Penyebab Kakak dan Adik Sulit Akur

berantemOleh: Eika Vio

Sering orangtua merasa jengkel dan kesal saat buah hatinya bertengkar karena sesuatu hal yang sepele. Misalnya karena rebutan makanan, atau karena si Adik yang terlalu egois, ataupun si Kakak yang tak mau kalah. Bisa jadi, setiap hari suasana rumah akan menjadi panas karena buah hati yang dicintai tak ubahnya seperti “Tom and Jerry”, sulit sekali akur. Bila hal itu terjadi, ada baiknya kita selidiki beberapa penyebabnya berikut ini:

Pertama, karena hubungan orangtuanya sendiri.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh takkan jauh dari pohonnya, begitupun dengan anak. Jika suami atau istri kerap menunjukkan tanda-tanda tidak akur terhadap pasangannya, maka bisa jadi anak-anak akan meniru “jejak” orangtuanya sendiri. Seiring perjalanan pertumbuhannya, anak akan menganggap lumrah perilaku kekerasan dan ketidakharmonisan dari orangtuanya sendiri. Sehingga, dampaknya ia pun bisa jadi tidak akur pula pada saudara kandungnya, atau pada kawan-kawan sepermainannya.

Kedua, karena pola asuh yang salah.

Mungkin ada orangtua yang merasa lebih sayang pada anak pertamanya karena kecerdasan sang anak yang lebih menonjol ketimbang adik-adiknya. Ataupun orangtua yang lebih menyayangi anak bungsunya dibanding anak-anaknya yang lain karena anak bungsunya lebih rajin membantu pekerjaan rumah. Fenomena “anak kesayangan” seperti itu memang marak terjadi. Sekilas memang wajar. Namun, jika berlangsung terus-menerus, akan menciptakan jurang pemisah antar anak. Orangtua yang kelewat menganakemaskan salah satu buah hatinya, dikhawatirkan akan menimbulkan kecemburuan pada anak-anaknya yang lain. Anak lambat laun akan belajar perilaku ketidakadilan, hingga pengucilan dari orangtuanya. Sehingga anak akan merasa rendah diri, tidak berarti, penakut, dan pendendam. Bisa jadi anak-anak sulit akur karena pola asuh yang salah seperti ini.

Ketiga, penanaman nilai agama yang kurang

Agama adalah sesuatu yang penting. Agama mengajarkan manusia untuk saling tenggang rasa, saling mengerti, hingga saling menolong. Jika orangtua jauh dari nilai-nilai agama, maka dikhawatirkan anakpun mungkin bisa demikian. Seharusnya, penanaman mengenai nilai agama pada anak dimulai dari anak itu masih dalam kandungan. Sehingga ketika anak itu lahir, anak sudah terbiasa dekat dengan nilai-nilai kebaikan. Imbasnya, tentu saja anak akan lebih menghormati orangtuanya, hingga menghargai saudara kandungnya. Orangtua yang bijak tentulah orangtua yang mendekatkan buah hatinya pada agama. Jadi, sangat penting pendidikan agama itu diajarkan pada buah hati kita. Sepakat? []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s