Tetes Pertama

Tetes Pertama

Oleh: Eika Vio

 Hari ini aku tak pernah tahu, bagaimana bisa aku terlalu mencintai awan hitam yang berarak. Berarak bergerombol, memayungi desaku kini. Barangkali bisik-bisik gadis Jepang itu terlalu gaung menerobos gendang telingaku. Hingga aku mengamini dongeng, khayalan, atau apalah, tentang air mata langit dari mereka. Aku hanya bisa terpana ke angkasa raya. Menapak pada tanah lapang di mana dahulu kala, ia pergi juga di sini. Saat senja kala, sama seperti senja ini. Dan bukan tetes pertama.

 ***

 “Nadi…”

Lelaki cepak berkulit coklat gosong itu serentak menatapku. Ia susut peluh yang hendak terjun bebas dari keningnya. “Barangkali kau hendak istirahat sejenak? Tak capekkah?” kuteriaki sebentar, lantas kusodorkan secawan teh serbuk khas desa kami, Bojong Soang. “Aku belum capek Ningsih. Kaulah saja yang teguk. Kau butuh banyak minum agar tak dehidrasi saat dikejar Jepang.” Lelaki itu kembali memotong kayu kelapa, ia bilang untuk persediaan kemarau panjang, karena saat kemarau air bersih sulit didapat, sulit minum, dan akan sulit memotong kayu.

Ah Gunadi, entah bagaimana kisahnya engkau terlalu sibuk seperti itu? Tak hanya memotong kayu-kayu kelapa, engkau pun potong juga ayam-ayam kami dengan lihai –tanpa takut darah–. Engkau pun yang sigap himpun kami di bawah rumah panggung saat tentara Jepang menyisir Bojong Soang dengan bedil. Engkau pula yang membantu kami menyalakan minyak jarak agar gubuk kami tak gulita. Bagi kami, kau terlalu banyak jasanya.

Pernah suatu masa aku bertanya, “Mengapa engkau baik pada kami, Gunadi?” Dengan senyum lepasmu engkau jawab seperti mencandaiku, “Karena kamu bocah cantik buronan Jepang!” Saat itu, aku menganggap jawabannya hanya sebatas candaan, rayuan, dan gombalan. Lantas aku pun menganggapnya sebagai tukang guyon. Tapi, saban hari aku semakin mengerti bahwa memang gadis muda sepertiku diincar Jepang untuk dilacur, lalu dibunuh. Dan semakin mengerti pula bahwa Gunadi bukan seorang pengguyon.

 ***

 Di tanah lapang bekas lahan sawah Bapak yang terampas, entah untuk berapa kalinya aku tatap mata langit. Menengadahkan kedua tangan, berharap hujan turun dengan sangat lebat. Lalu biarkan pula aku menjamah tetes pertamanya, lebih tepatnya hidungku yang merasa tetes pertamanya. Entahlah, barangkali aku sudah tak waras, percaya pada takhayul yang entah muncul dari mana dan oleh siapa. Tapi, kini yang kurasa adalah satu, aku jatuh rindu pada Gunadi. Yang pergi bukan pada tetes pertama. Di sini.

 ***

 “Gun, ini istri dan anak bungsuku. Sragen sudah tak aman. Jadilah kami kabur ke sini. Untunglah ada famili. Tapi, jikalau aku mati, tolong jagalah istri dan bungsuku ini.” Saat itu, baru pertama kalinya aku melihat rona Bapak terlalu memelas. Barangkali ia sudah sangat kapok lagi jika kehilangan buntut-buntutnya. Buntutnya yang pertama masku, Yono, yang digantung di belakang kebun. Dan buntutnya yang kedua masku juga, Darman, yang dibedil Jepang di dekat masjid. Ah, barangkali karena itulah Bapak pindah ke Bojong Soang, desa terpencil di kawasan Bandung, untuk bersembunyi, lebih tepatnya menyembunyikanku.

“Nduk, kau tak boleh berkeliaran sembarangan seorang diri. Ketahuilah, hidung Jepang terlalu pandai untuk mendengus gadis cantik macam kamu.” Aku masih ingat betul ibuku menasehati saat menggolakkan air nira. “Jika engkau ingin pergi, pergilah bersama Gunadi, ia bisa melindungimu. Bapak yang minta ia melindungimu. Bapak mengupahnya untuk melindungi keluarga kita.”

Gunadi adalah pria antah berantah. Yang tak pernah kuketahui siapa bapak dan ibunya. Bahkan di mana ia tinggal aku pun tak pernah tahu. Yang kutahu, ia biasa tidur di atas jerami di kandang kecil tempat ayam-ayam kami bertelur. Ia tak suka jika kami izinkan ia tidur di dalam gubuk kami, ia selalu berkilah takut mengotori. Dan Gunadi lebih sering membisu tenimbang bercakap berbusa-busa. Barangkali hidupnya terlalu perih untuk diceritakan, hingga ia hanya bisa mengunci rapat semuanya. Termasuk padaku.

Pernah suatu masa aku bertanya, “Nadi, apakah kau sudah beristri?”

“Tidak. Dan takkan pernah.”

Aku terperanjat. “Mengapa?”

“Aku tak pernah terpikirkan untuk kawin. Aku takut istriku mati oleh Jepang.”

Jawabannya terlalu datar. Dan membuat semuanya kembali misterius. Tentang siapa Gunadi, mengapa ia tak ingin beristri, bahkan tentang usianya. Aku tak pernah tahu. Dan aku sulit sekali untuk tahu. Tapi, yang kutahu hanyalah satu. Ia sangat setia pada Bapak.

Aku masih ingat ketika Jepang mencium kekayaan Bapak yang lebih di atas orang-orang sekampung. Tiga orang prajurit Jepang datang mendobrak pintu rumah. Menodongkan moncong bedil pada Bapak. “Serahkan! Serahkan! Kau harus serahkan sawah dan kebunmu pada Jepang!” Tentu saja Bapak tak mau. Berulangkali Bapak melawan, berkilah, dan mencari alasan. Tak luput, Gunadi pun membantu Bapak. Gunadi menonjok perut si Jepang, menendang tulang kering betisnya. Tapi, Gunadi dibedil kakinya. Tergenanglah darah merah. Kemudian Bapak diculik Jepang. Diseret-seret seperti petani menyeret kerbau. Dan baru kutahu tiga hari kemudian bahwa Bapak telah tergantung di sawahnya sendiri.

 ***

 Aku tak pernah tahu bagaimana cara memanggil air mata langit. Barangkali air mataku sendiri bisa membuat langit terenyuh. Lantas mau berbagi air mata denganku. Kesekian kalinya setiap senja aku terduduk di tengah sawah yang menjadi rata. Sawah yang pada mulanya hijau dan basah, kini mengerontang. Tanahnya terbelah-belah. Bahkan, aku ingat betul darah Gunadi sempat mengisi celah-celah tanah ini, saat…. Ah, aku tak mau ingat itu!

 ***

 Pagi itu Gunadi tengah menyiangi rumput liar depan gubuk. Aku menghampirinya dan duduk tak jauh darinya. “Nadi, katanya hujan yang pertama kali turun dari langit dan mengenai hidungmu, maka orang yang kau cinta akan turut pula mencintaimu. Kau percaya?” Gunadi mengusap peluhnya. “Aku tak percaya pada takhayul. Aku hanya percaya pada Gusti Allah. Kau dengar dari mana takhayul itu, Ningsih?” Gunadi mengerutkan alis matanya yang tebal hitam. “Kemarin, di kantor desa, gadis-gadis Jepang membicarakan itu. Mereka terlihat meyakinkan.”

“Lantas kau percaya mitos yang tak jelas begitu?”

“Hm, bukan begitu…”

Ah Gunadi, ia tak pernah mau mengerti bagaimana gadis muda seperti macam aku ini berperasaan. Barangkali hidupnya terlalu pedih hingga tak mau sedikit peka. Atau barangkali aku terlalu bocah di matanya.

“Kita harus memikirkan bagaimana caranya melawan Jepang. Dan mengenyahkan mereka dari Indonesia. Tanah kita!” Saat itu, Gunadi begitu berapi-api. Sebelum kematian Bapak, Bapak pernah sedikit bercerita padaku. Bahwa Gunadi pernah ikut berperang melawan Jepang bersama PETA. Gunadi pernah belajar menembak, belajar bersembunyi, belajar bertahan hidup di hutan-hutan. Kata Bapak, Gunadi sudah terlatih. Bahkan, ia terlatih mengurus apapun. Menanam padi, memandikan kerbau, memanjat pohon kelapa, hingga menjahit karung goni untuk baju. “Takada waktu berleha-leha untuk pikirkan takhayul, Ningsih!” Kuingat kata-kata terakhirnya di siang hari. Sebelum ia takada lagi.

 ***

  Di sini, di lahan kosong tempat aku berdiri ini, tiga hari yang lalu, empat peluru menembus dada Gunadi. Hujan turun dengan deras saat kudapati ia sudah tersungkur bermandikan darah. Tanah kering memerah. Membasahi bakal rumput liar yang hendak tumbuh. Juga membasahi ujung sepatu si Jepang. “Kau berbahaya bagi Jepang! Kau layak dibunuh!”

Tiga hari yang lalu itu, aku tak kuasa meneteskan air mata saat tubuh Gunadi diseret dan dilemparkan ke sungai deras yang tak jauh dari sawah Bapak yang mengerontang. Aku menangis terisak-isak sembari bersembunyi dari atas bukit. Menutup mulutku agar tangisnya tak meraung masuk gendang telinga si Jepang. Tiga hari yang lalu, Gunadi telah pergi. Di sini. Tepat di mana aku terkulai.

Dan kini, aku berharap ada tetes pertama hujan menyentuh ujung hidungku. Aku percaya, dan terlalu percaya pada gadis-gadis Jepang itu. “Mana hujannya oh Tuhan? Biarkan tetes pertama air mata langit mengenai hidungku. Agar Gunadi… Gunadi…”

“Hey kau!”

Mataku melotot! Hampir copot! Saat dua Jepang berdiri tepat di belakangku. Moncong bedilnya mengarah pada kepalaku. Sangat dekat!

“Tidak! Aku tak mau dilacur oleh begundal! Tidak!”

Dua Jepang itu menyeret tanganku. Mereka tertawa-tawa. Membuatku semakin benci pada Jepang. Juga terlalu benci pada hujan. Yang tak kunjung memberikan tetes pertama.

“Gunadiiii…!!!”

  ~***~

Gambar: Di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s