Antara Ramadhan, Fenomena Takjil Gratis, dan Perang Niat

Ilust_Takjil

Oleh: Eika Vio

Ramadhan memang bulan yang unik. Mengapa? Karena di bulan ini banyak orang mendadak berbuat lebih islami. Tak hanya sinetron-sinetron televisi yang di-make over menjadi lebih islami—dengan hijab dan baju koko yang ditonjolkan, lalu iklan yang berseliweran dikemas dengan gaya islami, pun juga fenomena bersedekah yang mendadak nge-trend.

Salah satu contoh nyata nge-trend-nya fenomena bersedekah selama Ramadhan adalah berbagi makanan pembuka puasa. Bukan menjadi pemandangan yang aneh lagi jika selama Ramadhan banyak orang membagikan hidangan takjil gratis. Entah hidangan takjil itu dari organisasi, lembaga, yayasan, perusahaan, partai politik, atau dari perorangan. Yang pasti, akan sangat mudah menemukan hidangan takjil gratis di mana-mana—di masjid, di sekolah, di kantor, di mall, sampai di pinggir jalan raya.

Fenomena berbagi hidangan takjil gratis selama Ramadhan memang patut diacungi jempol. Karena memang keuntungan yang bisa diraih lewat berbagi hidangan takjil ini begitu besar. Simak saja janji Rasulullah dalam sabda berikut ini:

“Barang siapa memberi makan berbuka orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa dan pahala orang yang berpuasa itu tidak berkurang sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).

Membagikan hidangan takjil baik berupa segelas teh manis hangat, kolak, sup buah, atau bahkan air putih rupanya bisa meraup pahala puasa orang lain tanpa mengurangi pahalanya. Coba saja bayangkan jika orang yang kita beri hidangan takjil adalah seorang yang di hari itu sudah membaca Quran 3 juz atau yang sudah bersedekah jutaan rupiah. Bayangkan juga jika kita berbagi hidangan takjil gratis selama sebulan penuh pada ratusan orang. Apalagi pahala beribadah saat Ramadhan diganjar berkali-kali lipat. Bisa-bisa kita panen pahala. Betul kan?

Membagikan hidangan takjil saat Ramadhan memang bisa menjadi ramuan ampuh untuk mengumpulkan pahala, namun sayangnya tak sedikit orang yang menyalahgunakan “kedermawanannya” untuk kepentingan tertentu. Mereka secara sadar ataupun tidak terjebak dalam teori pencitraan. Di mana kebanyakan mereka berbagi hidagangan takjil untuk membangun self image atau mem-branding organisasinya, yayasannya, atau partai politiknya. Hal itu memang sah-sah saja. Tidak dilarang. Hanya saja bisa tumbuh jadi masalah jika bersinggungan dengan niat dan keikhlasan. Bisa-bisa jatuh pada riya atau bahkan pada syirik.

Perkara niat memang urusan hati. Hanya Allah Swt dan kita sendiri yang mengetahuinya. Sehingga niat harus terus di-upgrade. Dicek. Diluruskan. Apakah masih tertuju pada Allah Swt atau sudah melenceng pada pujian dan penghargaan manusia. Yang pasti jangan nodai niat ibadah kita dengan niat duniawi. Bukankah jatuhnya kita akan merugi? Untuk lebih memantapkan niat kita, mari kita simak satu hadis Arbain yang tersohor berikut ini:

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadis di atas sudah sangat jelas dipaparkan bahwa niatlah yang kelak akan menjadi penentu. Ibarat sebuah kapal, niat adalah nakhoda—pemegang komando. Mau dibawa kemana niat ibadah kita? Atau kalau mau lebih spesifik lagi, mau digiring kemana sedekah hidangan takjil kita? Yang bisa menjawabnya tentu hanya kita sendiri.

Memperlihatkan kedermawanan pada banyak orang sebenarnya tak jadi soal. Melakukan self image atau mem-branding organisasi, yayasan, perusahaan, dan parpol juga sah-sah saja. Bahkan melakukan ibadah apapun secara terang-terangan ternyata memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaatnya adalah memotivasi orang lain agar bisa mengikuti dan kelak bisa menjadi kebiasaan. Bukankah akan terlihat lebih indah jika yang berbuat baik tak hanya kita? Jika kebaikan itu terlihat sebagai teladan, jelas bisa menjadi budaya masyarakat. Menjadi budaya massal. Ibarat kartu domino, kebaikan itu akan saling merembet. Terus dan terus meluas. Menyebar.

Sekali lagi, semua ibadah itu kembali pada niatnya. Pada tujuannya. Dan perkara niat ini lagi-lagi bukan hal yang gampang. Saking sulitnya, Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri berkata, “Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas).”

Tapi, tentu kita jangan sampai takluk dengan sulitnya memperbaiki niat. Kita perlu berjuang dengan konsisten untuk meluruskan niat. Seperti halnya petinju yang saling bersaing memperebutkan gelar juara, sama halnya pula dengan hati kita yang berperang dengan niat duniawi. Berusahalah hingga titik darah penghabisan agar niat pada Allah Swt yang menjadi pemenangnya. Sepakat? []

Gambar: di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s