Blender

BlenderSore itu Alif sedang asyik membantu ibunya di dapur. Ini kali pertamanya diizinkan sang Bunda untuk mencuci bawang merah dan bawang putih yang sudah dikupas, cabe merah, kunyit, dan beberapa bumbu dapur. Sebelumnya, Alif belum diizinkan Bunda membantu mencucikan sayur dan bumbu-bumbu yang belum diolah karena akhirnya Alif malah jadi main air hingga pakaian basah kuyup. Tapi syukurlah, setelah Alif berusia 6 tahun, kepercayaan Bunda pada Alif mulai tumbuh. Hal itu karena Alif kian hari, kian menyelesaikan tugasnya dengan baik.

“Bun, setelah dicuci, bumbu-bumbu yang belum diolah ini mau dikemanakan?”

“Kita akan haluskan sayang, pakai blender. Kan kita mau bikin bumbu rendang kesukaan Abi.”

“Oh, iya ya. Kalau begitu, izinkan Alif membantu Bunda menghaluskannya pakai blender ya.”

“Wah Alif baik sekali, terimakasih ya Sayang. Tapi, tidak perlu. Biar sama Bunda saja ya. Soalnya ada listriknya. Alif perlu belajar dan memerhatikan dulu oke.”

“Oke Bun!”

Dengan lihai, Bunda memasukkan bahan-bahan ke dalam blender. Tak lama, listrik pun mengalir. Membuat blender mampu bekerja. Bahan-bahan yang tadi masih terlihat utuh, lambat laun kian menghilang dan kian halus. Sungguh membuat Alif terkesima.

“Bun, canggih ya blender. Bisa menghaluskan bahan-bahan yang tadinya utuh jadi cair begitu. Kok bisa begitu ya Bun?”

“Tentu saja bisa sayang. Kan di dalamnya ada lempengan pisau-pisau kecil yang berputar kencang dan menghancurkan bahan-bahannya.”

“Oh begitu ya Bun. Kalau gak dihaluskan dan dicampur begini, apa bisa bikin rendang buat Abi?”

“Tentu saja tak bisa dong sayang. Karena dengan dihancurkan seperti inilah bumbu rendang jadi terasa enaknya.”

Melalui percakapan sederhana antara Alif dan Bundanya, rupanya ada hal bermakna yang bisa kau dan aku renungkan bersama. Bukan soal bagaimana cara membuat bumbu rendang yang sedap rasanya. Sungguh, bukan itu! Namun, mengenai esensi berharga yang bisa kita ramu dari sebuah alat elektronik bernama blender.

Pernahkah terpikir, bagaimana blender mampu menghaluskan berbagai macam bumbu masakan? Atau bagaimana blender mampu membuat sayur dan buah menjadi jus kesukaan kita? Ya, tepat! Dengan energi listrik yang diubah menjadi energi gerak, lempengan pisau-pisau di dasar wadah blender akhirnya begerak, berputar kian cepat, sangat cepat. Membuat bumbu-bumbu menjadi halus, bahkan mengubah sayuran atau buah-buahan menjadi minuman yang menyehatkan.

Lantas apa hubungannya denganku? Barangkali pertanyaan itu hinggap dalam pikiranmu. Baiklah, akan kujawab. Kita ibaratkan bawang merah, bawang putih, kunyit, hingga sayuran dan buah-buahan itu adalah kerumitan masalah kita sehari-hari. Dan anggaplah blender yang di dalamnya terdapat lempengan-lempengan pisau kecil itu adalah pikiran kita. Sederhananya, setiap hari berbagai macam problema hidup itu berputar-putar dalam otak kita. Seperti berputarnya bahan-bahan dalam blender. Akan tetapi, dalam “blender” otak kita, kita dihadapkan dalam dua kondisi. Pertama, permasalahan itu menjadi halus hingga pada akhirnya akan terasa bahwa diri kita semakin dewasa menghadapi cobaan hidup. Dan kedua, permasalahan itu malah menjadi keras. Sulit sekali dihaluskan, dan membuat kita semakin terpuruk dengan keadaan.

Dari analogi tersebut, blender telah mengajarkan kita akan sikap positif thinking dalam menghadapi berbagai macam pelik kehidupan. Jadikanlah ujian-ujian hidup adalah bumbu-bumbu yang dapat menambah cita rasa kehidupan. Maka, selanjutnya Positif thinking-lah! Yakinlah, bahwa Tuhan tengah menyiapkan kedewasaan bersikap dan berpikir untukmu, untuk kita. Seperti halnya berbagai macam bahan membuat rendang yang dimasukkan ke dalam blender, maka jika tak dihaluskan, tak diolah, takkan pernah nikmat bumbu rendang itu dicicipi. Right? [Eika Vio]

Gambar diambil di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s