Orang-orang yang Pergi

Orang-orang yang Pergi

Banyak orang yang memutuskan untuk pergi. Entah itu dengan kemauan sendiri atau karena desakan kondisi dan lingkungan. Mereka pergi tanpa jejak, tanpa suara, bahkan tanpa izin terlebih dahulu. Membuat orang yang ditinggalkan jadi kehilangan dan bahkan membawa kegersangan. Sedihnya, orang-orang yang pergi ini diam-diam namun pasti telah menggiring sebagian besar keluargaku. Dan menggiring orang-orang yang lemah prinsip untuk turut pergi pula. Entah bagaimana ceritanya, orang-orang yang dulu dekat secara hati, kini mulai menjauh. Lantas pergi.

Sejatinya, pergi itu adalah untuk kembali. Karena bukankah kita sengaja diutus pergi (hidup) di dunia hanyalah untuk kembali ke alam akhirat? Ya betul, tapi bukan perihal pergi dalam artian hilangnya nyawa yang hendak aku bahas di sini, tapi pergi yang jauh lebih menyakitkan, menyedihkan, bahkan bisa sangat berbahaya dan berdampak bagi orang yang ditinggalkan.

Pergi. Ya, pergi. Pergi di sini adalah mereka yang meninggalkan atau bahkan mengenyampingkan—serta membuat remeh urusan spiritualitas ketimbang urusan materialitas. Jujur, kondisi ini membuat hatiku perih sekali. Terlebih jika kepergian itu menjangkiti orang-orang terdekatku, keluarga. Dan lagi-lagi, entah bagaimana ceritanya mereka pergi pelan-pelan.

Aku rindu saat-saat kecil dahulu. Ketika tak hanya orangtua yang mengajariku salat dan beribadah lainnya, namun juga keluarga besar yang turut andil memiliki kewajiban pula untuk membimbingku dalam hal agama. Perhatian mereka terhadap nilai spiritualitas bahkan lebih besar dibanding urusan dunia semacam pakaian, uang jajan, dan remeh-temeh lainnya. Namun, lagi-lagi entah bagaimana ceritanya, semakin bertambahnya usia, semakin besar dan dewasa, apalagi kini sudah berkeluarga, semakin langka pula mereka mengingatkan perihal nilai-nilai spiritualitas. Padahal, bukankah mengingatkan dan saling membimbing urusan agama ini tidak hanya berhenti diusia kanak-kanak saja? Bukankah mengingatkan dalam kebaikan ini harus tetap tumbuh dan menyebar hingga kita tutup usia? Dalam tulisan—yang lebih pada curhatan ini—orang-orang yang meninggalkan perbincangan akhirat dan lebih bersemangat membahas dunia inilah yang dinamakan orang-orang yang pergi. Tidak pergi secara fisik, namun pergi secara hati. Apakah kondisi ini terjadi pula pada keluargamu?

Apa yang kurasakan ini—dari dinamika perbincangan dan sikap— keluarga besar tak ubahnya fatamorgana. Terlihat menarik, namun mengecewakan, termasuk membuat kusut jiwa. Jika kami duduk bersama, berbincang di sore hari atau saat kapanpun jika bersama, pasti yang menjadi topik obrolan yang menarik adalah duniawi, entah itu obrolan harta (rumah yang bagus bahkan uang yang banyak), jabatan pekerjaan yang wah, anak, kendaraan, hingga sekelumit sub-sub keduniawian yang terkadang jika terlalu dibawa serius bisa membuat panas hati dan ujung-ujungnya jatuh pada iri. Astaghfirullah! Tak terbayang jika obrolan semacam itu didengar secara mendalam oleh orang-orang yang prinsipnya lemah, bisa-bisa ada lomba duniawi. Jatuhnya bisa pada riya dan saling memamerkan. Dan ini yang berbahaya.

Seringkali hati merasa rindu dengan obrolan-obrolan zaman kecil dahulu, tentang mengaji di masjid, bacaan salat, dan kejujuran sehari-hari. Lantas, apakah realitanya semakin dewasa kita semakin jauh pula obrolan spiritualitas itu?

Ah, kembali, aku rindu masa-masa bocah. Dimana orangtua dan keluarga selalu mengingatkan kami—para anak-anak—untuk berlaku baik dan berakhlak terpuji. Nilai-nilai yang ditanam itu pun terasa begitu positif dan memotivasi ketimbang kini—sudah dewasa dan berkeluarga—hanya cenderung mendengar obrolan orang-orang yang pergi. Seakan-akan setelah dewasa  urusan keimanan serta akhlak itu adalah hal yang tabu dibincangkan. Hal yang malu untuk ditanyakan atau bahkan diingatkan. Dan pada akhirnya, aku pikir jika begini terus, akan muncul benih-benih sekularisme dalam keluarga. Kemudian lahirlah sikap masa bodoh dengan urusan akhirat, yang penting dia sukses di dunia, urusan apakah dia masih jujur dalam bekerja, salat, mengaji, hingga masih menutup aurat itu urusan belakangan. Innalillahi!

Entah bagaimana ceritanya, kini orang-orang—termasuk keluarga besarku dan suami—lebih mengistimewakan dan menghormati orang-orang yang banyak hartanya dan sukses karirnya. Sebuah kondisi yang membuat miris dan meringis. Dunia begitu diagung-agungkan dan dipuja-puji. Namun sedihnya, urusan akhlak, kejujuran, kesederhanaan, serta nilai-nilai spiritualitas dinomor akhirkan. Atau bahkan dan enggan dibincangkan. Padahal, bukankah urusan akhirat jauh lebih penting dibanding dunia? Dan bukankah tujuan hidup kita adalah akhirat? Memang betul, urusan dunia penting pula kita perjuangkan, tapi kembali, bukan segalanya. Dan sangat tidak patut pula untuk dibangga-banggakan dan jadi bahan banding-membanding. Betul kan?

Aku benar-benar rindu masa kecil itu. Dan selalu berharap meski kini sudah dewasa dan berbaur dengan orang-orang yang dewasa pula, perbincangan seputar keimanan, ibadah, ataupun akhlak bisa terus mengalir. Karena bukankah mengingatkan sesama muslim itu tak mengenal batas usia? Dan bukankah akan terasa indah dan lebih menyejukkan jika obrolan-obrolan semacam itu jauh lebih banyak porsinya dibanding membahas dunia?

Ya, dunia tidak akan dibawa mati. Dan terus membahas dunia itu begitu melelahkan. Semakin kita terjerumus membahas dan mengejar-ngejar dunia, jelas kita akan semakin haus. Hingga pada akhirnya semakin lupa dengan bekal menuju masa kekekalan. Bukankah begitu sejatinya?

Aku selalu berharap orang-orang yang pergi itu mau kembali. Ya, sebenar-benarnya kembali. Kami duduk bersama. Saling menasehat-nasehati dengan santun perihal ibadah, kejujuran, akhlak, kesederhanaan, hingga keimanan. Alangkah indahnya jika demikian. Dan sungguh, impian ini akan tetap menjadi mimpi jika kita hanya diam dan tidak bisa menjadi penyebar virus perubahan. Ya, termasuk diriku. Ini nasihat pula untuk diriku sendiri. Betapa tugas dakwah ini begitu banyak serta berat. Namun, jika kita bersama, kita belajar sedikit demi sedikit meluruskan pola pikir keluarga kita, Insya Allah, perbaikan nilai-nilai spiritualitas keluarga akan semakin baik. Dan kelak, pada akhirnya, budaya buruk seperti ini serta orang-orang yang pergi, tak ada lagi di keluarga kita. Mudah-mudahan.[]

Rancaekek, 15 November 2015

Gambar: di sini 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s