Petang di Hutan Bambu

Hutan Bambu

Kisah ini diambil berdasarkan kejadian nyata. Ya, sebenar-benarnya nyata—di mimpiku. Entah motif apa, atau jampi-jampi seperti apa aku bisa dengan mudah mengingat detail mimpi. Meskipun tak semua mimpi bisa terekam jelas selepas bangun, tapi untuk mimpi ini rasanya aneh, teringat begitu jelas. Kemampuan yang janggal. Ada beberapa kawan yang menasihatiku untuk membuat jurnal mimpi. Awalnya kupikir terlalu merepotkan. Tapi setelah dipikir-pikir, membuat jurnal mimpi ada baiknya juga. Setidaknya dengan menulis mimpiku sendiri aku bisa menambah stok ide untuk menulis—terlebih agar aku tidak lekas pikun. Baiklah, tak perlu berlama-lama, aku akan menuturkan kisah penuh kesadisan dan mencekam ini. Semoga dalam kehidupan nyata kita tak takut menghadapi petang.

***

 Aku adalah seorang wanita dewasa. Dalam mimpiku, aku seperti seorang yang berjalan di sebuah lorong berdinding putih yang di dindingnya banyak sekali gambar yang bergerak. Aku hanya menonton. Tapi dinginnya udara, aroma sekolah tua, bahkan desau angin di hutan bambu begitu lengket terasa. Ya, dalam mimpiku aku tak terlibat apa-apa, tapi anehnya aku bisa melihat diriku sendiri dalam mimpi.

***

Sekolah itu sudah sangat tua, tapi masih terjaga dan kokoh. Dindingnya tebal dan tak rata, barangkali karena adukan kerikil dan semen yang acak-acakan. Warna dindingnya putih dan saat aku menyentuhnya terasa dingin dan sunyi—seakan-akan menyentuh pintu kematian. Di sekolah itu banyak pintu kayu yang besar-besar. Jika sengaja berjejalan dan barbaris, tampaknya enam atau delapan siswa bertubuh gempal bisa masuk sekaligus lewat pintu itu. Lorong-lorong di sekolah itu pun sangat panjang, lebar dan lantainya berkilatan—licin dan bersih. Jika aku melangkah di lantai itu, suara langkah kakiku seakan bergema kemana-mana, suasana terasa sunyi, sepi dan penuh misteri. Sebenarnya kemana orang-orang? Padahal bukannya ini waktunya sekolah?

Aku berjalan seorang diri. Sendirian. Tanpa siapapun. Rasa ingin tahuku mencuat. Aku berjalan lebih cepat. Kumasuki sebuah ruang kelas dan terdengar decit pintu kayu itu terbuka. Anehnya kelas kosong melompong. Semua kelas kosong melompong juga. Sebenarnya kemana orang-orang? Hilangkah? Atau ada alien ber-UFO yang menculik para siswa dan semua guru di sekolah ini? Atau, ini adalah sekolah hantu? Mendadak bulu kudukku berdiri, entah bagaimana ceritanya aku bisa tiba-tiba muncul di sekolah tua antah-berantah ini.

Saat aku memutuskan untuk terbangun dari mimpi, seorang lelaki setengah tua datang menghampiriku dari belakang. Langkah kakinya terdengar mantap, berwibawa, dan penuh ketegasan. Aku menoleh seketika. Dan kulihat lelaki tersenyum dengan rambut putih sebahu dan jubah kulit hitam hingga selutut tengah menghampiriku.  Singkat cerita, ia memperkenalkan diri sebagai seorang guru di sekolah ini.

***

Hampir beberapa lama aku mengobrol dengannya sembari berjalan-jalan mengitari sekolah. Ia bercerita bahwa di sekolah ini hidup seorang pembunuh berdarah dingin. Pembunuh itu sangat pandai menghipnotis orang-orang untuk mengikutinya ke suatu tempat. Biasanya sang pembunuh akan membawa beberapa siswa ke hutan bambu di belakang sekolah. Aku yang mendengar kisahnya jadi merinding sendiri. Pikiranku melayang kemana-mana. Mungkinkah sekolah ini lengang karena sang pembunuh berdarah dingin itu membantai satu persatu manusia di sini hingga habis? Lalu bagaimana denganku? Jangan-jangan akulah sasaran sang pembunuh selanjutnya.

Lelaki setengah tua berambut putih sebahu itu pun lalu mengajakku berjalan ke sebuah kelas yang kosong. Ia menunjuk pada sebuah lemari kayu. “Di sanalah kami menyembunyikan para siswa,” tuturnya. Aku kaget! Bagaimana bisa lemari yang kecil bisa muat oleh banyak siswa? Apa jangan-jangan lemari itu sudah dimantrai? Atau jangan-jangan lelaki guru itu tengah menipuku? Dalam mimpi aku tak banyak protes, semua berjalan pelan namun pasti. Dan mulailah aku terkaget-kaget saat sang guru membuka daun pintu lemari. Begitu banyak siswa yang berjejalan di sana. Sangat fantastis!

***

Seorang siswa bercerita padaku dengan raut wajah yang ketakutan. “Kami tidak bisa keluar dari sekolah ini! Kami dipenjara!” Ia berkata, bahwa tiap petang akan selalu ada yang terhipnotis oleh sang pembunuh dan digiring ke hutan bambu di belakang sekolah. Lalu suara menggelegar akan menyeruak kemana-mana. Semua siswa yang bersembunyi di balik lemari akan melenguh dan berteriak, itu tanda bahwa beberapa kawan mereka telah mati.

Dan petang ini, cerita itu terjadi lagi. Aku mengintip dan mengikuti beberapa siswa keluar dari lemari dan berjalan gontai di lorong sekolah. Jalan mereka terlihat malas, sorot mata mereka kosong, bahkan mereka terlihat seperti sudah mati dan berubah jadi zombie, namun masih segar dan tak acak-acakan.

Aku masih membuntuti mereka hingga mereka berhenti di sebuah lapang kosong di tengah hutan bambu. Lapang kosong bertanah itu hampir semua tertutupi dedaunan bambu yang jatuh mongering. Saat mereka berjalan terdengar suara srak-sruk yang menyayat hati—barangkali karena sebentar lagi akhir hidup mereka.

Aku bersembunyi di balik rumpun bambu, tak begitu jauh dari mereka. Tak lama terlihat berkelebatan bayangan hitam yang datang mendekap. Bayangnya semakin jelas. Terlihat tak asing. Langkah kaki itu, langkah kaki yang mantap itu, terlihat tak asing. Ya, rupanya dia…

DOR… DOR…!

Besi panas itu sukses menembus tubuh dan kepala para siswa. Mereka secepat kilat berjatuhan, ambruk, dan darah merah mereka mengalir kemana-mana—tak tentu arah. Dadaku berdegup terlalu kencang. Begitu sadis dan menakutkan pemandangan petang itu. Dan yang paling membuatku takut adalah sorot mata itu. Sorot mata yang begitu aku kenal. Dia lelaki berjubah hitam, sang guru. Dan kini ia menatapku seakan tengah mengintai buruan.

***

Gading Regensi Bandung, 4 Februari 2015

Gambar: di sini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s