Di Mana Aku Bisa Mencari Penggantinya?

Eika Vio

Seperti biasa, bada subuh ia langsung bergegas mandi dan bersiap pergi. Kami pergi bersama. Jikalau aku terlalu sibuk di pagi hari, ia takkan diam. Disiapkannya bekal makan siang untuk kami, disiapkannya sarapanku, bahkan jika aku tak sempat sarapan karena repot, ia akan menyuapiku. Tak malu dan tak segan. Pun jika ia tengah dirundung kesibukan, aku tak risih menyuapinya. Seperti itu, kami saling membantu. Saling memudahkan.

Lantas, di mana aku bisa mencari penggantinya?

Setiap pagi, sekitar pukul 06.30 ia mengantarku pergi ke kantor. Selepas itu ia akan menungguku di Perpustakaan Provinsi sampai jam 5 sore. Lalu menjemputku pulang. Selama menungguku ia berjibaku dengan bisnis online-nya dan membaca banyak buku. Tak pernah ia mengeluh kesal melakukan hal itu setiap hari. Dari Senin hingga Jumat. Maka, lelaki itu sungguh begitu sabar.

Lantas, di mana aku bisa mencari penggantinya?

Seringkali aku terlalu kekanakan dan keras kepala. Bahkan sering bersebrangan ide. Tapi anenya ia tak pernah marah. Ia sering berujar bahwa ia begitu malu jika harus marah-marah. Walhasil ia akan berperang melawan kesal dan marah di hatinya. Lalu ia akan kembali menyunggingkan senyum. Ia sering berkata tak ingin melukaiku. Tak ingin membuatku sedih.

Lantas, di mana aku bisa mencari penggantinya?

Aku tak pandai makan jagung rebus. Selalu tak pernah rapi dan bersih. Maka, tak pernah ia jijik menghabiskan sisa jagungku yang tak rapi. Ia pernah berujar bahwa ia senang makan sisaku. Bahkan, ia bahagia makan bersamaku. Setiap hendak makan di luar, ia tak pernah alpa menanyakan pendapatku. Jika aku tak ingin dan tak suka, ia batal bersantap di luar—meskipun makan bersamaku. Lagi, ia selalu berujar, bahwa ia ingin selalu makan apa yang aku suka dan aku pilihkan. Tak pernah ia otoriter. Ia selalu demokratis dan gemar berdiskusi denganku—hal apapun itu.

Lantas, di mana aku bisa mencari penggantinya?

Lelaki itu begitu dewasa. Sikapnya yang santun, bijak, dan berpikiran luas begitu mewarnai kehidupanku. Aku seperti kejatuhan emas dari langit bisa hidup bersamanya. Meskipun hidup kami pas-pasan dan penuh kerja keras, ia selalu pandai melukis hiasan bertabur pelangi. Yang sulit itu, entah mengapa begitu menyenangkan dan ringan rasanya.

Lantas, di mana aku bisa mencari penggantinya?

Aku ingin menua bersamanya. Tak pernah ingin mencari penggantinya. Karena ia tak bisa tergantikan.
Gading Regensi Bandung – Selasa, 10 Februari 2015

2 thoughts on “Di Mana Aku Bisa Mencari Penggantinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s