melalui akar kata ini, nikah siri bisa diartikan sebagai nikah yang dirahasiakan, berbeda dengan nikah pada umumnya yang dilakukan secara terang-terangan.

Nikah siri pun sering diartikan dalam pandangan masyarakat umum sebagai:

 Pertama, nikah tanpa wali. Nikah semacam ini dilakukan secara rahasia (siri) karena wali pihak perempuan mungkin tidak setuju, atau karena menganggap sahnya nikah tanpa wali, atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan syariat.

Kedua, nikah yang sah secara agama dan atau adat istiadat, namun tidak diumumkan pada masyarakat umum, dan juga tidak dicatatkan secara resmi dalam lembaga pencatatan negara, yaitu Kantor Urusan Agama (KUA) bagi yang beragama Islam dan Kantor Catatan Sipil (KCS) bagi yang beragama non Islam. Ada pula kerena faktor biaya yang tidak mampu membiayai administrasi pencatatan. Ada juga yang disebabkan karena takut ketahuan melanggar aturan yang melarang pegawai negeri menikah lebih dari satu (poligami) tanpa seizin pengadilan, dan sebagainya.

Ketiga, nikah yang dirahasiakan karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. Misalnya karena takut menerima stigma negatif dari masyarakat yang terlanjur menganggap tabu nikah siri atau karena pertimbangan-pertimbangan lain yang akhirnya memaksa seseorang merahasiakannya.

Jika dikatakan nikah siri adalah pernikahan rahasia dengan segala alasannya seperti yang Ustadz tadi jelaskan, bagaimana kedudukan istri yang di siri, samakah dengan kedudukan istri yang dinikahi terang-terangan dan tercatat pernikahannya dalam hukum negara (KUA)?

Kalau kedudukan sebagai istri jelas sama, tapi dampak negatif akibat nikah siri akan sangat dirasakan oleh pihak perempuan, dan juga anak apabila sudah terlahir dalam pernikahan itu. Istri siri cenderung mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Anak hasil nikah siri akan sulit mendapatkan haknya, karena tidak jelas statusnya secara hukum negara. Sementara dalam perkembangan psikologis, anak hasil nikah siri akan mengalami tekanan mental. Cenderung merasa malu, sehingga perkembangannya pun menjadi tidak optimal.

Yang terakhir Ustadz, apa saran dan nasehat Ustadz bagi orang-orang yang akan melakukan nikah siri?

Ingat, nikah siri lebih banyak membawa dampak negatif dibanding dampak positifnya. Dampak negatif yang dimaksud antara lain:

  1. Istri tidak dapat menuntut suami untuk memberikan nafkah baik lahir maupun batin.
  2. Untuk hubungan keperdataan maupun tanggung jawab sebagai seorang suami sekaligus ayah terhadap anak pun tidak ada. Nasib anak hasil dari pernikahan yang dianggap nikah siri itu akan terkatung-katung. Tidak bisa sekolah karena tidak punya akta kelahiran. Sedangkan, semua sekolah saat ini mensyaratkan akta kelahiran.
  3. Dalam hal pewarisan, anak-anak yang lahir dari pernikahan siri maupun istri yang dinikahi secara siri, akan sulit untuk menuntut haknya. Hal itu karena tidak ada bukti yang menunjang tentang adanya hubungan hukum antara anak tersebut dengan bapaknya atau antara istri siri dengan suaminya tersebut. Wallohu’alam bishawab. [Eika Vio]

 —

Terbit di Majalah Percikan Iman Edisi Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s