Sekelumit Tentangmu

Pernikahan Eika Vio dan HD Gumilang

Tak terasa hampir setahun usia perkawinan kami–Kami menikah 9 Februari 2014. Dan selama itu pula banyak lika-liku kehidupan yang berjalan berdempetan. Bahkan ada air mata yang menganak sungai.  Di sepanjang perjalanan rumah tangga kami, ada sekelumit kisah yang membuatku banyak belajar tentang arti kehidupan. Ya, belajar sebenar-benarnya kehidupan.

***

Kami memutuskan menikah dalam kondisi ekonomi yang belum “ajeg”. Termasuk suami pada saat melamarku belumlah ia memiliki penghasilan yang mencukupi. Tapi, dengan ucap bismillah, aku menerimanya. Menerima segala konsekuensi, kelebihan, dan kekurangannya. Suamiku saat dulu melamarku bukanlah orang yang terlihat “wah”, baik secara fisik—bahkan memiliki kekurangan dalam hal pendengaran dan rekam jejak kesehatan lainnya, dari segi keshalihanpun sepertinya biasa-biasa saja, dari ekonomi bahkan terbilang tak menarik, dan dari keturunanpun ia bukanlah anak dari keluarga pejabat atau terpandang. Ia memang lelaki yang sungguh biasa-biasa saja. Tapi, ada satu motivasi terbesarku dalam menerimanya. Aku ingin menjadi bagian kesuksesannya. Tak mengapa memulai dari nol, yang pasti aku ingin membersamainya menuju berbagai kesuksesan. Ingin berjalan bersamanya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bersama-sama menjadi orang yang luar biasa. Mendampinginya. Menyokongnya. Menjadi motivatornya. Akibat motivasi itulah aku masih tetap berjaga, tak patah arang dan terus mencintainya—Hingga kini dan seterusnya.

Sebulan pasca menikah aku berhenti bekerja dan memutuskan hidup nomaden—dari rumah orangtua di Cianjur ke rumah orangtua di Rancaekek, begitu seterusnya mondar-mandir. Ongkos bensin sampai biaya makan kami pun kami hemat sehemat-hematnya.  Bulan-bulan pertama pernikahan terasa begitu sulit. Tak hanya adaptasi dengan status baru, aku pun mesti bergumul dengan tantangan dan kondisi ekonomi yang baru. Berbagai pikiran buruk sering muncul tiba-tiba—entah dari mana pikiran buruk rupa itu datangnya. Seakan-akan pikiran-pikiran itu hendak menerkam dan memberangusku dengan bengis. Sempat aku merasakan stres, terlebih saat aku berhenti beraktivitas dan hampir seratus persen mengurus rumah—kondisi kegusaran tingkat tinggi seorang aktivis super sibuk sepertiku.

Tak dipungkiri lagi sering air mata ini berlinang. Aku kerap menyendiri, murung dan mengisi hari-hari dengan kurang bergairah. Namun berusaha keras aku tepis rasa menyesal atas keputusanku menikah muda. Termasuk menepis kuat-kuat rasa menyesalku menerimanya sebagai imam dan pemimpin hidupku. Selalu dan selalu aku ingat motivasiku menerimanya. Selalu aku ingat tak pernah lupa. Bahwa aku punya visi. Punya misi.

***

Hari demi hari aku belajar menjadi seorang istri. Termasuk belajar mengenalnya. Beradaptasi dengan kebiasaan dan pola hidupnya. Juga membiasakan diri dengan keadaan. Dan darinya aku menemukan nyala yang tak pernah padam. Yakni kesungguhan. Ya, kesungguhan.

Dialah sosok yang tak berhenti bersungguh-sungguh untuk berjuang. Aku melihat tekadnya yang bulat dan kokoh untuk menjadi lebih baik. Bahkan, satu hal yang selalu membuat hatiku bergetar ialah ketulusannya yang setulus-tulusnya tulus. Tak pernah kudengar ia mengeluh dan marah-marah dengan keadaan yang serba terbatas. Aku belajar darinya tentang rasa ikhlas, optimis, dan berpikiran baik. Terlebih ia memiliki kepribadian yang hangat, pendengar yang baik, dan menyenangkan—sebuah sifat yang selalu kurindukan sebagai seorang introvert. Dan darinya pula aku belajar sikap bersyukur dan lebih dekat dengan Allah Swt.

Hampir setahun usia perkawinan kami, dan sosoknya tertoreh lekat dalam hidupku. Banyak peristiwa yang kami lalui. Termasuk saat-saat menyedihkan ketika aku kehilangan janin yang dikandung pada usia sepuluh minggu kala usia perkawinan kami menginjak sepuluh bulan. Lagi, ia yang paling pertama mengajariku untuk tetap tabah, ikhlas, dan bersyukur. Kini, aku semakin sadar, bahwa dialah yang sebenarnya menjadi motivator hidupku—sepertinya belum diriku. Dialah yang tak pernah letih membimbingku agar tak terseok, agar aku bisa lebih dewasa dalam menapaki hidup. Rupanya, niat dulu saat aku menerimanya dialah yang pertama kali mewujudkannya. Visi dan misiku menikah dengannya rupanya dialah yang pertama kali mendirikannya. Tak habis pikir, betapa ia begitu tabah dan pengertian mendampingiku yang kerap menyulitkan dan keras kepala. Maka diam-diam aku semakin mencintainya. Bersyukur memilihnya.

Tentangnya takkan pernah habis jutaan kertas untuk ditulis. Terlalu banyak kenangan. Dan semuanya selalu manis bila berlekatan dengannya. Terima kasih kekasihku. Hampir setahun ini aku yang malah belajar banyak darimu. Engkau yang rupanya lebih sangat bijak, sangat tabah, sangat penyayang, sangat pengertian, sangat setia, dan sangat mencintaiku tenimbang diriku. Sekelumit tentangmu sangat bernas, sangat merona, dan sangat hidup dalam jiwaku. Izinkan aku untuk tetap membersamaimu, beriringan denganmu hingga mata terpejam dan bernapas lagi di dimensi yang berbeda.

***

Gading Regency Bandung, 3 Februari 2015

 

 

 

2 thoughts on “Sekelumit Tentangmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s