Lelaki Paruh Baya

Lelaki Paruh Baya

Oleh: Eika Vio

Anak-anak di kotaku sering menghilang. Tiba-tiba. Misterius. Mengundang banyak tanya. Ada yang berceloteh bahwa mereka—anak-anak yang polos dan masih suka ngompol di celana itu—diculik oleh manusia setengah harimau. Bahkan ada yang berseloroh bahwa para bocah ingusan di kotaku menghilang karena dimangsa peri-peri bulan. Tapi, aku tak pernah percaya bualan itu. Aku lebih percaya bahwa anak-anak di kotaku menghilang karena seorang lelaki paruh baya.

Suatu hari, aku menemukan seorang anak perempuan yang tengah duduk di kursi taman. Ia asyik menjilati lolipop pelanginya. Aku, yang pemalu ini hanya diam saja di balik semak. Menunggu gerak-gerik sang bocah perempuan itu. Aku ikuti ayunan kakinya yang lincah dan enerjik itu saat berlari-lari kecil di ujung lorong taman. Kuintip juga kelakukannya yang sangat menggemaskan, terlebih karena gaunnya yang penuh renda dengan motif kupu-kupu kecil dengan pita berwarna salem yang menjuntai. Karena aku sedang mengintainya sebab ingin menginvestigasi fenomena menghilangnya para bocah, akhirnya kudekatilah dia. Dan anehnya, saat mendekat dan kusentuh pundaknya ia tiba-tiba saja raib dari mataku. Benar-benar ganjil!
Keesokan harinya, aku berjumpa dengan seorang bocah lelaki. Ia terlihat lunglai dan murung. Karena kasihan aku dekati ia. Lalu berbincanglah kami sambil duduk di kursi taman.

“Mengapa kau bersedih, Nak?” tanyaku.
“Aku sedang sedih karena sahabatku, kemarin menghilang di sini,” jawabnya.
“Ohya? Bagaimana ciri-ciri sahabatmu itu?”
“Ia seorang gadis kecil. Penyuka lolipop dan menggunakan gaun dengan banyak renda kupu-kupu.”
“Apa??? Wah rupanya gadis kecil yang kemarin kulihat itu rupanya temanmu ya.”
“Kau kemarin melihatnya?”
“Ya, dan dia tiba-tiba menghilang saat kusentuh pundaknya.”
“Kok bisa? Aneh sekali!”
“Iya betul. Kau ingin tahu bagaimana gadis itu bisa menghilang?”
“Iya, tentu saja aku ingin tahu! Beritahu aku!”
“Baiklah. Kalau begitu genggam tanganku!”

Bocah lelaki itu menggenggam tanganku dengan erat. Bahkan sangat erat. Ia tak tampak lunglai lagi. Kali ini ada semangat yang menyala. Saking girangnya melihat sang bocah yang kini senang, maka tersenyumlah aku.

“Kuajak kau ke ujung lorong ini ya. Kemarin aku melihat ia menghilang di ujung lorong taman itu.”
“Baiklah.”

Dan di ujung lorong taman itu, anehnya sang bocah lelaki pun menghilang pula saat aku menyentuh pundaknya. Benar-benar ganjil dan menakutkan!

2 thoughts on “Lelaki Paruh Baya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s