Teuku

Teuku

Oleh: Eika Vio

Hari ini adalah hari lahirnya. Anehnya, aku masih ingat. Hingga aku tua macam ini aku tak pernah tahu di mana kini ia berada. Bagiku, lelaki itu laksana malam. Yang muncul cepat-cepat dan hilang buru-buru. Yang datang hanya sekejap mata. Yang pergi bak kilat. Ia ada, lalu beberapa menit ia tak tampak lagi, hilang. Terganti oleh debur-debur dan rintihan manusia-manusia yang tercekat di kerongkongan. Ia raib. Maka sudah sepuluh tahun ini kami tak saling jumpa. Terhitung waktu itu, saat janji suci mengikat hati kami.

***
“Sah…!”
Riuh gemuruh ucap sah itu menggema. Di sebuah mesjid sederhana di kampung kami. Ayah dan Mak menatapku haru, ada air mata yang hampir menganak sungai. Tak ada hati yang tak bakal meleleh melihat putri semata wayangnya kini sudah bersuami. Tak lagi macam gadis-gadis terdahulu yang bisa sekonyong-konyong pergi berjalan-jalan keluar rumah. Tak lagi macam perawan yang bisa bermain dengan kekawan sesuka hati. Kini, aku sudah punya pasangan jiwa. Aku sudah punya lelaki yang telah menjadi imam hidupku selamanya. Ya, selamanya. Hingga saat itu, kami mendadak berpisah. Dan tak saling tatap mesra lagi.
***
Dua gadis cilik yang kumal dan kotor bajunya duduk di sebelahku. Malu-malu. Senampan air putih dibawa oleh salah seorang dari mereka. Ia menyodorkan ke arahku dengan rasa takut setengah jijik.
“Minumlah, Mak..”
Ia memanggilku Mak. Padahal ia bukan anakku. Ya, ia bukanlah anakku. Bukan anakku dengan Teuku. Lantas siapa ia?
“Mak, mari Cut gantikan bajumu. Sudah tiga hari Mak tak mau ganti baju. Juga tak mau mandi.”
Si gadis cilik yang rambutnya dikucrit itu meraih-raih tanganku. Setengah memaksa. Aku geram dan tak sudi disentuhnya. Kudorong tubuhnya hingga ia tersungkur ke lantai butut, entah lantai butut punya siapa. Dan ini, yang kutempati ini rumah siapa? Sang kawan gadis yang dikucrit itu terperangah dan lari tunggang-langgang. Terbirit-birit sampai terkentut-kentut. Ia berteriak-teriak seperti kerasukan arwah nenek buyut.
“Mak Laras ngamuk! Mak Laras ngamuk!”
Dan si gadis kumal yang kotor bajunya dengan kucir rambut itu tak lama hilang dari pandanganku. Sebuah gelas pun pecah berkeping-keping. Sepertinya aku tak sengaja menyepak gelas itu. Barangkali geram.
***
Tampaknya aku tak ingat siapapun lagi kecuali Teuku. Lelaki dengan belah rambut tepat di tengah kepala. Yang wajahnya bulat penuh seperti roda. Yang matanya sipit sebelah dan hidungnya sedikit mancung. Yang kulitnya kecoklatan karena tersengat terus matahari laut. Ia tak tinggi, ia kurus. Dan seingatku ia lelaki yang baik.
Aku ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu. Saat suara sah itu menggema ke semua penjuru masjid. Suara sah yang membuat jiwa-jiwa sendu tiba-tiba. Lalu suara gemuruh menyeruak terdengar. Cepat. Merindinglah bulu kudukku. Membuat telingaku kalap. Pusing tak keruan. Semua tenggelam. Beserta meja renda dan taplak benang emas. Dan juga bunga-bunga kepala yang tenggelam bersama tirai mesjid beserta mukena. Dan aku tak ingat lagi.
Maka anehkah jikalau aku masih ingat hari lahir Teuku?

Ilustrasi: di sini

2 thoughts on “Teuku

  1. ah bisa aja ngajakin aku salah persepsinya..
    hahaha bodor ah.. entah apa lagi yang harus ku komentari. aku tak ingat lagi. hahahaha..

    hanya “Terbirit-birit sampai terkentut-kentut.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s