Kembali Ke Jalan yang “Benar”

Aku sedang mengembara. Mencari  jalan yang “benar”. Sebenar-benarnya “benar”. Dan kini, ada celah yang terbuka lebar untuk kembali berjalan di jalan yang “benar”. Dan aku pun harus berdoa sekuat-kuatnya agar tak muncul tiba-tiba jalan yang mampu membius niat awalku—untuk kembali ke jalan yang “benar”. Ya, “benar”.

***

Jalan yang Benar

Enam kali sudah aku bekerja. Tentu bekerja di enam tempat pula. Mula-mula bekerja dari kuliah semester dua, jadi guru bimbel. Hampir dua tahun mengenyam pengalaman jadi guru bimbel, dan tentu sudah banyak murid yang kubimbing, mulai dari anak SD hingga SMA, mulai dari anak yang kalem sampai yang tak bisa diajak duduk manis. Mulai dari ngajar Matematika hingga Bahasa Sunda. Mulai dari menyiapkan soal UKK hingga Ujian Nasional. Hampir dua tahun kujalani, dan akhirnya tak kulanjutkan lagi. Alasannya karena lebih menikmati kerja di sebuah majalah.

Bekerja di sebuah majalah rupanya asyik juga. Lebih “aku banget” terlebih tak harus stay setiap hari di kantor. Entah berapa banyak narasumber yang kuhubungi dan kuwawancarai. Semua dijalani dengan enjoy, meski terkadang tulisan tak naik cetak karena tak lolos editor. Tapi tak mengapa. Selalu menyenangkan nulis sambil kuliah, lumayan juga bisa nambah-nambah uang jajan. Namun sayangnya, tak lama aku bekerja di sana, hanya setahun. Alasannya sederhana, aku anak magang.

Sambil nulis di majalah, radio pun kuembat. Sempat tiga bulan jadi reporter sebuah radio islami terkenal di Kota Bandung. Sempat pula jadi pengisi suara drama radio program Ramadhan dan meliput wara-wiri sibuknya mudik di Tol Cileunyi. Tentu sangat menyenangkan, selain karena bisa menyalurkan bakat di bidang jurnalistik, pun bisa eksis suara di radio. Meskipun lagi-lagi tak lama bekerja di sana. Hanya tiga bulan saja. Alasannya pun sama, aku anak magang.

Lepas dari majalah dan radio, aku fokus mengerjakan skripsi. Semua pikiran dan aktivitas terfokus ke sana. Motivasi terbesarku agar bisa merampungkan skripsi dan lulus cepat adalah Bali. Ya, di pertengahan 2013 aku dan teman-teman berencana pergi ke Bali, menghadiri perhelatan Munas sebuah organisasi kepenulisan islami terbesar di Indonesia. Sayangnya batal karena beberapa kendala. Salah satunya dana yang belum terkumpul sempurna. Namun untungnya, aku tak batal lulus cepat. 3,5 tahun akhirnya lulus kuliah juga.

Belum diwisuda, akhirnya aku dapat kerja. Di sebuah televisi digital di Kota Bandung. Dan ini kali pertamaku kerja benar-benar ngantor. Senin hingga Jumat. Dari jam 8 hingga 5 sore. Sempat shock culture dengan ritme bekerja ala kantoran. Mungkin karena tiga tempat kerja sebelumnya tak mewajibkanku ngantor. Tapi tak mengapa, kucoba pengalaman ngantor pertamaku ini dengan sabar dan lapang dada. Hal itu tentu karena misi terbesarku selepas dapat ijazah adalah bekerja di kantor, membuat orangtua bangga, dan tentunya hidup mandiri. Namun lagi-lagi, aku tak bisa bertahan lama bekerja, kali ini alasannya menikah dan ikut hijrah dengan suami ke kota tauco, Cianjur.

Di Cianjur  tepatnya Juni 2014 kami (aku dan suami) mulai berbisnis buku secara online. Pada mulanya pendapatan dari menjual buku secara online memang tak begitu besar, kadang naik dan turun, tergantung jumlah buku yang terjual. Namun, melihat gigihnya suami bekerja lewat bisnis, hatiku luluh juga. Padahal sebelumnya aku sering sekali mengomporinya untuk bekerja ala kantoran. Alasannya sepele, agar tak dicap pengangguran oleh keluarga besar. Aku memang selalu heran. Orang yang berbisnis kerap dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Padahal bisa jadi penghasilan para pebisnis jauh lebih besar dari orang kantoran. Ya, tepat sekali! Motivasi itu yang selalu suami tanamkan padaku. Jangan malu untuk berbisnis. Jangan malu untuk berwirausaha. Dan yang harus diingat dan dijalankan adalah sabar. Ya, sabar. Berbisnis itu perlu kesabaran.

Dan akhirnya aku memang belum bisa sabar. Pada Agustus 2014 atas tawaran seorang kawan, aku memilih bekerja di “kampus terbuka”  di salah satu Pokjar di Cianjur, mengenyampingkan bisnis buku . Di sana aku menjadi tutor mata kuliah Perencanaan Pesan dan Media. Mata kuliah yang menyenangkan dengan mahasiswa yang menyenangkan pula. Tapi sayangnya, lagi-lagi aku tak bisa lama bekerja di sana. Hanya satu semester saja (tiga bulan dalam hitungan semester di “kampus terbuka”). Kali ini alasannya lain, kurangnya transparansi dan lamanya penerimaan fee tutor.

Selepas itu aku tak bekerja. selain karena agak sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan jurusan di Cianjur, aku pun hamil. Namun, sedihnya hamilku tak lama, hanya sepuluh minggu saja. Aku keguguran. Alasannya karena janin tidak berkembang dengan baik. Sempat mengalami down dan kehilangan yang sulit terlukiskan. Untuk mengobati kesedihan, aku dan suami tinggal di rumah orangtuaku di Rancaekek.

Pascakeguguran, keinginan untuk kembali bekerja terasa kembali. Akhirnya pada Januari 2015 aku bekerja di sebuah perusahaan konsultan CSR  di Kota Bandung, sebagai creative content report. Sehari-hari aku bekerja mengedit laporan proyek CSR, menulis dokumentasi yang masuk, atau mengirim berita acara. Semua dikerjakan di belakang meja. Awalnya aku merasa nyaman dengan pekerjaan seperti ini. Terlebih karena rekan kerja yang menyenangkan dan penuh kekeluargaan. Namun lama-kelamaan, aku semakin kurang menikmati pekerjaan. Rasa ini persis sama ketika aku bekerja di kantor televisi digital. Jenuh karena terus berada di belakang meja pelan-pelan membuatku tidak betah.  Akhirnya pada Juni 2015 aku memutuskan resign. Keluarnya aku di perusahaan itu ditambah pula dengan rencana program hamil dan program pengasuhan anak. Ya, memang pada mulanya aku tak bisa bekerja kantoran lama. Alasannya sederhana, aku tak mau menitipkan pengasuhan anak pada orang lain.

Selepas resmi tak ngantor lagi, aku jadi merenung. Mengapa aku tak bisa lama bekerja? Termasuk tak bisa lama-lama bersatatus pegawai kantoran? Munginkah jiwaku sebenarnya bukan untuk menjadi karyawan? Ya, kuakui aku memang kurang suka bekerja di bawah keterikatan, baik terikat dengan waktu, atau dengan atasan. Aku senang bekerja dengan diriku sendiri. Aku menikmati bekerja sebagai tim redaksi majalah atau pengajar bimbel. Karena di sana aku bisa mengeksplorasi diri. Termasuk bisa menulis banyak-banyak. Me time untuk mengembangkan bakat menulis terasah dengan baik ketika tak ada ikatan waktu bekerja. Aku bisa bebas mengontrol waktuku. Termasuk bisa bebas menulis.

Enam kali berpengalaman bekerja di enam tempat akhirnya memberiku banyak pelajaran. Salah satunya adalah keteguhan memilih jalan yang “benar” sesuai dengan passion. Bukankah akan lebih nikmat jika menghasilkan uang dari passion yang kita geluti? Pertanyaan itu sering sekali aku dengar dan kubaca namun sangat sedikit kuresapi. Tapi kini, entah mengapa terasa terbuka lebar. Ya, aku harus menjadi diri sendiri dan berhenti menjadi orang lain. Termasuk berhenti mendengarkan keinginan-keinginan orang lain yang bersebrangan dengan keinginan hati. Pada akhirnya, aku menemukan jalan yang “benar”. Aku memang tak cocok di jalan kantoran. Tuhan rupanya inginkan aku benar-benar menjadi penulis dan pebisnis. Menjadi cita-cita yang selalu aku ingkari atau kukubur dalam-dalam karena kurang bergengsi. Dan akhirnya, semua terbuka… ya, aku mantap. Dan ini adalah jalanku yang “benar”.

Gambar: di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s