Membaca-Mu

Tuhan, entah mengapa senja ini aku begitu puitis. Saat aku menekuk hati ini lalu menenggelamkannya dalam liang jiwa, entah bagaimana ceritanya, aku semakin tersadar, bahwa pelan aku mampu membaca-Mu kembali. Entah berapa hari aku terpenjara dalam adidaya dunia yang melenakan. Lantas adidaya itu membelai-belai wajahku, mengajakku bercengkrama kemudian membawaku kabur dalam hiruk-pikuk dunia yang –setelah kurasa- begitu fana. Dan adalah Engkau yang tiba-tiba muncul saat aku mengendus jiwaku yang sudah panas seperti kerontangnya padang pasir.

Apa yang sebenarnya terjadi pada makhluk sepertiku? Inikah yang dikata sebagai fluktuatif keimanan itu? Roda-roda esensi jiwa seakan berputar, menunduk lalu menukik sembari menggelinding. Barangkali itu pula yang terjadi pada jiwa ini. Pernah dirasa aku berjaya di puncak roda, namun lebih sering tersaruk tertindih adidaya dunia. Lantas, kembali aku merendah, membaca sukma diri. Membaca-Mu.

Kerap aku terbelenggu dalam kesibukan. Barangkali saking nikmatnya sibuk itu. Perlahan aku merangkak dan menjauh dari ketenangan batin yang berkibar ketika berjayanya roda iman. Seringkali aku bertanya dan menjawab sendiri. Pada jiwa yang bersemayam di sini. Dalam raga ini. “Nyamankah kau dalam kondisi ini?” Kerap aku menggeleng dan mengendus jiwaku baik-baik saja. Namun, dilain sisi aku berontak. Mengoyak-ngoyak dan berjingkrak marah membara. Marah pada raga, juga marah pada semua bagian diri ini yang membelengguku dari membaca-Mu. Lantas ada apa denganku? Apa aku munafik? Aku memang benci munafik. Karena Engkau pun membencinya.

Apalah makna tubuh dan jiwa ini jika aku tak mampu mengeja kehadiran-Mu, Tuhan? Ketika waktu itu merambat dan mengikat raga ini dengan nikmat-nikmat suci yang Engkau taburkan. Apalah arti dari bibir, mata, telinga, otak, juga hati yang –entah mengapa- kerap tak berkomat-kamit dalam syukur memuja-Mu.? Barangkali aku memang hina. Atau mungkin lebih hina dari anjing-anjing kudisan? Meski mereka anjing yang najis, mereka setiap waktu membaca-Mu. Aku yakin itu. Lantas, ada apa denganku?

Dan pada akhirnya, aku bisa –kembali- membaca-Mu. Setelah sekian lama aku bergoyang dalam adidaya dunia yang membuatku buta. Lebih buta dari seorang buta. Saat aku meluangkan waktu –meski sedikit- untuk meraba hadir-Mu dalam setiap hariku. Akhirnya, pelan-pelan aku mampu meraih-Mu kembali. Kemudian aku bisa bernapas dengan udara yang jernih lagi. Udara yang Engkau taburi cinta dan kebahagiaan. Berjuta kebahagiaan yang jauh lebih bahagia dibanding onggokan uang yang kusimpan di bank yang kuraih dari adidaya dunia. Kemudian, beginikah rasanya saat jiwa membaca-Mu? Mengapa aku malah melupakan nikmat ini? Kurasa aku telah membodohi diriku sendiri.

Tuhan, entah berapa banyak waktu yang telah kuhabiskan untuk berpaling dari tatap-Mu. Aku yakin berkali-kali. Bahkan lebih dari ratusan kali aku mengembara terlalu jauh, jauh sekali dari-Mu. Kemudian pada saat ini, aku telah sedemikian tersadar bahwa aku lupa membalas tatapan-Mu. Ah, memang bodohnya aku ini, mengapa pula aku baru tersadar kembali akan kehadiran-Mu? Aku yakin, semua itu karena pilihan hidupku yang tak jelas. Aku lebih sering memilih setapak jalan menjauhi-Mu daripada puluhan tapak jalan menuju-Mu. Dan kini, aku tersadar, telah begitu jauh aku menjauh dari-Mu. Maka, izinkan aku menyerahkan sisa hidupku untuk membaca-Mu kembali. Berbahagia bersama-Mu. Dalam iman yang kurangkai kembali.

taubat

 

Dalam rintih istighfar,

Jum’at, 5 April 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s