Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan

Oleh: Eika Vio

Masih ingatkah saat dulu kita berjumpa tak sengaja di pojok jalan dekat rumah makan bebek? Saat itu kau terlihat lunglai, masam nian wajamu. Tampaknya engkau telah dikaruniai berjuta masalah yang membuatmu tak berkutik. Ditambah saat itu langit menangis tak mau diam. Habislah kecantikan wajah engkau. Luntur sudah.

“Engkau kenapa?” Kucoba tanya dirimu. Tapi engkau tak bergeming. Masih saja engkau merunduk malu di pojok jalan dekat rumah makan bebek. Saat pertama kali kita berjumpa.

“Adakah yang bisa kubantu?” Lagi, kucoba tanya lagi. Kali ini engkau sedikit menoleh padaku. Ada semburat harapan bagiku untuk membantu engkau. Aku tersenyum segaris kecil. Kuusap kepalamu pelan-pelan.

Sejujurnya aku agak takut, baru pertama kali aku usap kepala mahkluk secantik engkau. Karena biasanya aku alergi dengan makhluk cantik seperti engkau.

Mata bulat cerahmu mengerjap saat pelan kuusap punggungmu. Ada gemetar kecil yang kurasa dari balik hangatnya tubuhmu. Lantas kupayungi engkau. Langit semakin merengak saja. Dan kubawa engkau duduk disebuah kursi besi berwarna hitam di ujung jalan. Masih ingatkah engkau?

Saat itu adalah rahasia waktu yang paling aneh. Engkau tak berucap sedikitpun padaku. Bisukah engkau? Yang kulihat hanya delik matamu yang kian gemas dan membuatku kembali tersenyum. Apalagi dikala aku menyuguhimu sepotong roti dengan suwir daging ayam , engkau semakin menggemaskan saja.

“Engkau makhluk tercantik yang pernah kulihat. Mengapa engkau berjalan seorang diri sore-sore begini?”

Saat kutanya itu, tubuhmu mendadak gemulai. Lalu engkau meliuk diantara kedua kakiku. Hangat tubuhmu membuatku gemetar tak keruan. Ah engkau, masih ingatkah kejadian itu?

Selepas itu, engkau menatapku sekejap. Sekan-akan engkau hendak mengucapkan rasa terima kasih atau semburat perasaan rindu yang terpendam atas keberuntunganmu berjumpa denganku saat sore kala itu.

Engkau merunduk seperti hendak menyalamiku. Dan menyeruak ada haru dari dalam hatiku. Secepat itukah kita berjumpa? Bahkan tanpa bertukar kartu nama? Ketika air mata langit itu mulai mengering, engkau pun beranjak pergi dari kursi besi berwarna hitam di ujung jalan. Hanya terlihat lambaian ekormu yang terlihat.

“Selamat jalan, Pus!”

***

Gambar: Di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s