Sepucuk Surat Untuk Anonim

surat

Oleh: Eika Vio*

 Kamis, 21 Januari 2010

Malam ini ada berpuluh-puluh tetes air mata yang menetes bergantian. Air mata yang nampak keruh dan agak kental. Mungkin, karena sang pemiliknya sudah terlalu sering mengucurkan air mata hingga bisa menghasilkan air mata yang sangat tragis seperti ini. Atau, bisa jadi karena ia sangat cengeng dan bermental kapuk? Ah, yang pasti malam ini aku melihat ada air mata yang terjatuh di atas meja mahoni tua. Kau tahu bagaimana tetesannya? Ketika kau melihat, tetesnya memantul bak bola tenis.  Membuyar-buyar ke sekelilingnya. Juga membias tangis itu di gelas bening yang sedikit retak. Gelasku. Dan entahlah, air mata itu membuatku kalap. Rupanya, bisa juga aku menangis sejahat ini.

Aku ingat, malam ini adikku yang terakhir, Dara, ikut menangis pula. Ia menangis mengaum seperti singa lapar. Matanya yang cacat nampak menyeramkan. Ia tidak bisa menangis lagi. Karena matanya buta. Jadilah ia menangis tanpa membuka mata. Matanya selalu terkatup. Mungkin selamanya. Aku ingat pula, malam itu dua alis mata tebal menyeringai membabi buta. Menatap elang ke arahku. Ke seorang wanita cengeng yang setiap hari bersembunyi di balik semak, lalu menangis. Aku ingat, pemilik dua alis mata tebal itu menghantam kaca dengan sapu hingga pecah berkeping-keping. Kau tahu bagaimana rupanya? Ia botak dan badannya gendut. Hobinya berkacak pinggang lalu menghembus asap cerutu. Semenjak kejadian itu, aku seperti tak pernah mengenalnya, meski adikku yang kedua, Jana, memanggilnya dengan nama ayah. Tapi, aku tak pernah mengenalnya.

***

Senin, 1 Februari 2010

“Kau, yang di sana, tersenyumlah!” Senja itu, tubuhku mengerjap. Oh, siapa dia yang berbicara? Benarkah dia berbicara padaku? Apakah dia melihatku? Oh Tuhan, dia yang berbaju merah tua itu tertatap oleh biji mataku. Rambutnya setengah ikal. Tubuhnya tinggi tegap dan berkulit putih bersih. Dua hari ini, kuketahui ia lelaki yang murah senyum dan senang menatap senja. Entahlah, dua hari ini juga aku rajin mengintainya. Oh bukan, lebih tepatnya mengintipnya. Di sini, di balik semak. Aku serius menatapnya bermain biola dengan lihai sambil mengulum bibir. Berusaha tak berkedip dan sesering mungkin menelan ludah. Berusaha kaki ini tak menginjak ranting atau daun kering. Mungkin, aku gila dan tak ada kerjaan mengintipinya. Tapi, sungguhkah senja ini ia berbicara padaku?

***

Jumat, 5 Februari 2010

Hariku selalu sama. Selalu saja memintal berpuluh-puluh benang. Ada seorang nenek tua yang mengasihani hidupku yang katanya begitu miskin. Mungkin, karena itulah aku dipekerjakan di sebuah rumah usang untuk membantunya memintal benang wol. Memang, ini pekerjaan yang sangat membosankan. Tapi, aku rela bersepeda butut ke tempat ini agar aku bisa menyeka air mataku sejenak. Oh, bukan! Bukan karena pekerjaanku yang menyenangkan. Tapi, karena ada seseorang di sana yang bisa membuatku tersenyum. Meski lagi-lagi hanya untuk senyum yang sejenak.

***

Kamis, 11 Februari 2010

Aku ingat, hari ini ibu berbadan kurus dan berambut keriting mendatangi rumah kecilku sambil marah-marah. Ia menggedor pintu seperti orang yang tak sabar ingin melahirkan. Di dalam rumah, Dara yang berusia tujuh tahun hanya bisa menangis tanpa air mata. Ia bersembunyi di kolong ranjangku yang reot. Saat itu, aku ingat Jana hanya bisa bersandar di tembok. Tubuhnya nampak lemas.

“Hanya ada dua puluh ribu rupiah?” Jana menatapku sayu. Gadis berambut lurus itu tiba-tiba menutup muka. Di remasnya dua lembar uang ditangannya dengan ganas. “Kita tak bisa membayar uang kontrakan rumah hanya dengan dua puluh ribu rupiah, Kak.” Kulihat Jana terduduk lemah di lantai. Air matanya mulai menetes. Oh, seandainya aku bisa mengatakan kata maaf, ingin sekali kuucapkan padanya. Sayangnya aku tak mampu. Aku hanya bisa memeluk tubuh adikku dengan gemetar. Berharap ibu berambut keriting itu mau hilang dulu sejenak.

***

Sabtu, 13 Februari 2010

Pagi ini, masih kuingat ayahku datang dalam kondisi mabuk. Aroma tubuhnya sungguh tidak enak. Kau tahu bagaimana aroma busuk kacang kedelai? Nah, bagiku seperti itulah aroma ayah. Sungguh tidak enak! “Beri aku uang! Beri aku uang!” Ayah berteriak-teriak. Ia setengah terkapar di sofaku yang butut. Matanya merah berkunang. “Tak ada Yah, tak ada! Uangnya sudah kami gunakan untuk membayar kontrakan.” Jana muncul dari balik pintu. Tongkatnya terdengar gemeletuk ketika melangkah.

Oh Tuhan, aku tak bisa membayangkan bagaimana Jana dibentak setiap hari oleh ayah selama aku bekerja. Ia yang paling sabar meladeni pria berkumis lebat bernama ayah. “Bohong! Kalian bohong! Kalian menyembunyikan semua uang di bawah kasur!” Ayah meracau. Ia berjalan gontai ke dalam kamar. Jana dan aku berusaha mencegahnya. Tapi, tubuhnya yang gempal itu tak kuasa kami bendung. Kami terjatuh seketika. Dan kulihat ayah menemukan uang simpanan kami. Uang lima puluh ribu rupiah yang kukumpulkan selama tiga minggu.

“Ini yang kucari. Terimakasih anakku!” Jana berteriak. Berusaha menghentikan langkah kaki itu. Tapi, kaki Jana yang polio tak bisa mengejar kencang larinya. Oh Tuhan, penderitaan apa ini? Kupeluk erat tubuh Jana. Ia bergetar hebat. Tak jauh dari sana, Dara bersembunyi di bawah meja. Wajahnya ketakutan. Aku berlari memeluknya juga. Pelukan yang sangat erat.

***

Senin, 15 Februari 2010

Semenjak pertemuan pertama dengan pria tak bernama itu, dengan pria yang pelan-pelan menentramkan hatiku, aku mulai menulis surat untuknya. Surat sederhana yang sudah kutulis dari kemarin. Sebuah surat yang memang sangat sederhana. Ya, benar-benar sangat sederhana. Karena hanya kutulis setengah halaman saja. Untuknya.

“Jangan biarkan sisi beratmu mengalahkan sisi senangmu.” Lelaki berambut setengah ikal itu tersenyum lagi. Kali ini, ada tiga bocah kecil yang berlarian disekelilingnya. Tiga bocah itu berputar-putar sambil menangkap kupu-kupu. Aku melihat pemandangan itu terlalu indah. Di sebuah taman dekat rumah usang tempatku memintal benang, kutemukan wajah teduh itu. Wajah yang segar, bercahaya dan nampak sangat ramah. Ia lelaki yang pandai mengalunkan musik dengan biolanya. Alunan suara dawainya meriak-riak masuk ke dalam telingaku. Sungguh menentramkan. Terkadang, ketika ia memainkan biola dengan tempo cepat dan melengking tinggi, aku tak kuasa menahan air mata. Dan, jadilah aku menangis pelan-pelan di balik semak. Memang cukup jauh darinya. Tapi, lagi-lagi aku mengintipnya di senja hari.

***

Rabu, 17 Februari 2010

Dara, ia sebenarnya gadis cilik yang manis. Hidungnya mancung dan ada lesung pipi di wajahnya. Bahkan, alis matanya berkumpul indah di atas kedua matanya. Sayangnya, ia tak mampu melihat betapa cantik rupa wajahnya sendiri. Aku ingat saat ibuku melahirkannya, ibu menangis menggelepar ketika melihat anak terakhirnya tak mampu membuka mata. Ia menangis mengaung-ngaung di sebuah rumah bersalin sangat sederhana di desa kami. Mungkin, karena ibu terlalu kencang menangis, Tuhan marah dan mencabut nyawanya saat itu juga. Dan masih kuingat, Jana kecil memeluk tubuh ibuku dengan sendu. Mungkin, ia sedih karena kehilangan orang yang mau menggendongnya setiap hari berangkat sekolah.

“Kak…” Dara meraba-raba tembok putih yang catnya sudah kumal. Aku menatapnya sedih saat ia beberapa kali terjatuh dan terantuk kaki meja. Aku tak tega. Buru-buru aku menghambur padanya dan memeluk tubuh kecil kurusnya. “Kak… aku lapar.” Dadaku bergemuruh kencang. Dua butir air mata yang hangat meluncur deras dari biji mataku. Aku terisak ketika tangannya yang lembut itu meraba hidung dan berusaha mengusap air mataku. “Jangan menangis lagi, Kak. Tak apa, Dara tak makan hari ini. Dara kuat meski hanya minum saja. Yang pasti, Kakak jangan menangis lagi ya.”

Oh Tuhan, mendengar kata-katanya yang tulus itu, air mataku semakin menderas. Aku tak kuasa lagi membendung air mata yang terlalu kuat. Berulang kali kukecup pipinya dan kuusap rambut lurusnya. Kuberikan isyarat dengan kedua tanganku agar ia bisa bersabar. Lalu ia mengangguk berulang kali sambil tersenyum lepas. Sebuah senyum yang terlalu tabah bagi anak seusianya.

***

Kamis, 18 Februari 2010

“Adik-adik, bukan kesulitan yang membuat kita takut. Tapi, ketakutanlah yang membuat kita sulit.” Kutatap lelaki muda itu mengelus kepala tiga bocah disampingnya  bergantian. Ya, masih tetap sama, ada senyum yang mengambang di sana. Senyum lelaki biola yang tak pernah kuketahui namanya. Bahkan, menyapanya pun aku tak sanggup. Aku merasa malu, takut, dan tak pantas menyapa orang sebahagia dia. Aku merasa hidupku sudah dikutuk. Dikutuk dengan semua penderitaan dan linang air mata.

“Jangan menangis lagi ya! Tersenyumlah selalu!” Oh Tuhan, lelaki itu benar-benar mengagetkanku. Kata-katanya seakan tengah berbincang dengan pikiranku. Ia seperti bisa menerka apa yang aku pikirkan. Ia seperti makhluk ajaib yang diturunkan Tuhan. Tapi, sebenarnya siapa dia? Siapa sebenarnya lelaki yang kerap kutemui di taman ini? Siapa sebenarnya lelaki yang diam-diam telah menyemangatiku? Dan, entah berapa senja terlewati bersamanya, namun aku tak bisa menjawabnya. Termasuk surat ini. Surat yang kugenggam ini. Masih segan rasanya kusodorkan ke hadapannya.

***

Jumat, 19 Februari 2010

Sudah tiga hari ini aku memberi makan Jana dan Dara dengan nasi dingin dan beberapa kerupuk. Tapi, anehnya mereka tak pernah mengeluh. Benar-benar tak pernah mengeluh. Kami, biasa makan bertiga bersama-sama. Kami melingkar rapat hingga lutut kami saling bersentuhan. Kami saling melempar senyum meski tak ada uang lagi untuk membayar uang kontrakan. Aku masih ingat peristiwa perampasan uang tabunganku oleh ayahku sendiri. Dan semenjak itu, untunglah ayah tak pernah kembali datang memeras kami.

Aku, Jana dan juga Dara, sebenarnya sangat merindukan ayah pulang. Kami rindu tawanya yang renyah. Kami rindu ia yang dulu menggendong tubuh kecilku keliling lapangan dengan riang. Tapi, entahlah, semenjak mengetahui Jana lahir dengan kondisi lumpuh, ayah berubah seratus persen. Apalagi, setelah mengetahui Dara terlahir dengan mata yang cacat. Ia, semakin menjadi-jadi bengisnya. Setiap hari, ia selalu membentakku. Juga membentak Jana dan Dara. Bahkan, sering kali tak pulang ke rumah. Entahlah, aku tak tahu ia pergi kemana. Yang pasti, yang kutahu, ia dulu pernah menghujat keluarganya sendiri. Dulu, ia berkata bahwa keluarganya sudah dikutuk. Karena semua anaknya cacat. Tak ada yang normal.

“Jangan menangis lagi, Kak.” Jana menghapus air mataku. “Aku dan Dara sangat bahagia memiliki kakak sebaik Kak Rana.” Ada senyum tulus yang menggeliat di sana. Di mata kedua adikku. Jana dan Dara. Lagi-lagi, meski hidupku sulit, Tuhan rupanya memang masih baik. Menganugerahiku dua adik perempuan yang berhati baja. Sangat tabah.

***

Sabtu, 20 Februari 2010

“Nah adik-adik, setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan. Jangan mengeluh dan bersedih ya. Meski adik-adik sudah tidak punya orang tua lagi, tapi masih ada Allah yang menemani. Jadi, rajin shalat ya supaya Allah menemani adik-adik terus oke!” Lelaki tak bernama itu mengucek rambut dua bocah kecil di depannya. Satu bocah terkekeh lucu. Dan satunya lagi memeluk erat sang pengucek.

“Kak, mainin biola lagi ya!” Bocah berkaos abu-abu menunjuk-nunjuk kotak biola berwarna hitam di sampingnya. Dan si lelaki Anonim itu mengangguk. Membuka kotak itu dan mulai mengalunkan nada yang syahdu. Yang suaranya mampu mengiris-ngiris hati yang sedang sedih. Sementara aku hanya bisa terduduk terdiam di balik semak. Mengintip mereka diam-diam dan kembali mengulum bibir. Lagi, dua air mata menetes hangat melewati dua pipiku. Ada hangat di sana. Senja ini, aku jadi sadar. Entah berapa shalat yang aku tinggalkan.

Dan suara biola itu masih melengking tinggi. Menukik lalu menghujam hatiku. Bertubi-tubi. Membuatku lupa dengan sepucuk surat sederhana yang tersimpan di saku baju. Yang kutulis untuknya.

***

Minggu, 21 Februari 2010

“Salat?” Jana mengernyitkan alis tebalnya. Ia menggeleng pelan. “Aku lupa bacaannya Kak. Sudah lebih sepuluh tahun aku tak salat.” Jana terduduk di kursi kami yang butut, yang benangnya sudah terburai-burai. Aku menghampiri tubuhnya. Kusodorkan sebuah buku kecil yang sengaja kubeli di pedagang emperan buku-buku bekas di desa kami. Kuberikan isyarat dengan jari-jariku pada Jana. Lalu Jana terdiam sejenak. “Kak Rana ingin diajari bacaan shalat?” Jana menatapku penuh tanya. Dan aku mengangguk mantap. “Baiklah. Kalau begitu, kita belajar bersama. Bertiga dengan Dara juga. Anak itu belum pernah shalat sekali pun.”

Ya, Jana memang beruntung. Dia setidaknya lebih cerdas diantara aku dan Dara. Gadis berusia delapan belas tahun itu sempat bersekolah hingga SMP. Ia bisa membaca dan berhitung. Tidak seperti diriku yang kata orang-orang bodoh dan mudah sekali ditipu. Memang, aku pernah mengecap bangku sekolah. Tapi, tak lama. Hanya hingga lulus SD. Selepas itu aku tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya lagi. Peninggalan masa SD-ku hanya kemampuanku menulis yang biasa-biasa saja. Juga membaca. Ya, aku bisa membaca buku. Meski tak selancar Jana. Karena tentu saja, aku hanya bisa membaca di dalam hati. Tidak seperti Jana yang bisa sambil teriak-teriak. Aku pun  tak bisa berhitung rumit-rumit. Semuanya kuserahkan pada Jana. Biar Jana saja yang mengatur keuangan keluarga. Dan biar aku yang mencari uang untuk hidup.

***

Selasa, 24 Februari 2010

Dulu, sekitar lima tahun yang lalu. Ketika usiaku dua puluh tahun, aku pernah mau dijual oleh lelaki buncit berambut kribo. Katanya, aku berwajah manis dan bisa menghasilkan banyak uang. Bodohnya aku ini, aku menurut saja diajak pergi ke rumah pelacuran. Tapi, untungnya nenek tua pemilik rumah pintal menyelamatkanku. Aku diajaknya kabur sebelum kejadian yang tak diinginkan itu terjadi. Dan akhirnya nenek itu mempekerjakanku di rumah usangnya. Pekerjaan yang memang sederhana. Tapi, setidaknya ini jalan yang baik yang disukai Tuhan daripada aku tercebur dalam kenistaan.

Dan, satu hal lagi, aku bersyukur bekerja di rumah pintal usang itu. Ya, kau pasti tahu alasannya. Karena sepulang bekerja, aku bisa mengintip lelaki itu setiap hari. Lelaki yang tak kuketahui namanya. Dan semenjak melihatnya, kupanggil ia dengan nama “Anonim.” Si Anonim yang entah mengapa pelan-pelan mengisi hati ini. Hingga aku rela menulis surat untuknya. Hanya untuknya.

“Bermain biola itu adalah pekerjaan hati. Jadi, menggeseknya pun harus dengan perasaan ya. Nah, coba bow-nya kakak ambil dulu.” Anonim menatap dua bocah yang asyik menggesekkan senar biola dengan bow. Ia tersenyum kecil ketika tangan sang bocah menjatuhkan bow itu ke tanah berumput. “Nah, seharusnya cara bermainnya begini.” Tiba-tiba Anonim mengambil bow itu. Menggesek biolanya halus, lalu ada nada tajam menukik. Seperti mengiris-iris hati. Lalu menghujam dahsyat dan meliangi kalbu. Dialah Anonim. Yang tak pernah kuketahui namanya.

***

Minggu, 28 Februari 2010

Tiga hari terakhir di bulan Februari ini, lelaki Anonim tidak kujumpai lagi. Surat ini kian kusam. Kian jelek rupanya. Senja kian termakan gelapnya malam, namun aku tak melihat sosoknya. Aku terduduk lunglai di balik semak. Mengintip berulangkali. Entahlah, aku tak mampu mendapatinya. Tiga hari ini aku tak menatapnya. Tak melihatnya. Dan aku menderita!

“Kemana Anonim?” Aku mendesah di dalam hati. Menatap jauh ke awan-awan yang berarak pelan-pelan. Sejauh mata memandang, tak ada sosoknya. Tak ada senyumnya. Tak ada nasihat-nasihatnya. Tak ada alunan biolanya. Bahkan, aku belum sempat mengetahui namanya. Bagiku, tiga hari terakhir ini seperti musim salju. Terasa dingin dan hambar. Padahal, ingin sekali aku bercerita pada Anonim bahwa kini aku sudah bisa shalat dengan baik. Aku ingin mengucapkan rasa terimakasih. Tapi, senja di akhir bulan Februari ini aku tak lagi melihatnya. Beberapa hari ini aku sudah menyiapkan sepucuk surat untuknya. Tapi, sebenarnya kemana dia? lalu, bagaimana dengan nasib surat sederhanaku ini?

***

Senin, 1 Maret 2010

Anonim benar-benar menghilang! Sudah empat hari aku menunggunya di balik semak hingga waktu maghrib tiba. Namun, ia tak kunjung datang. Surat untuknya masih terselip di balik saku bajuku. Terkulum amplop seratus rupiah yang sengaja kubeli dari warung dekat rumah. sebenarnya, ingin lekas-lekas kuserahkan surat ini. Tapi… dimana dia? Dimana si pengalun biola yang menentramkan itu?

***

Minggu, 7 Maret 2010

Sudah sepuluh hari ini semua isi buku diari kusamku terisi nama Anonim. Dan sudah sepuluh hari pula aku menungguinya di balik semak. Sepucuk surat ini masih terselip di saku baju. Lagi, setiap hari aku akan menantinya di balik semak. Menatap lembayung senja, mendengar cicit-cicit burung-burung yang hendak kembali ke sarangnya. Hanya untuknya.  Dan setiap hari pula aku tak pernah mengetahui ia pergi kemana. Mungkin, ia tak akan pernah kembali ke taman ini. Ah sudahlah, ia mungkin sudah menghilang. Pria muda itu. Yang berwajah teduh dan bertubuh tegap itu, kini sudah menghilang. Entah kemana.

Kukeluarkan sepucuk surat untuk Anonim dari saku bajuku. Kuelus pelan-pelan suratnya. Kueja dengan segenap hati sebait tulisan yang tertoreh di sampul amplop. “Untukmu, Anonim.” Kueja lagi. Lagi dan lagi. Hingga magrib berkumandang dan membuat lirih kalbu.

Suara azan kian mendayu. Memanggil-manggilku untuk segera pulang dan bersujud bersama Jana dan Dara. Aku sudah berjanji pada Tuhan, juga pada Anonim agar tak meninggalkan shalat lagi. Sebelum pergi ke rumah, kupandangi lagi sepucuk surat sederhana yang kutulis tangan sendiri. Kueja lagi dalam hati. Entahlah. Tiba-tiba saja ada air mata yang mengucur di sini. Di mata ini.

“Untukmu, Anonim. Aku tak akan pernah bosan menunggumu. Mendengar semangat-semangatmu setiap hari.” Sengaja, kusimpan surat itu di dekat semak. Dan berharap besok Anonim akan datang. Berharap ia menemukan surat ini kemudian membacanya. Juga berharap mengetahui hadirku yang selama berminggu-minggu mengintipnya di balik semak. Ini memang surat yang sangat sederhana. Yang setiap kalimat dalam suratnya diakhiri dengan tanda tanya untuknya. Aku yakin surat ini bisa berbicara. Mengganti lisanku yang mungkin akan kelu selamanya. Dan sebelum pergi, kupandang lekat surat itu sekali lagi.

“Mudah-mudahan kau besok bisa membacanya.” []

 

TAMAT

 

*Ketua FLP Jatinangor periode 2013 – 2015

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s