Ramadan Kedua

Eika Vio dan HD Gumilang

Ini adalah Ramadan keduaku, bersamanya, suamiku. Kami sangat bersyukur bisa bertemu dengan Ramadan lagi dan menjalaninya bersama-sama, berdua. Dan berbicara soal berdua, banyak sekali kisah yang kami alami selama Ramadan sebagai pasutri muda. Terkadang ada tawa, canda, sedih, atau kesal. Semua campur aduk menjadi rasa yang tak akan pernah bisa terlupakan. Rasa itu menambah ikatan cinta, menabur lebih banyak kasih, dan mengoles pengertian lebih dalam. Berikut kisahnya:

Pindah Rumah

Punya rumah sendiri adalah cita-cita kami, tak apa meski ngontrak. Karena kami ingin mandiri. Setelah keinginan pisah rumah dengan orangtua berkecamuk dari Januari 2015, akhirnya sebelum Ramadan, Juni 2015 kami pindah. Memang cukup lama menunggu. Alasannya satu, kami harus menabung dulu. Aku dan suami selalu enggan dan malu untuk pinjam uang atau merepotkan orangtua, akhirnya kami harus bersabar menyisihkan penghasilan dari ngantor dan berjualan buku untuk punya kontrakan. Dan yee, akhirnya kesabaran kami berbuah manis. Lewat salah satu situs jual beli online, kami menemukan rumah idaman kami. Lokasinya dekat dengan pusat Kota Bandung. Dan yang paling kusukai dengan rumah ini adalah pemandangan malam yang super romantis. Banyak kerlip lampu yang berbinar jelas dari sini. Ya, rumah kami ada di kaki gunung Manglayang. Jadi pesona malam Kota Bandung sangat indah dari sini.πŸ™‚

Salah satu nikmatnya punya rumah sendiri adalah bisa mengatur semuanya sekehendak hati kita. Dan yang paling serunya adalah bisa masak sendiri. Jika sebelumnya setiap hari dimasakin Mama, kini kami yang harus berkreasi dengan masakan. Termasuk mengatur perabotan, membayar listrik, air, serta iuran kebersihan dan keamanan komplek rumah harus diatur dengan rapi. Kami pun belajar bagaimana memanajemen keuangan. Mana dana untuk belanja dapur, belanja perlengkapan kamar mandi, beli gas, beli galon, dan masih banyak lagi. Meski cukup ruwet, tapi sungguh mengasyikan. Asli!πŸ™‚

Sebelumnya kami pernah tinggal mandiri. Kami menempati rumah kakak suami yang juga milik ibu suami di Cianjur. Namun tidak lama, hanya sekitar tiga bulan. Aku keguguran lalu pindah ke Rancaekek, ke rumah Mamaku.

Masak Bersama

Asyiknya menikah itu adalah bisa mengerjakan banyak hal bersama-sama. Makan bersama, beres-beres rumah bersama, tidur bersama *ups hehe, sampai masak bersama. Dan kami bersyukur sekali masih bisa mengerjakan berbagai aktivitas bersama-sama, berdua. Aktivitas favorit kami selain berbelanja keperluan dapur bersama adalah masak bersama. Suamiku cukup pandai memasak lho. Ia pandai membuat tumisan, membuat gorengan, hingga membuat rujak. Ia pun tak pernah enggan jika kuminta bantuan mengiris sayuran, mengulek sambal, hingga membersihkan peralatan masak dan makan. Kami bekerja sama. Jika aku sibuk memasak, ia yang akan membantu pekerjaan lainnya. Senang dan bahagia bisa bersuamikan dia. Dia yang sederhana, pengertian, juga tak pernah mengeluh. Kehadirannya membuat Ramadan ini semakin meriah, hangat, dan menyenangkan. *Terima kasih, CintaπŸ™‚

Sebenarnya masih banyak kisah lainnya. Tapi akan kuceritakan lain kali ya. Dalam kisah tersendiri. Semoga dua kisah kami di atas bisa memberikan inspirasi segar bagi pembaca. Dan semoga Ramadan ini bisa lebih berarti dan penuh kesan. See uπŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s